Sabtu, 12 Maret 2022

Rahasia Dua Jaket Saya


       Yang satu jaket jeans, satunya lagi corduroy warna coklat muda, dua jaket yang dulu banget sering menemani saya. Di baliknya ada rahasia, haha.

By Nur Ida Zed


                                                    Foto: DokPri

       Pilihan gaya busana saya sebenarnya suka yang simple saja, yang penting nyaman dan enak dipakai. Saya bukan termasuk yang gila fashion sehingga harus mengikuti trend mode sampai harus berburu ke berbagai gerai khusus atau musti pre order agar tidak kehabisan stok. Bagi saya busana atau fashion lebih pada kebutuhan dan fungsinya saja. Beruntungnya bentuk tubuh saya ukuran standar produksi alias sesuai ukuran ready to wear yang biasa digunakan banyak merek pakaian sehingga lebih gampang.

       Selain itu saya juga tidak fanatik dengan brand tertentu, jadi lebih santai saat memilih pakaian yang ingin dikenakan. Saat sesekali mengunjungi mall buat cuci mata, sekedar jalan atau belanja bulanan, bisa saja tiba-tiba menemukan baju yang dirasa cocok, pas di badan juga di kantong, haha, lalu tanpa pikir panjang langsung saya beli saja. Kejadian seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan saat remaja, bila direncanakan secara khusus untuk belanja baju, misalnya, seringkali tak mendapatkan sesuai ekspektasi, tapi kalau tak disengaja malah ada yang pas sesuai selera. Seperti ketika menemukan jaket jeans yang pernah jadi favorit bertahun-tahun lalu.

 

Kenangan Saat di Yogya

       Seingat saya waktu itu lagi iseng saja jalan-jalan di pertokoan Malioboro dan Jalan Solo saat masih jadi mahasiswa di Yogyakarta, lalu menemukan jaket jeans merek Mexx di salah satu gerainya.  Awalnya sih tak sengaja, lalu entah kenapa tiba-tiba saja tertarik, dan ketika sekilas mematut di depan kaca ternyata kok cocok juga dengan saya. Warnanya yang sedikit belel pasti bisa dipadu padankan dengan T-shirt maupun kemeja bernuansa apa saja. Modelnya juga klasik dengan dua saku di dada, paslah buat gaya remaja seusia saya pada saat itu. Kebetulan di counter ini tinggal satu-satunya. Jadi meski sedikit menguras kantong untuk ukuran mahasiswa dan anak kost waktu itu, karena sudah suka maka saya ambil saja.  

       Memang lagi ngetrend model jaket jeans pada masa itu. Tapi buat saya sebenarnya lebih pada kenyamanan karena bisa awet dan tahan kotor sehingga tak perlu sering dicuci setelah satu dua kali pakai, haha. Dan ini bisa fleksibel digunakan dalam beberapa acara, saat dipadu padankan dengan dalaman-inner fashion dan bawahannya. Manakala ingin tampil untuk suasana sedikit formal misalnya, bisa dipadu dengan kemeja lengan panjang dan bawahan casual ditambah aksen syal atau kalung panjang sebagai hiasan, jika ingin santai bisa dengan celana jeans dan t-shirt saja. Karenanya jaket ini sempat jadi andalan di berbagai acara dan menemani penampilan saya dari masih gadis hingga hengkang ke Jakarta.

    Jaket kedua merk Mash Ville berbahan corduroy warna coklat muda yang saya beli setelah di Jakarta. Tak sengaja juga sebenarnya, seingat saya ketika jalan-jalan bareng teman kantor di Mall Pondok Indah waktu itu, dan mata saya sempat menangkap jaket yang dipajang di etalase dengan aksen empat saku dan ikat pinggang yang berukuran cukup panjang. Lucu juga, nih, pikir saya waktu itu. Bisa dipakai ke kantor, juga menemani  liputan apalagi kalau pas deadline sampai malam. Benar saja, ketika ada graduation di Bali dan harus menghadiri api unggun malam itu, jaket ini sangat menolong saya karena suasana out door sangat dingin sementara kondisi badan kurang fit. Tak hanya itu, saat saya hamil Puan, jaket ini juga seringkali menemani ketika periksa ke dokter hingga melahirkan di JMC Mampang.

 

Jaket yang Fungsional

       Dua jaket yang saya miliki ini rasanya bisa dibilang legenda karena menyimpan banyak kenangan. Meski ketika membeli sudah luama sekali, tapi rasanya masih layak dipakai karena nyaman dan fungsional. Sesekali bisa dililitkan di pinggang dan jadi bantal saat bepergian, sekaligus selimut karena yang coklat muda berukuran besar. Semacam balmut (baca: bantal selimut) begitulah ya, bahasanya anak sekarang, karena bahan corduroy memang hangat dan tebal. Dan satu lagi,  tidak mudah kusut. Jadi meski sudah diuwel-uwel di mobil ketika dipakai mudik atau traveling, saat mau dikenakan ketika jalan-jalan tinggal dikibaskan, disikat sebentar lalu disemprot Trika atau minyak wangi sedikit saja, bereslah sudah.

