Rabu, 30 Agustus 2023

Kagum Enterpreneur Gen Z di Event Sekolah

     Menciptakan jiwa enterpeuneur atau wira usaha pada Gen Z memang tidak mudah. Salah satunya belajar langsung saat mengadakan event di sekolah

by Nur Ida Zed


Puan-dokpri


     Masa sekolah merupakan saat yang paling indah. Selain rutinitas belajar di kelas dan kegiatan ekstra kurikuler yang cukup menyita waktu, banyak event yang sering diadakan untuk menambah skill leadership siswa dan cara kerja team work agar melatih anak untuk saling mendukung dan menuangkan ide kreatif bersama teman-temannya. Tak main-main, kadang event ini sudah selayaknya acara besar yang spektakuler dengan melibatkan pihak lain seperti sponsorship untuk masalah anggaran. Terang saja, karena pada saat closing atau penutupan di acara tahunan biasanya menyelenggarakan semacam konser musik dan pergelaran dari para siswa berbakat serta mengundang artis ternama. 


                                            Opening HSC-dokpri

     Tahun lalu ada Raisa, Summer Rain, Djarah, Rifqi FTR dan tahun sebelumnya Vieratelle. Alhamdulillah sukses dan bisa membuat semua penonton, yang sebagian besar Gen Z serta para undangan termasuk para ibu yang datang ikut senang dan merasa terhibur. Semua seolah ikut terhanyut dalam suasana konser musik di area sekolah dari siang hingga malam hampir larut.

     "Mam, ada gak yang mau bantuin sponsor buat HSC tahun ini ?" begitu kata Puan, putri saya seraya mengirimkan berkas siang itu. Dia masuk kepanitiaan HSC atau High School Celebration yang menjadi event tahunan di SMAnya itu, seperti tahun lalu. Meski di kepanitiaan memilih bagian dekorasi, tapi juga sering rapat dengan bagian lain, termasuk tim sporsorship, bazaar dan dana usaha atau danus. Dulu sewaktu SMP juga ada, namanya Forca, dan dia termasuk dalam kepanitiaan juga sehingga sudah tidak asing lagi dengan event kegiatan dan acara seperti ini. ( Tulus di Closing Forca 5.0

     Tahun lalu sponsor utama dari Teh Pucuk Harum, tahun ini sepertinya sudah masuk Bank BRI dan beberapa vendor lagi.Yang jelas, anak-anak, para panitia ini selalu semangat bergerilya mencari tambahan dana di sela kewajiban belajar untuk mensukseskan acara mereka. Kebetulan beberapa waktu lalu, tepatnya minggu terakhir Agustus 2023 sudah dilakukan opening dan beberapa turnamen kegiatan olah raga seperti Basket, Futsal dan E-Sport (Mobile Lagend) yang diikuti para delegasi sekitar 39 SMU se Jabodetabek sudah mulai diselenggarakan di setiap weekend,  sedangkan rencananya untuk closing celebation akan digelar awal Oktober ini, sebagai puncak acara HSC 2023.


Bazaar HSC- dokpri

      Karena itulah beberapa tim danus-dana usaha juga lebih giat berupaya menawarkan produk andalan untuk dijual di bazaar yang disediakan serta membuka sistim PO alias pre order. Tak hanya berbagai marchendise seperti T-Shirt, topi, handuk, kipas, payung, tote bag dan gantungan kunci tapi juga berupa makanan, cemilan dan pernak-pernik lainnya.


Enterpreneur Muda

     Kemarin ini, di grup para orang tua juga di share beberapa info untuk PO yang dapat diambil saat nonton lomba di setiap akhir minggu, yakni hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Ada beberapa makanan yang dibuat sendiri, cemilan dan minuman yang dikemas dengan label HSC, ada juga dari beberpa vendor yang mau bekerjasama. 


                                                            foto: dokpri

     Terus terang sih, saya kagum dengan aktivitas mereka, para siswa, Gen Z ini. Dari muda mereka sudah mengenal dunia enterpreneur bahkan terjun langsung di dalamnya. Tentu hal yang tidak mudah karena harus tetap fokus pada tugas utama sebagai pelajar, yakni harus belajar dan tetap menyiapkan tugas dan ulangan. Dan ilmu ini pasti akan memberikan plus value, terutama bagi mereka yang terlibat dalam kepanitiaan.

     Sebagaimana seorang enterpreneur, awalnya tentu memikirkan tema tahunan yang akan diusung, lalu membagi tugas untuk berbagai devisi yang dibutuhkan. Kemudian memikirkan anggaran dan berbgai promosi yang harus dilakukan. Harus berani mencari solusi dan memutuskan hal terbaik ketika menghadapi banyak kendala di depan. 

     Belajar melobi dengan klien, bekerjasama dengan vendor, menciptakan suasana nyaman untuk para pihak yang terlibat selayaknya enterpreneur muda yang dapat menjadi bekal ketika kelak menjemput masa depan di dunia kerja dan bisnis. Tim work yang solid dan kekompakan pada masing-masing devisi yang harus dijaga, saling mengisi dan mendukung ketika salah satu berhalangan agar event tetap berjalan sesuai rencana. 