        Memang dua jaket ini begitu nyaman. Modelnya klasik berkesan vintage long lasting sehingga tidak ketinggalan jaman. Tepatnya tidak termakan oleh jaman. Buktinya, setelah sempat disimpan begitu lama, ketika suatu hari bongkar-bongkar lemari dan menemukannya, Puan langsung tertarik dan bilang: “Bagus nih, Ma. Boleh ikutan pakai gak?” ujarnya seraya mematutkan jaket jeans di pundaknya. Saya tersenyum mengiyakan, sembari sedikit menceritakan kisah “si jaket” yang usianya lebih tua dari dirinya. Kemudian,  beberapa kali akhirnya pernah tukar pakai jaket ini, dan mungkin akan jadi favoritnya juga ya, haha.

       Oalah. Selembar pakaian agaknya bisa sebagai penyimpan cerita dan rahasia, termasuk dua jaket saya. Tak heran bila orang tua kita dulu juga ada yang mewariskan ini pada anak cucunya. Seperti kain batik, songket dan semacamnya. Semakin berusia tua dan pandai merawatnya bisa semakin mahal nilainya.

       Ya. Pakaian memang tak sekedar penutup aurat, pelindung badan dari teriknya panas dan guyuran hujan, tapi juga menunjukkan citra diri dan kepribadian. Kalau dalam pepatan Jawa: Ajining diri mergo soko lathi, ajining raga mergo soko busono. Yupz !

       Salam sehat dan selalu semangat..!***NZ 

Rabu, 09 Maret 2022

Say Thanks for Everything


       Sepertinya sederhana ya, hanya ucapan terima kasih. Tapi ini bisa menjadi cerminan adab yang baik dari  seseorang.

By Nur Ida Zed

                                                   Foto: Dokpri @nuridazed

       “Terima kasih atas kunjunganya,” begitu seringkali yang diucapkan pramusaji setelah kita selesai makan di restonya, atau sekadar minum teh dan menikmati sekerat roti. Sambil mengantar di ujung pintu keluar dan sedikit membungkuk menyatukan kedua tangan dengan menyelipkan senyuman. Dan kita tentu jadi terkesan sehingga tak segan untuk datang kembali bertandang. Hal yang sama juga ditemui di gerai pakaian, tempat wisata, hotel dan lainnya. Pertanda kesopanan yang ditunjukkan lewat sikap dan kata-kata.

       Ya. Kadang kita sering lupa dengan hal kecil yang bisa menyentuh hati seperti ucapan terima kasih ini. Padahal ini bentuk rasa syukur yang diajarkan untuk menghargai dan mengapresiasi sekecil apa pun perbuatan orang lain dalam kebaikan. Bersyukur dan berterima kasih atas segala nikmat yang telah diberikan, entah kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama makhluk, termasuk pada orang-orang yang telah berbuat kebaikan dalam hidup kita, seperti kedua orang tua, keluarga, teman atau bahkan orang asing yang baru kita kenal dan temui yang hatinya dipenuhi kebaikan. Semua ini menjadi awal terbentuknya adab dalam diri seseorang.

 

Memperbaiki Akhlak

         Ngomongin soal adab, sebenarnya banyak banget yang bisa ditunjukkan. Secara keseluruhan adab merupakan segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kebaikan dan kehalusan budi pekerti atau biasa disebut akhlak. Dalam Bahasa Arab sendiri, Adab (dari kata Addaba) yang artinya budi pekerti, tata krama dan sopan santun. Adalah pendidikan atau ajakan yang mengarah pada kebajikan.

       Orang yang beradab adalah orang yang selalu menjalani hidupnya dengan tata cara dan aturan yang mencerminkan nilai sopan santun. Sebegitu pentingnya ini sehingga kehadiran Nabi ke dunia berkaitan dengan itu, sebagaimana disebut dalam Hadist Riwayat Al-Baihaqi yang mengatakan: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” Bahkan dalam menilai keimanan seseorang kita juga diminta melihat bagaimana akhlak yang bersangkutan. “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

       Adab ini bisa berkaitan dengan norma mengenai sopan santun yang berdasarkan pada aturan agama yang digunakan dalam pergaulan antar manusia, tetangga dan masyarakat pada umumnya. Suatu ketika saat sedang bertamu ke rumah teman, ada adab yang sebaiknya dilakukan seperti mengucap salam, mengetuk pintu terlebih dahulu dan tidak membuat keributan. Saat makan adab yang seharusnya dilakukan seperti mencuci tangan sebelum makan, membaca doa, makan dengan tangan kanan, tidak banyak bicara saat makan, ketika mengambil makanan harus dihabiskan alias tidak menyisakan makanan dan sebagainya.

       Ketika bertemu dengan orang tua atau guru, sebaiknya menegur lebih dahulu, mengucap salam dan tidak berkata kasar bahkan menyinggung perasaannya. Adab dalam bersosial media, saling mendukung dan berkomentar tentang kebaikan, tidak saling mencela, menghina dan menjatuhkan, tidak bergunjing, menyebarkan hoax dan yang lainnya. Jadi urusan adab ini memang mengarah pada pembentukan pribadi yang membawa pada kebajikan dan kerendahan hati.

 

Adab Lebih Tinggi dari Ilmu

       Bila ada pepatah yang mengatakan bahwa adab dulu baru ilmu, atau adab itu lebih tinggi dari ilmu, maknanya tentu mengenai betapa pentingnya adab ini. Orang beradab sudah pasti berilmu, sementara orang berilmu belum tentu beradab.