     Memang jiwa enterpreneur atau wira usaha ini hendaknya ditumbuhkan pada generasi muda, termasuk para siswa yang memiliki kesempatan untuk terlibat di dalamnya. Apalagi di era literasi digital seperti sekarang ini, begitu banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendulang cuan. Selain membuat mereka makin kreatif dan selektif memilih kegiatan bermakna, mereka juga perlu mengetahui bagaimana cara berbisnis menghasilkan uang dan melakukan investasi buat masa depannya. Tak heran, bila sekarang ini begitu banyak enterpreneur muda yang keahliannya patut dipertimbangkan dan sudah menjadi kaya di usianya. Anak muda lebih bisa berekspresi, selalu optimis dan berpikiran terbuka, ulet dalam berkompetisi, gampang cari relasi serta mudah bernegosiasi.  Yang penting dari semua itu dilakukan dengan kejujuran hati, akhlak yang terpuji, serta tetap di jalur yang benar.

      Salam sehat dan selalu semangat.**NZ  

              

Senin, 28 Agustus 2023

Jangan Takut Tak Sempurna

     Benar adanya bahwa tak ada manusia yang sempurna. Tapi ketidak sempurnaan itu dapat menjadi kekuatan ketika kita yakin dengan diri sendiri dan selalu mensyukurinya. 

by Nur Ida Zed


                                            foto: istimewa

     Saat ini siapa yang tak mengenal nama Putri Ariani. Beberapa waktu yang lalu, ketika penyanyi muda dari Bantul, Yogyakarta itu sempat menggebrak dan viral lewat penampilannya di ajang pencarian bakat American's Got Talent dengan mendapatkan golden buzzer dari Simon Cowell, sang juri yang terkenal killer, kemudian melambunglah karyanya Loneliness dengan suara emasnya yang memukau itu. Semua orang seolah terhipnotis ketika menikmati penampilan dan mendengarkan suara merdunya. Sampai Bapak Presiden Jokowi mengundangnya untuk tampil menyanyi di Istana Negara, begitupun saat upacara kemerdekaan kemarin. Putri, gadis cantik berbakat itu mengajarkan pada kita semua bahwa tak ada yang tak mungkin ketika kita mau berusaha dalam meraih cita-cita.

     Selain prestasi yang membanggakan itu, saya juga kagum terhadap rasa percaya dirinya. Betapa tidak? Di setiap kesempatan tampil untuk perform menyanyi maupun wawancara di beberapa podcast, dia tidak pernah menyembunyikan jati dirinya yang seorang tuna netra. Begitu tampil dengan dirinya tanpa menggunakan kacamata yang biasanya kerap dipakai orang lain untuk menutupi kekurangannya itu. Bahkan seringkali membuat terpana manakala selalu menunjukkan sikap ceria yang tak ingin diperlakukan istimewa karena kondisinya. Selalu semangat, penuh optimis dan fokus pada tujuannya di dunia tarik suara hingga kelak menjadi seorang diva. 

     "Putri cuma mau bilang, we are able, we are capable, we are equal. Karena kita mampu, kita bisa, kita sama. Nggak ada lagi diskriminasi karena berdasar stereotipe itu tadi, " terang Putri yang ingin menjadi Stevie Wonder Indonesia. 


Perfect Imperfect

     Ya. Ketika seseorang telah menyadari dan mengenali dirinya dengan apapun kondisi dan keadaan yang dimiliki, rasanya memang tak ada yang perlu ditutupi. Mengenal dalam arti mengerti semua kelebihan yang ada pada diri kita serta memahami segala kekurangan yang menyertainya. Tak ada manusia yang sempurna, no body's perfect, karena yang kita miliki saat ini merupakan satu  paket komplit yang diciptakan oleh Tuhan dengan sempurna versi masing-masing.

    Seringkali yang terlihat dan melekat di dalam hati serta pikiran hanyalah kekurangan yang dimiliki, sehingga perhatian cuma fokus pada satu hal itu. Seperti teman saya yang sering mengeluh dengan bentuk tubuh dan warna kulitnya sehingga setiap hari sibuk mencari metode diet dan program mengurangi berat badan serta perawatan di berbagai salon untuk kulitnya yang sawo matang. Waktunya dihabiskan untuk mengorek tips bagaimana membentuk tubuh udeal yang kurus langsing dengan kulit putih menawan. Bahkan ia lupa bahwa kulit sawo matang yang dimiliki itu justru berkesan eksotis dengan mata indah yang dia punya.

     Banyak dari kita yang tanpa sengaja merasakan hal seperti itu, hanya memikirkan kelemahan tanpa menggali dan membanggakan kelebihan yang ada. Padahal di balik itu, setiap manusia pasti memiliki kelebihan yang kadang bisa saja tersembunyi, bahkan tanpa disadari. Tak hanya yang terlihat oleh mata, tapi juga apa yang dirasa, termasuk kebaikan dan ketulusan hati, kepandaian bersosialisasi dan rasa empati. 

     Adakalanya kita hanya melihat kelebihan orang lain dari satu sudut pandang, lalu membandingkan dengan diri sendiri tanpa memahami keadaan yang sebenarnya, sehingga yang dirasakan hanyalah kekurangan semata.  Padahal segala yang diberikan oleh Tuhan haruslah disyukuri sebagai nikmat dan karunia yang patut disayangi dan dijaga.


Tak Perlu Kecewa, Jangan Takut Tak Sempurna

     Ketika mendapati satu kekurangan dalam diri kita, tak perlu  merasa kecewa. Mari belajar untuk bisa menerima apa yang sudah kita punya tanpa mengeluh dan berputus asa. Karena Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang terhormat dan mulia, dalam bentuk yang teramat baik. Diberi akal dan hati sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkanNya, agar mampu berfikir dan berbudaya.

     Jangan takut tak sempurna, sebab kelemahan dan kelebihan selalu bersanding pada setiap manusia, sehebat apapun dia. Hanya bedanya dia mampu menutupi dengan memaksimalkan potensi yang ada. Ketidak sempurnaan bisa menjadi kekuatan ketika telah menemukan fitrahNya. Saya selalu berpegang pada apapun keadaan yang dititipkan oleh Allah SWT hanya patut diterima dengan rasa syukur semata. Sebab siapapun kita adalah sama di hadapanNya.

     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ


Sabtu, 19 Agustus 2023

Buku Mantra Bahagia, Ungkapan 22 Penulis Perempuan Termasuk Saya

     Bahagia itu hanya dapat dirasakan. Percayalah, setiap orang berhak bahagia. Di buku Mantra Bahagia ini 22 penulis perempuan mengungkap kebahagiaan sesuai versinya, termasuk saya.

by Nur Ida Zed


                                                        foto: dokpri @nuridazed

     Banyak hal yang bisa ditulis mengenai rasa bahagia, terutama pada seorang perempuan. Kebahagiaan lahir dan batin tentu menjadi salah satu tujuan hidup yang selalu ingin dcapai oleh semua orang, bahkan menjadi harapan dan impian. Entah apa yang dapat dilakukan untuk mencapai dan meraih satu rasa ini, hingga membuat kita memiliki diri sendiri, merasa dihargai dan mencintai apapun yang kita punyai. 

     Ya. Banyak sudah teori yang mengungkap soal bahagia, atau kebahagiaan yang seringkali disajikan pada bermacam makalah, berbagai seminar dan juga buku. Kali ini tak hanya membaca, tapi saya juga ingin sharing pengalaman dengan apa yang saya alami mengenai bahagia yang saya rasakan di Buku Mantra Bahagia ini. 

     Saya percaya setiap orang pasti memiliki goal of life sendiri-sendiri tentang rasa bahagia ini. Ada yang dipengaruhi oleh waktu dan kesempatan, berkaitan dengan moment tertentu dan tempat kejadian, bahkan suasana hati, lingkungan sekitar, keluarga dan teman-teman. 

     Bahagia ketika bisa dengan ikhlas dan rela memaafkan, bagi yang terbelenggu dengan masa lalu yang kelam dan banyak diliputi kesalahan. Bahagia saat melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan, merupakan tahapan yang tak mudah bagi orang yang tak pernah lelah memberikan rasa bahagia pada orang yang paling dicintainya. Bahagia manakala diberikan harapan lagi ketika telah begitu lama berikhtiar untuk mendapatkan keturunan, juga terlepas dari sakit kronis yang harus dilawan. 

     Bagi jiwa sukarelawan, makna bahagia itu lebih dari saat bisa mengabdi dan memberikan upayanya untuk membantu sesama, dengan segala resiko yang kadang harus dihadapi, meski meninggalkan keluarga sendiri. Sepercik bahagia adalah pemantik rasa yang akan memberikan dampak besar bagi kebahagiaan lain dan kebaikan yang positif pada semesta raya.


22 Penulis Perempuan

      Diterbitkan oleh Dandelion Publisher, pada Januari 2021, buku yang memiliki 168 halaman seharga 80.000 rupiah ini memang awalnya didedikasikan untuk mengingat Hari Ibu dengan menyajikan versi bahagia dari 22 penulis perempuan. Peran perempuan yang memiliki arti penting dalam menciptakan kebahagiaan dan menularkan vibe positif ini kepada semua orang.

Foto: dokpri @nuridazed

    

     Buku Mantra Bahagia ini merupakan ungkapan rasa bahagia dan bagaimana memaknai satu kebahagiaan oleh para penulis perempuan dari berbagai latar belakang, termasuk saya. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi bahkan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan mengenai kebahagiaan dan menemukan sumbernya. Ternyata tak hanya sekedar sebagai suatu emosi semata, tapi terkait dengan hubungan, interaksi sosial, status pernikahan, kesehatan dan pekerjaan Juga termasuk dengan kebebasan, demokrasi, rasa optimis, keterkaitan religius, penghasilan serta kedekatan dengan orang-orang bahagia lain.

       Bahagia akan muncul ketika kita sudah mengenali diri sendiri, memiliki porsi untuk menempatkan rasa bahagia itu sendiri. Bayangkan ketika tidak bahagia, apapun yang dilakukan akan menjadi tekanan dan beban yang justru akan merusak apa yang diinginkan.

    Pada intinya bahagia itu ada di sini, di dalam hati ini, dan hanya kita yang dapat menentukan takarannya. Apa yang bisa membuatmu bahagia? Coba jawab pertanyaan itu dulu. Ketika menulis atau ngeblog akan muncul energi positif yang memberikan rasa bahagia, atau memasak, traveling, melukis dan bernyanyi.   