       Ketika merasa miskin ilmu, kita bisa belajar dari guru, membaca banyak buku, mencari tahu hingga menuntutnya sampai ke negeri China. Ilmu bisa didapatkan saat kita berusaha sekolah berjenjang dari tingkat dasar, menengah hingga mahir sebagai sarjana dan menjadi ahlinya. Bahkan saat haus akan ilmu dan ingin terus menambahnya ibarat minum air laut yang tak akan ada habisnya, keinginan menguasai ilmu yang terus berkembang seakan tak pernah ada puasnya bisa didapat dengan berbagai cara.  Namun percuma saja saat ilmu tidak didasari dengan adab yang mulia, karena bisa berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain.

        Ilmuwan sekaliber Alferd Nobel merasa menyesal dengan dampak dari penemuannya yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beradab. Dinamit atau bahan peledak yang awalnya dipergunakan untuk membantu manusia memperpermudah pekerjaannya di bidang pertambangan ternyata diselewengkan menjadi alat pembunuh seperti bom dan nuklir. Dia bahkan kini menyumbangkan kekayaan dari hasil royalty penemuannya kepada mereka yang respect memperjuangkan kemanusiaan dengan Hadiah Nobel.  

       Ilmu dan kepintaran sebenarnya tak ada artinya bila dikuasai oleh orang yang tak beradab. Kedua hal ini sebaiknya bersisian sebagai imtek, atau iman dan teknologi. Seperti yang disampaikan Abu Zakariah An-Anbari bahwa “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh.” Lalu, sebaiknya kita menempatkan sebagaimana porsi keduanya agar menjadi manusia yang berguna di dunia dan akhirat.

     Terima kasih banyak telah singgah di blog saya yaa.

     Salam sehat dan selalu semangat..!***NZ 

Senin, 07 Maret 2022

Tangan Di Atas Lebih Baik


       Saat ingin berbagi sebaiknya selalu berpegang pada hadist Nabi yang mengatakan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya lebih mulia memberi daripada menerima atau meminta-minta.

By Nur Ida Zed

                                                Pic by Pinterest

       Dulu saya sering diajak nenek ke panti asuhan untuk sekedar berbagi makanan saat keluarga kami merasakan kebahagiaan. Seperti ketika hari besar, saat ada yang ulang tahun atau bahkan weton- dalam tradisi Jawa yang berarti neptu pasaran hari kelahiran di setiap bulannya. Berupa bancaan, semacam nasi kotak yang diberikan pada anak yatim piatu di sana. Kadang diselipin amplop jika kebetulan ada rezeki lebih. Kalau tidak, hanya nasi urap dengan ayam goreng, telur dan tahu tempe bacem, atau bubur merah putih dan tumpeng. Kata nenek supaya rezeki bisa berkah karena terus mengalir dan tidak mengendap saja.

       Ibarat aliran air, jika mengendap akan mengeluarkan bau busuk dan kotor sehingga menjadi sarang nyamuk bahkan menimbulkan penyakit. Sebaliknya jika air terus mengalir, maka akan tetap bersih, terjaga dan bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Seperti untuk mengairi sawah yang membuat tanaman bisa tumbuh dengan subur, berbuah hingga panen raya. Begitupun dengan rezeki, bila sebagian dibagi kepada yang membutuhkan tentu akan lebih berkah dan bermanfaat. 

       Dalam kehidupan sehari-hari, memang ada orang yang berkelebihan dalam hal rezeki dan di sisi lain ada yang kekurangan. Karena itulah bagi yang cukup, dianjurkan untuk berbagi kepada sesama, salah satunya dengan infak dan sedekah. Seperti yang dituang dalam Hadist Riwayat Muslim yang artinya: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”  Namun ada juga mental dimana orang yang sebenarnya cukup tetapi seringkali meminta-minta sebagaimana mental miskin. Semoga kita tidak menjadi salah satu di antaranya.

       Untuk bisa berbagi sebenarnya tidak perlu menunggu menjadi kaya terlebih dahulu, yang terpenting tentu kaya hati.  Sebab kaya tak bisa diukur dengan seberapa yang dimiliki, tapi tergantung bagaimana lapangnya hati merasa cukup. Ya,  rezeki yang bisa dibagi ini tak hanya berupa harta atau materi saja, tapi ilmu yang bermanfaat, waktu dan kesempatan, bahkan senyuman pun bisa diberikan untuk menunjukkan ketulusan dan menambah semangat. Semua dapat diwujudkan dengan keinginan berbuat baik untuk memberi.

 

Hakekat Memberi Adalah Menerima

        Di saat merasa cukup untuk memberi, entah itu berupa harta, materi maupun ilmu yang bermanfaat dengan segala ketulusan dan keikhlasan, sebenarnya dia akan menerima sebagaimana yang telah diberikan. Karena hakekat memberi adalah menerima, seperti firman Allah SWT dalam Al- Qur’an surat As-Saba ayat 39 yang artinya, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” Jadi sekecil apapun yang telah diberikan pasti akan diganti olehNya, bisa saja sekarang, besok atau disimpan sebagai tabungan yang akan diberikan suatu saat nanti.