                                                            Foto: dokpri @ednuridaz

     Oh ya, siapa yang bisa membuatmu bahagia? Support sistem dan rasa syukur kepada Allah SWT. Bahwa kata bahagia itu tak hanya bisa diraih, tapi diciptakan lewat hati yang bersih dan pola pikir serta cara pandang yang positif. Bahagia itu sederhana, begitulah mantranya.

      Salam sehat dan selalu semangat.***NZ 

Minggu, 13 Agustus 2023

Diary Ketika Anak Masih TK

     Di dalam buku diary kita bisa menuang banyak cerita. Bertahun lalu, saya sempat menulis Setengah Sebelas di buku harian hingga menjadi sebuah karya.


                                            Foto: dokpri @nuridazed


     Ini memang tentang waktu, yang saya lalui hingga setiap setengah sebelas di sepanjang hari itu. Ketika saya lebih banyak menuang kisah di saat harus menunjukkan kepandaian multitasking dengan bekerja sambil menunggu anak yang masih TK. Meski agak keteteran juga, seringkali saya sempatkan waktu barang sehari saja setiap minggunya agar bisa menemani buah hati ketika sekolah di Taman-Kanak-Kanak itu. Rela menambah jam lembur karena paginya ijin absen untuk datang sehabis dhuhur, agar bisa bersama mereka. Atau paling tidak menyelesaikan tugas sambil menunggu di parkiran supaya dapat melihat binar kegembiraan di matanya ketika bubaran sekolah dan dijemput mama. 

     Atau ketika sekolah mengadakan acara khusus, seperti jalan-jalan, kunjungan ke suatu tempat tertentu dan lomba-lomba, saya ingin membersamainya agar melekat di memori si kecil bahwa mama selalu ada untuknya. Pemred saya waktu itu sudah faham betul jika redakturnya ini memiliki anak kecil yang sesekali butuh didampingi, sehingga memaklumi situasinya asal tugas dan kewajiban beres semua.   


                                            Foto: dokpro @nuridazed


     Ya. Lalu saya mulai menikmatinya. Bukan hanya karena sempat meluangkan waktu mendampingi tumbuh kembang anak di masa usia emas, tapi rupanya juga banyak banget yang didapat, termasuk pengalaman dan berbagai insight baru yang kemudian bisa menambah goresan di buku harian saya. Bermacam cerita yang dapat menjadi pelajaran dalam menghadapi kehidupan nyata. Termasuk sepenggal kisah mengenai serial Anak-Anak Mama.


Cerita Tentang Baruna

     Namanya Baruna. Kulitnya sedikit gelap, berambut ikal dan punya tahi lalat di dagunya. Ia anak yang sehat dan lucu, sebenarnya, hal ini dapat dilihat dari penampilannya yang terkesan bersih dan rapi. Ciri lain yang ia miliki: mata sipit dengan kuping caplang. Seperti anak seusianya, lelaki kecil yang seharusnya duduk di kelas A tapi masih kerasan tinggal di Play Grup ini senang bermain juga. Yang membedakan barangkali ia lebih ekspresif, bahkan terkesan hiperaktif, frontal dan seenaknya. Seringkali ia selalu membuat ulah dengan mengusili teman-temannya. Suatu hari Puan, anak perempuanku pernah juga menjadi sasaran keisengannya, hingga sempat menangis gara-gara sepatunya disembunyikan oleh Baruna. Di sekolah ini sepatu memang harus dilepas saat anak memasuki kelas. Diletakkan di loker sepatu yang berderet di depan kelas yang sengaja dibuat terbuka dengan nama masing-masing.

     "Waktu turun main tadi masih ada," begitu kata gadis kecilku saat ditanya wali kelasnya. Namun ketika sekolah usai, ia tak menemukan sepatu kesayangannya itu di tempatnya. Dicari kemana-mana tidak ketemu, rupanya disembunyikan di toilet guru oleh Baruna. Penjaga sekolah mengatakan tadi melihat lelaki kecil itu keluar sendirian dari toilet guru dengan terburu-buru. Dan besoknya saat ditanya, ia hanya tertawa seraya  menjawab: Lupa! Itulah Baruna.

    Seperti ketika ia mengerjai guru kelasnya dengan membawa ulat bulu yang disimpan di kotak makanan di dalam tasnya. Pada waktu makan bersama, anak itu kemudian menunjukkan bawaannya kepada Bu Sri, lalu melemparkan ke meja temannya sehingga suasana menjadi gaduh. Beberapa anak menjerit, bahkan ada yang sampai menangis ketakutan. Melihat semua kejadian yang dibuatnya itu, Baruna hanya tertawa. Terlihat senang dan tidak ada penyesalan sama sekali. Saat disuruh meminta maaf, diapun tidak mau.Ya. Baruna memang belum bisa diberi tahu, tak mau tau, atau lebih tepatnya agak sulit diberi tahu, apalagi dinasehati. Mungkin memang masih anak-anak yang belum mengerti bila perbuatannya itu mengganggu, bahkan bisa membahayakan orang lain.