       Tapi lebih dari itu, di saat kita bisa memberi, ada rasa bahagia yang tak bisa terkatakan sebagai apa manakala orang yang diberi merasa senang dan berterimakasih. Dalam hati akan menjadi motivasi untuk lebih giat lagi mencari nafkah sehingga bisa berbagi lebih banyak lagi. Ketika berbagi ilmu yang bermanfaat, maka akan memacu untuk belajar lebih dalam lagi supaya semakin pintar dan menjadi ahli. Sebab berbagi ilmu akan menjadikan cahaya yang menerangi sepanjang masa.

       Namun adakalanya niat baik untuk memberi dan berbagi ini kadang memunculkan kesalahpahaman yang membuat tidak enak hati. Misalnya dianggap sombong, sok kaya, hanya cari muka, sok pintar dan anggapan negatif lain yang bisa menyurutkan niat untuk berbuat baik dengan berbagi. Bahkan dibilang merendahkan dan menghina dengan pura-pura mengasihani. Hal ini mungkin terjadi karena kurang memahami dengan situasi dan kondisi serta moment ketika kita berbagi dan memberi.

 

Memberi Tanpa Merendahkan

       Meski memberi akan memiliki derajat lebih tinggi dari yang menerima, sebaiknya tidak serta merta lalu merendahkannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memberi, di antaranya adalah:

-          1. Niatkan untuk mencari ridho Allah SWT. Bahwa apa yang kita berikan semata-mata dari Allah SWT yang dititipkan pada kita.

-          2. Berikan kepada mereka yang membutuhkan agar bisa benar-benar bermanfaat dan tidak sia-sia.

-          3. Tebarkan senyum dan kebaikan kepada sesama tanpa memandang derajat dan fisik agar penerima tidak merasa tersinggung dan direndahkan.

-          4. Tak perlu mengungkit pemberian di saat kita ikhlas melakukannya. Karena selain menimbulkan riya, menyombongkan diri dan merasa paling dibutuhkan juga akan membuat dosa dan mengurangi pahalanya.

-          5. Tak perlu menghitung seberapa banyak yang sudah diberikan, karena Allah SWT nanti akan mengganti yang lebih besar.  

 

       Ya, manakala sudah memahami arti pentingnya memberi dan berbagi rezeki, maka tak perlu peduli dengan apapun pandangan orang mengenai niat baik kita ini. Seperti yang dikatakan seorang tokoh muslim Tionghua bernama Yusuf Hamka: rezeki itu ketika kita makan akan menjadi kotoran, bila disimpan akan jadi warisan yang kadang bahkan bisa bikin perpecahan antar keluarga, namun bila diamalkan dan dibagi akan menjadi tabungan di akherat nanti. Semoga kita terus bisa istiqomah untuk berbagi yaa.

       Salam sehat dan selalu semangat..!***NZ

Jumat, 04 Maret 2022

Kehidupan Ini Saling Melengkapi


       Tak perlu berkecil hati ketika merasa kurang di satu sisi. Bahwa kehidupan ini saling melengkapi. Menghargai potensi akan lebih bijak dalam menentukan nilai diri. 

By Nur Ida Zed  

 

                                                         Foto: Pinterest

       Salah satu alasan kenapa saya ingin menjadi jurnalis waktu itu supaya bisa bertemu dengan para tokoh, orang-orang hebat dan sukses, termasuk public figure dan semacamnya. Mereka yang seringkali diliput media masa dengan pencapaian dan prestasinya, para tokoh yang sukses karena kerja kerasnya, pejabat yang handal mengatur negara, politikus yang berani memperjuangkan visi misinya, selebriti dengan segala hal yang terlihat sempurna, bahkan yang terkesan glamour tanpa ada cacat cela.

       Tak sedikit yang seolah hanya pamer harta, viral saat membeli rumah mewah dengan harga milyaran rupiah, berburu mobil baru dengan tehnologi terbaru bernilai fantastis, koleksi perhiasan super mahal penunjang penampilan dan prestise, tas branded, sepatu bermerk dan semua yang menunjukkan kekayaan duniawi meski sebenarnya sudah berkecukupan. Entah mungkin sebagai wujud pencapaian hidupnya, atau bertujuan memotivasi dan menginspirasi yang lainnya dengan menghadirkan segala rupa bentuk harta, benilai materi dan limpahan uang sebagai kepuasan hidup yang dimiliki. Dan ya, karena semua itu seringkali dipertontonkan, dibahas dan diexspose, akhirnya menjadi konsumsi publik yang mau tak mau jadi membandingkan dan berdecak kagum,  sehingga kadang yang lain berasa tak ada artinya.

       Ini menarik menurut saya, apalagi bila digali dari perspektif yang berbeda. Karenanya di saat bisa bertemu langsung untuk wawancara, ngobrol dan berbincang tentang berbagai tema, saya biasa mengulik banyak hal yang kemudian akan mengambil sisi positifnya. Seperti mengenai cara pandang, pola pikir, budaya, sikap dan hal lain yang tak hanya ditemui di televisi dan media, karena tentu bagi setiap orang bisa saja berbeda.

 

Tidak Semua Sama

       Lalu dengan berjalannya waktu, sepanjang ini saya sudah banyak bertemu para tokoh dan public figure yang kemudian menjadi narasumber untuk tulisan saya di media. Tak sedikit yang berkesan dan memberi plus  value bila dikulik latar belakangnya sehingga akan menambah energi positif bagi diri saya. Seperti ketika waktu itu harus mewawancarai Triawan Munaf, yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT. Garuda Indonesia Tbk. untuk rubrik Profil di Majalah Hongshui Living Harmony.  Saat itu beliau sebagai tokoh periklanan yang handal dengan kreativitas dan strateginya di AdWork, sebelum menjabat sebagai Badan Ekonomi dan Kreatif (Bekraf) RI di awal pemerintahan Bapak Jokowi. 

       Awalnya saya menghubungi beliau dan janjian bertemu di salah satu book store di bilangan Pondok Indah, Jakarta. Sedikit grogi karena akan wawancara tokoh yang juga ayah seorang artis Sherina Munaf yang kala itu sedang naik daun. Menata diri dan datang tepat waktu dari schedule yang disepakati, ternyata beliau sudah menunggu sembari membaca di sebuah kursi cafenya dengan senyum khas yang ramah dan bersahabat. “Mbak Nunung ya?” tanyanya waktu itu, dan saya mengangguk. Dalam hati saya kagum karena ternyata beliau seorang yang bersahaja dan hangat. Sepanjang wawancara begitu humble dan rendah hati,  tak ada kesan sombong sama sekali dan terasa menghargai profesi sehingga tak berjarak untuk berbincang meski baru bertemu pertama kali.

       “Kalau ada data yang kurang kasih tau aja ya, nanti dikirim” begitu katanya sebelum mengakhiri wawancara. Lalu saya terima email apa-apa yang perlu untuk melengkapi tulisan. Ya. Kemudian saat kami mengundang pada sebuah acara, beliau juga menyempatkan waktu untuk menghadirinya. Inilah contoh tokoh yang mampu jadi panutan dan selalu memberikan positive vibes, pikir saya.

       Begitu juga Adrie Subono, sang promotor yang harus saya wawancara untuk liputan Rubrik Griya sekaligus Profilnya. Beliau terkesan antusias dan akrab saat kami, saya dan fotografer datang berkunjung untuk ngobrol dan ‘mengganggu’ waktunya yang padat. Pengusaha yang terlihat ‘sangar’ itu ternyata baik hati, peduli dan juga humble. Di sela wawancara bahkan sempat cerita tentang perjuangan di masa muda, soal  kekerasan hati serta  semangat pantang menyerah agar bisa menghargai proses menuju tahapan kesuksesan masa depannya.  

       Begitulah, cerita lain saat di majalah Herworld Indonesia dan bertanggung jawab terhadap rubrik Home Living, ketika harus meliput rumah penyanyi lawas yang kini terjun ke dunia politik, Iis Sugianto. Mulanya saya merasa agak jengah karena begitu sulit menghubungi artis satu ini. Di WhatsApp berhari-hari seolah tak direspon. Saat membalas dan hendak ditelpon balik  untuk memastikan kesediaan malah tak mau menjawab, sampai kami kembali rapat ingin mengganti narasumber. Kemudian,  tiba-tiba bersedia dan meminta maaf karena sedang menyiapkan kelengkapan interior bahkan mengecat rumah yang akan difoto agar lebih nyaman sehingga harus menunggu waktu sedikit lama.

       “Ini baru aku ganti warna sedikit soft,” kata penyanyi melankolis yang kini juga youtuber mengenai rumahnya bergaya Classic Mediterania di kawasan Pondok Indah waktu itu. Rupanya setelah bertemu,  dia ternyata sosok yang baik banget, ramah dan rendah hati pula, tak seperti perkiraan sebelumnya. Kami bahkan panjang berbincang seolah telah bertemu lama.

       Ya. Saya percaya, setiap orang memang memiliki perbedaan sikap dan pandangan saat berhubungan serta menghargai profesi orang lain. Namun ketika yakin dengan potensi yang ada, maka tak perlu lagi merasa lebih rendah dari yang lainnya. Seperti narasumber yang seringkali saya temui, semakin “matang dan berisi” akan semakin rendah hati. Meski semua itu tentu tergantung dari cara kita bersikap dan bertutur kata sebagai cerminan siapa diri kita yang sebenarnya.

 

Terima Potensi Yang Ada

       Setiap manusia pasti memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan untuk menambah rasa percaya diri. Terima ini sebagai wujud rasa syukur kepadaNya, karena Allah SWT telah menciptakan setiap manusia sesuai dengan porsinya. Jangan selalu melihat ke atas jika ingin bijak dan  tidak merasa lebih kecil bahkan tak berdaya. Sebaiknya seimbangkan pandangan dengan melihat ke bawah juga kepada mereka yang lebih kekurangan dari kita agar selalu mewujudkan rasa syukur dengan semua potensi yang ada.

       Memang penting untuk memotivasi diri agar bisa lebih berdaya dan berprestasi sangat tinggi, namun lebih penting mensyukuri dan memaksimalkan apa yang ada agar hati dan jiwa selalu tentram dan bahagia. Bahwa kunci hidup ini salah satunya berserah pada setiap kehendakNya. Tak perlu berkecil hati, apalagi merasa rendah diri. Kita hadir di dunia ini salah satunya untuk saling melengkapi. 