     Juga di saat anak-anak lain sedang mendengarkan cerita guru, tiba-tiba saja ia mengacungkan sebilah pisau lipat, yang entah didapat dari mana sembari berteriak-teriak histeris. Kontan Miss Dienna yang berada di dekatnya segera meminta dengan lembut pisau di tangannya, lalu mendekap lelaki kecil itu dengan erat sekali sembari berbisik "Baruna kenapa, sayang?" Dan entah kenapa kali ini ia tidak berontak seperti biasanya, bahkan seolah menyandarkan pasrah kepala kecilnya. Ah...( Simak cerita lengkapnya di sini yaa )


Karakter Anak dan Orang Tua

     Anak-anak bagaikan permata, yang kian berkilau ketika orang tua pandai merawat dan menjaganya. Anak-anak kita yang saat itu masih muda belia, jenaka, lucu, ceria dan polos itu mulai merasakan bagaimana belajar dan bersosialisasi bersama mengembangkan dirinya. Di satu sisi, orang tua diharap jadi tambah mengerti berbagai hal yang berkaitan dengan dunia mereka, yang sebenarnya tak hanya sebatas main dan memainkan permainan saja, tapi juga butuh harmonisasi yang lebih luas lagi agar dapat membentuk karakter untuk masa depannya.

                                            Foto: dokpri @nuridazed


     Lihatlah sekilas cerita tentang Baruna yang sempat menggugah hati saya agar sesibuk apapun sebaiknya orang tua bisa meluangkan sedikit saja waktu untuk mendampingi buah hati, terutama di masa emas pertumbuhannya.  Karena ia adalah kertas putih yang akan menyimpan rapi segala goresan memori yang pernah dialami di sisi lubuk hatinya. Jangan biarkan dia terluka.

      Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

  

Rabu, 26 Juli 2023

Perempuan Perlu Waktu Sendiri

     Haii. Buat perempuan, me time itu perlu lho. Selain bisa rileks, pikiran butuh refresh supaya sehat secara fisik dan mental untuk kemudian siap bekerja dan berkarya lagi.


                                                    Foto: dokpri @nuridazed

     Ada penelitian yang mengatakan kalau kadar stres perempuan lebih rentan daripada laki-laki. Mungkin indikasi utama kaum kita, para perempuan ini lebih banyak menggunakan perasaan selain pikiran dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Ketemu apa sedikit dibawa keki, gak sesuai dengan keinginan keselnya sampai ke hati. Kebanyakan baper ( baca: bawa perasaan) katanya. 

   Selain itu, makhluk yang benama perempuan ini sepertinya diciptakan dengan bakat yang multitasking ya. Artinya dia biasa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Contohnya para ibu yang bisa berperan sebagai ibu rumah tangga, pekerja, pebisnis yang seringkali dituntut menyelesaikan segala sesuatu dalam satu waktu. Saat sedang memasak, bisa sambil menerima telepon dari klien, ngecek tukang servis AC yang datang ke rumah, memastikan urusan anak-anak beres, menyiapkan kebutuhan suami dan semacamnya. Terang saja semua itu butuh effort lebih sehingga rentan dengan stres. Karenanya, me time itu perlu.


Sendiri Sejenak

     Menurut Collins Dictionary, istilah me time atau waktu untuk diri sendiri merupakan kesempatan yang diluangkan oleh seseorang untuk diri sendiri dengan melakukan hal yang menyenangkan dirinya, tanpa intervensi dan kehadiran orang lain. Sendiri sejenak, di situ bisa merenung dan introspeksi tentang apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dikerjakan. Atau sekedar bersenang-senang saja, santai tanpa beban dan memanjakan diri untuk memunculkan hormon endoprin yang ada dalam tubuh kita.

     Di kota besar seperti Jakarta, banyak tempat yang biasa dipergunakan untuk me time ini. Sarana umum seperti mall, tempat hiburan, cafe and resto serta taman dan perpustakaan kini sudah menjamur si setiap sisi kota. Teman saya pernah cerita, jika ingin me time ia akan pergi ke mall saja karena di sana tak hanya surga belanja, tapi juga bisa ke salon yang memiliki spa, klinik kecantikan, arena yoga dan gedung bioskop yang bisa dimanfaatkan untuk melepas penat, sendiri sejenak. 

      Ah, kalau yang itu sih, me time butuh banyak cuan ya, haha. Padahal untuk me time sebenarnya tak harus selalu mengeluarkan banyak uang. Dilakukan di rumah pun juga bisa, Saya nih kalau mau me time kadang bisa melakukannya di rumah dan tidak mengeluarkan banyak biaya. Misalnya nonton serial korea atau film secara maraton di channel kesayangan Prime Video atau Netflix, kan tinggal duduk manis di depan televisi atau laptop saja. Paling ditemani cemilan atau makanan kecil yang sudah ada. Kadang juga baca buku atau novel sembari mendengarkan musik kesayangan. Begitupun ngeteh di teras sambil menikmati gemericiknya air dari kolam depan, sudah menjadi me time yang menyenangkan.

     Hal sederhana lain biasanya dengan merawat diri seperti maskeran atau creambath di rumah saja, bisa dilakukan sambil selonjoran di sofa. Bagi saya yang penting esensinya bisa menyenangkan diri sendiri dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri. Kalau perlu, sedikit waktu tanpa diganggu dengan urusan apapun, termasuk dering telepon dan notifikasi medsos sehingga jauh dari gadget alias hape. Ini penting sih agar pikiran mejadi benar-benar refresh.