      Salam sehat dan selalu semangat..!***NZ

Selasa, 01 Maret 2022

Juara Dengan Ketulusan Hati

     

    Pernahkah kita menyadari kalau diri ini sebenarnya juara sejati? Selalu mendukung dan mendampingi anak berprestasi dengan ketulusan hati. 

By Nur Ida Zed

                                            foto:DokPri @nuridazed

       Sekali lagi saya bersyukur ketika putri saya Puan kembali meraih medali emas untuk kategori Junior Female di kejuaraan Taekwondo tingkat Nasional Kapolri Cup-3 yang terselenggara pada 25-27 Februari 2022 kemarin. Selain putri saya yang mendapat penghargaan dan ucapan selamat, ternyata saya, ibunya juga ikutan dapat apresiasi.

       “Selamat ya, Mama Puan,” begitu banyak reply  yang dikirim teman-teman setelah saya posting prestasi ini di media sosial. Meski seringkali dia juara, baik di tingkat Nasional maupun Internasional, tapi setiap kali selalu saja terasa ada yang berbeda dan istimewa. Ya, karena setiap kali mengikuti kejuaraan tentu memiliki cerita yang tidak sama. Baik dari persiapan latihan, fisik dan mental serta mood yang harus dibangun agar tetap stabil sehingga akan menghasilkan performa yang maksimal.

       Kali ini entah sudah yang ke berapa kalinya. Meski sebelumnya, sejak dinyatakan pandemi, pemerintah sempat melarang penyelenggaraan kejuaraan olahraga seperti Taekwondo ini dilakukan di arena karena akan mengundang kerumunan yang dikhawatirkan akan terjadi penyebaran Covid-19. Lalu stuck, dan akhirnya kebijakan pemerintah memperbolehkan penyelenggaraan kejuaraan secara virtual. Layaknya mendapat angin segar, hal ini tak menyurutkan generasi muda untuk tetap berkreativitas dan berprestasi, bahkan semakin meluas lagi hingga ke luar negeri. Semua bisa dilakukan secara online.

 

Awal Mula Mendampingi

       Saya masih ingat betul, saat pertama kali mendampingi putri saya ini latihan. Waktu itu dia masih duduk di kelas B, Taman Kanak-Kanak, sekitar umur tiga setengah tahun. Keinginannya terlihat setiap kali menemani kakaknya berlatih dan mengikuti kejuaraan lebih dulu. Lalu oleh Sabeum (baca:pelatih) dia diijinkan mengikuti latihan asal ada orang tua yang mendampingi. Sebagai ibu, saya siap. Sejak itulah kemudian saya selalu mengikuti perkembangan dan effortnya hingga bisa maju ke arena pertandingan sampai sekarang.

       Awalnya tentu saya khawatir. Anak sekecil itu, perempuan pula, maju bertanding kyorugi di arena yang begitu besar, di Gelanggang Olah Raga POPKI, Pusat Olahraga Persahabatan Korea Indonesia di Cibubur, Jakarta Timur. Setiap kali mengikuti kejuaraan, jantung saya terasa berdegup kencang dan dalam hati tak berhenti berdoa agar tidak cedera. Kemudian Alhamdulillah, karena prestasinya itu, dia pernah perform dan diwawancara di acara Anak Prestasi di sebuah stasiun televisi bersama Mentri Pemuda dan Olahraga beserta Deputi Bidang Peningkatan Prestasi pada saat Hari Olah Raga Nasional. Tentu saya bangga, karena ikut ditanya-tanya bagaimana tips mendampingi putri saya Puan, D’vine Adinda Nizbach meraih prestasi hingga saat ini, sebab tidak semua orang tua bisa melakukannya.

       Memang tidaklah mudah, waktu masih kecil dulu membawa dia pada passion bela diri asal Korea ini. Butuh latihan intensif, konsisten dan terprogram agar power dan tekniknya terus berkembang dan tetap konstan meraih prestasi. Godaan rasa malas dan pengaruh teman merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi. Sesekali harus melawan emosi diri, menambah kesabaran dan menetapkan hati supaya terjaga semangat serta suasana selaras harmoni.

       Pernah suatu kali, namanya anak-anak perlu waktu bermain dan bersosialisasi dengan teman, sementara harus mengikuti jadwal latihan. Atau di sekolah ada ulangan yang bentrok dengan kejuaraan. Saya harus mencari solusi dan tetap menyikapi dengan senang. Belum lagi ketika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan deadline berbarengan. Mau tak mau butuh ekstra tenaga dan pikiran. Semua itu menuntut penyelesaian dengan bijak serta cermat, yang tak semua orang bisa melakukannya. Dan saya menjalani ini dengan ketulusan hati.      

 

Dengan Ketulusan Hati

       Ya, ketulusan hati menjadi kunci dan kekuatan yang membedakan saya dengan yang lainnya sehingga bisa menjadi juara. Apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kadang harus menghadapi segala situasi yang tak terpikirkan sebelumnya, termasuk saat mendapingi putri saya yang kini menginjak usia remaja. 

                                                Foto: DokPri @nuridazed

       Ketika persiapan kejuaraan kemarin itu, wabah omicron sedang menggila. Dan saya selalu akan mendukungnya. Menjaga kondisi fisik serta psikis menjadi hal yang utama agar semua berjalan sesuai rencana. Memang tidaklah mudah, tapi saya menjalani semua ini sebagai ibadah, karena anak adalah amanah. Percayalah, manakala kita membekali mereka dengan ilmu dan amal kebaikan, maka akan berbuah kebaikan juga pada akhirnya.

       Salam sehat dan selalu semangat…!***NZ

Senin, 09 Agustus 2021

Rujak Cingur Kuliner Daerah Bikin Kangen Jawa Timur


         Percaya atau tidak bila kuliner khas sebuah daerah bisa membuat kita kangen untuk kembali datang dan mencicipinya. Lidah seperti sudah mengenali racikan mana yang paling enak untuk dinikmati.

By Nur Ida Zed

 

                                                        Foto: Rujak Cingur dokpri @nuridazed

         Boleh dibilang saya ini termasuk penjelajah rasa dalam kuliner. Meski berasal dari Jawa Tengah, saya juga suka masakan khas Jawa Timur. Dari kecil ibu sudah mengenalkan rawon dan rujak cingur di lidah kami karena rasanya memang enak, sehingga menjadi sajian pilihan yang juga sering dihidangkan di meja makan. Saya masih ingat saat ibu megenalkan pada kluwek, bahan khas untuk rawon berkulit keras seperti batu yang harus dipecah dulu dan unik itu. Juga petis udang yang menjadi pelengkap wajib untuk campuran sambal kacang pada rujak cingur.

         “Petis yang baik bisa dilihat dari tekstur, warna dan rasa gurih udangnya,” begitu kata ibu. Beberapa teman ada yang kurang menyukai petis karena sedikit amis, tapi bagiku itu justru sensasi rasa yang paling nikmat.

         Sewaktu masih kuliah di Yogyakarta, saya menemukan makanan ini di Mirota Kampus dan warung dekat jalan layang. Setelah tinggal di Jakarta, kami suka berburu makanan ini di beberapa restoran khas Jawa Timur yang menyajikannya. Kebetulan suami juga berasal dari sana, sehingga untuk selera makan tak jauh berbeda. Anak-anak pun mulai kenal dengan rasa khas masakan daerah yang sudah jelas enak, fresh dan sehat di antara makanan cepat saji yang lebih gampang ditemui saat ini.

 

Masakan Daerah Warisan Budaya

         Untuk memasak masakan daerah memang butuh keahlian tersendiri. Banyak teknik yang perlu dicermati agar rasa dan taste aslinya tetap terjaga. Meski banyak juga yang bisa dimodifikasi sesuai selera, namun ada beberapa pakem semacam bumbu dan cara memasak tertentu agar tidak hilang kelezatannya.

         Namanya saja rujak cingur, tentu paduan dari rujak buah dan sayur yang terkenal segar itu ditambah dengan irisan cingur. Ya, cingur, bagian dari mulut sapi yang sudah direbus itu akan terasa gurih, kenyal dan lezat bila diolah dengan cara yang benar dengan bumbu khusus, lho,  yaitu dilumeri dengan bubuk ketumbar dan bawang putih, lalu direbus bersama daun salam untuk menghilangkan bau amis dan memunculkan sensasi gurihnya.

         Konon, cerita hikayat rujak cingur berawal dari kesukaan seorang raja yang waktu itu menyelenggarakan sayembara membuat menu baru dan istimewa, karena sudah bosan jenis masakan yang itu-itu saja. Lalu seseorang menciptakan rujak cingur, paduan kesegaran dari aneka buah dan sayur yang dibuat rujak, serta gurih dari sambal kacang yang dicampur petis udang dengan sensasi unik dari kekenyalan cingur yang lembut.  

         Masakan khas Surabaya, Jawa Timur, khas dari daerah pesisir pantai ini tak hanya terkenal di tempatnya, tapi juga sudah menjelajah hingga ke ibukota bahkan manca negara. Di beberapa acara kedutaan di luar negeri, kuliner khas daerah ini juga dikenalkan sebagai salah satu identitas dan kekayaan budaya bangsa ini. Rujak cingur biasanya termasuk sajian pembuka atau salat karena memadukan kesegaran buah dan sayur di dalamnya, sementara sambel kacang campur petis menjadi sauce yang istimewa.  Bisa juga menjadi menu utama atau main course bila dilengkapi dengan irisan lontong, nasi maupun kentang, juga kerupuk udang.

  

Resep Rujak Cingur

Bahan:

-          150 gram cingur yang sudah direbus

-          Sayuran seperti 1 ikat kangkung, toge secukupnya.

-          Buah segar seperti nanas, bengkoang, timun, mangga, kedondong, jambu air, iris sesuai selera.

-          Pisang batu untuk sambal kacang

-          1 kotak tempe goring, potong persegi

-          1 kotak tahu putih goreng, potong persegi

-          Lontong, iris sesuai selera


Bumbu  kacang:

-          50 gram kacang tanah, goreng

-          2 siung bawang putih, goring sampai layu

-          Cabe rawit atau merah secukupnya

-          1 sdm gula merah

-          ½ sdt terasi bakar

-          Garam secukupnya

-          2 sdm petis udang

-          3 sdm air asam jawa


Cara membuat:

-          Rebus cingur sapi bersama sedikit garam dan daun salam setelah dilamuri bubuk ketumbar dan bawang putih hingga lunak, lalu angkat dan tiriskan. Bisa juga lalu digoreng sebelum diiris dan disajikan.