Mengenali Diri Sendiri

     Di saat meluangkan waktu sendirian, di situ bisa merasakan apa yang sebenarnya kita inginkan. Makin mengerti mengenai suasana hati, dan menyadari tentang apa yang dimiliki. Manfaat me time yang bisa dirasakan adalah: lebih mengenali diri sendiri, termasuk suasana hati dan perasaan kita. Ketika sedang sendirian, yang ada di pikiran tentu bagaimana membuat hati kita bahagia dan lebih mencintai diri sendiri (self love) dengan segala kelebihan dan kekurangannya.   

    Dengan me time membuat hati menjadi lebih tenang. Setidaknya dari situ kita belajar mengerti bagaimana ketika mengalami sesuatu diluar dugaan yang membuat khawatir dan panik.    

     Sewaktu mempunyai banyak masalah atau harus menentukan pilihan, biasanya dibutuhkan waktu sendirian. Ibarat sedang menyepi, kita perlu menetapkan hati, menyendiri dan sholat istikharoh agar mendapatkan pilihan dan keputusan yang tepat.

     Me time akan membuat pikiran menjadi lebih fokus dalam melihat sesuatu. Melatih otak kita untuk memberikan mood yang baik sehingga akan memotivasi diri untuk kembali produktif dalam berkarya. Menyusun goal-goal kecil yang diniatkan untuk dicapai setiap hari. Dengan meluangkan waktu me time setiap hari, tak sekedar meningkatkan rasa percaya diri, tapi juga membatu meraih tujuan yang diinginkan. 

     Dan yang terpenting, me time mampu memunculkan rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa dengan apa yang sudah kita miliki. Ibarat jeda, ini saatnya berkaca dan merasakan kebesaran Tuhan yang telah begitu banyak diberikan kepada kita sebagai berkahNya. Biasanya sekitar tiga puluh menit saja, saya berdzikir usai sholat subuh sebagai me time yang mampu memberikan kekuatan dan semangat agar dapat kembali menghadapi hari dengan hati yang lapang dan bahagia. 

     Bagaimana me time kalian? Lakukan dengan senang hati ya, agar manfaatnya bisa terasakan.     

     Salam sehat dan selalu semangat. **NZ


 

Kamis, 20 Juli 2023

Menjaga Self Esteem Agar Tetap Positif

     Kadangkala ada yang merasa terusik ketika melihat pencapaian orang lain. Eit, tunggu dulu. Setiap manusia punya kompetensi pada porsinya ya. Jaga self esteem agar merasa tetap positif dan berdaya.


                                                Foto: dokpri @nuridazed

     Di era literasi digital sekarang ini setiap orang bisa mengintip aktivitas orang lain, setidaknya melalui media sosialnya. Meski kadang tak semua bisa terekspose, atau tak ingin diekspose, tapi tidak bisa dipungkiri bila medsos dapat menjadi sarana efektif untuk memperlihatkan perjalanan hidup seseorang termasuk pencapaiannya. Sebagai contoh kecil saja lewat aplikasi WhatsApp (WA), yang hampir setiap orang memiliki di ponselnya. Di situ ada story yang seringkali dipergunakan untuk menunjukkan aktivitas harian hingga dapat dilihat oleh orang lain di circlenya. Seperti saat jalan-jalan, makan-makan, kumpul-kumpul atau aktivitas bisnis dan pekerjaan, serta kegiatan lain yang bisa membuat banyak orang melihat bahkan mengikutinya. Begitu juga dari medsos lain seperti instagram, facebook dan yang semacamnya.

     "Wah, dia sudah sukses sekarang," begitu kata seorang teman mengomentari teman lainnya. Saat saya tanya bagimana dia bisa tahu padahal sudah lama banget tidak ketemu, teman ini bilang kalau dia mengikuti sosmednya. Setiap posting menurutnya seringkali menunjukkan indikasi kesuksesan yang bisa membuatnya terusik dan rendah diri di saat membandingkan dengan posisinya saat ini.

     Ah, sebegitunya ya. Padahal sih hal ini tak perlu terjadi ketika kita bisa menjaga self esteem positif yang akan memberikan rasa percaya diri sehingga tidak lagi merasa terusik dengan kesuksesan dan pencapaian orang lain. Self esteem yang menyangkut masalah harga diri seseorang ini memang bisa saja terganggu saat kita tidak bisa menjaganya agar tetap positif. Berbagai pengaruh dari lingkungan sekitar dapat mendominasi kendali diri sehingga akan berpengaruh terhadap sikap dan cara pandang kita kepada sesuatu hal secara obyektif.

     

     Ada beberapa cara menjaga self esteem agar tetap positif, antara lain:

     *Pahami diri sendiri karena hanya kita yang mengerti dan mengenali diri kita ini. Apa yang menjadi kelebihan kita, seperti potensi, passion, kesukaan dan semua yang bisa membuat semangat dalam menjalani hidup. Begitupun tentang kekurangan sendiri, misalnya tak suka basa basi, lebih senang menyendiri, kurang bisa berdiplomasi, sedikit pemarah dan hal lain yang kadang membuat diri kita merasa tak nyaman.

     * Fokus pada tujuan hidup, dan tak perlu mempedulikan orang lain yang kadang membully, meragukan kemampuan kita dan membuat insecure sehingga pemikiran akan terbagi. Anggap biasa saja apabila orang lain mendapatkan pencapain tertinggi dan menunjukkannya sebagai penambah motivasi. Ada kesuksesan dan kegagalan, keduanya akan datang dan pergi bagai roda yang berputar.

     * Berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, terhadap apapun yang bisa membuat hati dan pikiran tersiksa. Bahwa semua orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Bila terlihat hebat di medsos, misalnya, belum tentu tidak ada sisi buruknya, karena tak ada manusia yang sempurna. Lebih baik bersyukur dengan apapun yang dimiliki dan memberdayakan diri dengan kreatifitas dan karya.

     Perlu dipahami bahwa kesuksesan dan kehebatan tak hanya datang dalam sekejap saja, tapi pasti ada effort dan butuh perjuangan yang tidak gampang. Lebih baik gali prestasi dan kelebihan yang kita punyai. Orang lain bukanlah kita, kalau saat ini merasa biasa-biasa, saatnya perlu kerja dan usaha lebih baik lagi agar bisa makin berjaya. 

     *Ketika sudah berusaha keras dan berjuang dengan tujuan, maka belajar menerima keadaan dengan rasa syukur dan baik-baik saja. Percaya bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah yang terbaik menurut Yang Maha Kuasa sehingga tak perlu merasa cemas apalagi depresi menghadapinya.

     *Kalau mungkin, jalin relasi yang positif dengan berkolaborasi dan saling sharing dengan teman lain yang memiliki visi misi sama. Atau dengan orang yang dirasa lebih sukses agar dapat mengambil pelajaran yang baik demi kemajuan kita. Tak perlu merasa rendah diri, apalagi sakit hati karena masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan.  Jangan pelit ilmu agar berkahnya tak akan hilang dan  bisa terasakan.

   *Selalu berfikir positif terhadap segala sesuatu yang berkembang. Hindari rasa pesimis dan merasa disepelekan manakala orang lain menerima kesuksesan. Tetap jaga self esteem agar tetap positif supaya berpengaruh positif juga terhadap lingkungan sekitar.


     Self esteem terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungan. Ketika hubungan memberikan sesuatu yang menyenangkan, maka self esteem menjadi positif. Begitupun sebaliknya, ketika lingkungan memberikan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka self esteem akan menjadi negatif. Menurut Coopersmith dan Walgito, self esteem ini merupakan proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri. Self esteem yang menyangkut harga diri ini mengarah pada hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. 

     Nah, untuk menjaga self esteem agar tetap positif, sebaiknya selalu ditimbulkan dari pikiran yang positif juga ya. Tak perlu khawatir terhadap pikiran orang mengenai diri kita, serta penilaian orang lain terhadap kita. Bagaimana nih menurut teman-teman? Kalau saya sih, ambil yang menguntungkan dan bermanfaat buat diri kita, yang merugikan dibuang saja.  

     Salam sehat dan selalu semangat!***NZ




Senin, 17 Juli 2023

Anakmu Juga Sahabatmu

     Anak adalah amanah. Sejak dia dititipkan di rahimmu, lalu dilahirkan, maka bimbing dan didiklah sebisamu. Berikan yang terbaik sesuai jamannya, sebagai ibadah. 

                                                foto: dokpri @nuridazed

     Sebelum menjadi manusia dewasa, bahkan orang tua, setiap kita merupakan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya. Karena itulah ketika kemudian dipercaya menjadi orang tua, menjadi ibu dan memiliki anak, tentunya harus ada rasa tanggung jawab dan kasih sayang, setidaknya seperti yang telah kita terima dahulu. Serta memastikan anak selalu bahagia.

    Pada setiap keluarga tentunya memiliki cara masing-masing ya, untuk membuat anak bahagia. Kenapa musti bahagia, karena dari rasa bahagia ini akan menghadirkan energi positif yang dapat memantikkan keinginan baik yang dibutuhkan oleh semua anak. Bahagia anak akan hadir pada keluarga yang bahagia, terutama pada seorang ibu. Karena bahagia itu sifatnya menular ya, seringkali auranya memberikan impact pada orang-orang di sekitarnya, termasuk anak kita. Saat merasa bahagia dan sehat, anak akan bisa lebih mudah berekspresi dan bereksplorasi dengan apa yang sudah dimiliki, lebih percaya diri serta dapat menyiapkan diri untuk masa depan yang baik demi kesuksesan dalam hidupnya. 

     Membuat anak bahagia bukan tentang memberikan kesenangan dengan apapun yang diinginkan, lho, seperti membelikan barang-barang mahal kesukaan yang langsung bisa membuatnya berhenti merengek dan menangis karena merasa puas meski hanya sesaat. Tapi justru sebaliknya, memberikan kebahagiaan yang hakiki dari dalam hati, seperti perhatian dan kasih sayang tulus sehingga manfaatnya akan melekat sepanjang masa. Tak hanya dimanja dan dibekali sebongkah materi, tapi lebih kepada bagaimana kita mendidik dan membimbing mereka dengan hal yang semestinya.


Anak Juga Sahabat

     Belum lama ini saya pernah membaca sebuah buku yang menuliskan nasehat dari Ali bin Abi Thalib mengenai bagaimana mendidik anak. Di situ dituliskan bahwa didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu. Artinya sebagai orang tua, apalagi seorang ibu, hendaklah mengetahui, mengerti dan memahami dunia anak masa kini, dengan mengikuti perkembangan anak di jamannya. 

     Kalau jaman dulu mungkin hirarki antara orang tua dan anak begitu jauh terasa bedanya ya. Orang tua seolah memiliki hak otoriter terhadap anak, termasuk soal perintah boleh atau tidak boleh. Hal yang sudah diputuskan oleh orang tua yang tidak boleh ditolak dengan alasan anak harus patuh terhadap orang tua, maka bila tidak mengikuti perintah akan menjadi anak durhaka. Sehingga anak tidak punya kesempatan untuk memberikan alasan dan argumentasi jawaban yang dia yakini. Bahkan apapun yang menjadi keputusan orang tua seperti peraturan yang mengikat dan tak boleh dilanggar meski tidak sesuai dengan keinginan. Hmm, terpaksa seperti jaman Siti Nurbaya saja. Hal yang membuat anak sering menyimpan jiwa pemberontak dan cenderung balas dendam. Namun tak bisa disalahkan, karena jaman dan keadaan membuat kondisi yang demikian. 

     Walaupun gaya parenting seperti itu tidak sepenuhnya salah juga sih, tapi untuk jaman sekarang ini rasanya kurang tepat bila diterapkan. Ketika ingin memberikan nasehat atau memberitahu tentang sebuah kesalahan, tidak lagi bisa disampaikan dengan paksaan dan kekerasan. Ya, karena seringkali mereka memiliki alasan terhadap apa yang menjadi keputusannya itu sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

     

     Masih menurut Ali bin Abi Thalib, ketika mendidik anak sebaiknya diperhatikan masalah usia mereka. Dan ini bisa dibagi menjadi tiga kategori, yakni untuk anak hingga usia tujuh tahun, perlakukan anak seperti seorang raja. Penuhi apa keinginannya, berikan yang terbaik, termasuk pendidikan, kesehatan, makanan dan kebutuhan lain karena termasuk masa emas yang akan menentukan masa depannya. Anak usia ini merupakan usia yang membutuhkan perhatian khusus karena anak akan merekam dengan baik semua kejadian dan perlakuan yang dialami melalui memori terdalam yang dimiliki sehingga akan berpengaruh terhadap karakter dirinya kelak. Perlakukan dengan kelembutan dan kasih sayang maka kelak mereka akan tumbuh menjadi orang yang lembut hati dan penyayang juga, karena di tahap ini anak belajar dari melihat sikap orang tuanya.

     Kemudian ketika berusia tujuh hingga 14 tahun, perlakukan mereka seperti tawanan, yang selalu didampingi, diawasi dan diperhatikan serta diingatkan mengenai akhlak dan akidah,  hak dan kewajiban,  punishment and reward, lalu diberikan hukuman di saat melakukan kesalahan. Diberitahu mana yang salah dan yang benar, serta bagaimana konsekwensi dari suatu perbuatan yang telah dilakukan, sebab dia mulai berbaur dengan masyarakat dan kehidupan yang sebenarnya. Sedangkan anak usia di atas 14 tahun, perlakukan anak sebagai seorang sahabat yang mampu memberikan ketenangan dengan bertukar pikiran. Berikan teladan yang baik secara bersamaan karena harus membangun mental dan spiritual dalam dirinya.


Diskusi dan Solusi

     Dalam perjalanan mendampingi anak dari lahir hingga saat ini, tentunya  tak lepas dari berbagai kendala yang seringkali dihadapi. Dua anak saya yang menginjak dewasa dan masih remaja tentu berbeda teatment dalam menanganinya. Terhadap Puan, anak perempuan saya tak lagi bisa diterapkan sama seperti kakaknya yang laki-laki, meski memiliki 'azaz' yang tak beda, yakni demokrasi. Dalam beberapa permasalahan yang dihadapi, saya lebih menyukai menyelesaikan dengan cara diskusi. 

     Saya mulai dari cara pandang dan apa yang menjadi buah pikiran anak-anak sehingga mengetahui latar belakang, alasan dan tujuan yang diinginkan. Kemudian saya pun mengemukakan pendapat saya sebagai seorang sahabat yang selalu saling mendukung dan memahami. Sesekali bisa saja berdebat dalam mengemukakan argumentasi, tapi kemudian sama-sama menemukan satu solusi yang disepakati bersama. 

     Ada konsekwensi sebagai rasa tanggung jawab dalam kemandirian mereka ketika menentukan passion dan bagian dari tujuan hidupnya. Tidak semua mudah, bahkan harus mengalami berbagai tantangan agar memberikan effort yang berarti. Sepanjang perjalanan musti dilewati dengan penuh rasa syukur bahwa setiap manusia memiliki jalan kebaikannya sendiri.  

     Sekali lagi nih, anak adalah amanah. Titipan Sang Khalik yang harus dijaga dan didampingi agar membawa pada keberkahan hidup hingga akhir nanti. Kelak, sebagai orang tua, kitapun akan dipertanyakan mengenai hal ini sebagai tanggung jawab dari Illahi Robbi. Insya Allah, dari anak yang sehat dan cerdas, sholeh solehah akan memberikan generasi hebat sebagai pembawa tongkat estafet di masa depan nanti. 

    Selamat Hari Anak Nasional 2023.

    Salam sehat dan selalu semangat!!***NZ