 

-          Kemudian siapkan bumbu kacang. Haluskan kacang yang sudah digoreng bersama cabe rawit, garam, terasi dan gula merah. Lalu tambahkan petis dan air asam juga air matang air matang secukupnya hingga lumer merata.

 

-          Siapkan potongan buah seperti mentimun, nanas, bengkoang juga jambu air juga sayuran yang sudah direbus seperti kangkung, taoge serta irisan cingur, tahu dan tempe goreng yang sudah dipotong dadu serta lontong bila mau.

 

-          Sajikan dengan dicampur semua bahan dan sambal kacang petisnya, atau bisa juga dipisah lalu sambal kacang petis disajikan dengan disiram di atasnya. Akan lebih enak bila dilengkapi dengan kerupuk uyel atau kerupuk udang.

         Ya. Buat kami, sesekali mencicipi makanan khas daerah menjadi salah satu cara untuk mencintai  budaya bangsa dari kekayaan asli Indonesia. Membiasakan lidah kita untuk tetap mengenali masakan khas sebagai warisan leluhur yang kaya rasa serta banyak manfaatnya. Selain itu, dimanapun kita berada, kuliner daerah seringkali bisa mengobati rasa kangen  saat ingin datang dan mencicipinya.

         Agaknya, kuliner khas daerah bisa membuat cerita panjang dalam paparan sejarah bahkan lekat dengan memori yang ingin diungkapkan ketika menikmati kelezatannya.

         Salam sehat dan selalu semangaatt.***NZ

Rabu, 04 Agustus 2021

Menuai Jariah Dengan Berbagi Konten Bermanfaat


         Lewat tulisan kita bisa menggerakkan hati setiap orang. Karenanya sejak awal menulis, saya niatkan untuk berbagi kebaikan. 

By Nur Ida Zed



         Jika ada pepatah yang mengatakan, penamu lebih tajam daripada pedang, saya setuju dengan itu dan merasakan kebenarannya. Karena lewat pena, maksudnya karya kita berupa tulisan akan mampu menghujam kepada banyak orang melebihi tajamnya sebilah pedang. Dengan tulisan yang dibagi, kemudian dibaca dan dimengerti bahkan dapat menggerakkan hati untuk merubah cara pandang dan pola pikir seseorang sehingga dengan sadar akan membawa pada kebaikan.

         Menyadari akan pengaruh dari sebuah tulisan, dan dampak dari apa yang dihasilkan itulah maka sejak awal menulis saya niatkan untuk berbagi kebaikan.  Kemudian mulai menulis di blog pribadi menjadi perlu sebagai salah satu media berkarya, berekpresi dan bereksplorasi serta sarana untuk berbagi. Karena itulah tagline yang saya pilih: sharing, inspiring, positive thinking. Saya ingin berbagi inspirasi melalui konten yang bermanfaat agar dapat menuai jariah dunia dan akhirat. 

   

Pengalaman Sebagai Inspirasi

          Banyak hal yang telah saya tuang melalui blog ini. Awalnya modifikasi berbagai artikel yang pernah saya tulis di majalah dan media masa tempat saya bekerja, agar dapat memberi informasi lebih banyak dan menambah inspirasi setelah membacanya. Seperti Pesona Laut di Pulau Lombok ketika di Majalah Hongshui Living Harmony, yang membagi keindahan pulau kecil dengan wisata alam sempurna. Respon pembaca yang mengucapkan terimakasih dengan tulisan ini karena menginspirasi sehingga ingin juga berkunjung ke sana membuat saya bahagia. Ada yang tanya di mana tempat yang recommended untuk bisa membeli mutiara air laut asli di daerah asalnya, Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga toko perhiasan yang bagus bila di Jakarta. Untuk tulisan ini bahkan ada perusahaan travel wisata yang mengajak kerjasama dengan menawarkan berbagai paketnya. 

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=lombok

          Lalu saat mengunjungi Rumah Classic Mediterania milik politikus Ingrid Kansil, inspirasi desain Nuansa Cozy and Elegant di rumah penyanyi Memes, konsep Tropical Country saat menyambangi rumah maestro seni keramik F.Widayanti, serta tokoh yang lain agar membuka wawasan seputar Living ketika di Majalah Herworld Indonesia https://www.herworld.co.id/. Saya yakin tulisan ini akan bermanfaat bagi pembaca.

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=classic+mediterania

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=memes

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=f%2Cwidayanto

         Begitu juga liputan utama seputar anak dan perempuan, seperti Warning Human Trafficking ketika di Majalah Herworld Indonsia yang menguak betapa pentingnya mengenali serta memerangi masalah perdagangan perempuan yang masih saja ada, serta liputan utama mengenai Peduli Pendidikan Anak Bangsa yang menyentuh langsung kepedulian anak negeri untuk berbagi bersama beberapa perusahaan nirlaba. Saya rasa semua itu perlu dibagi agar kita menjadi aware dengan masalah ini.

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=women+trafficking

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=pendidikan+anak+bangsa

         Selanjutnya liputan khusus mengenai Empowering Women ketika di Majalah Female juga saya bagi di blog pribadi ini, yang mengungkap tentang beberapa perempuan hebat di balik pria sukses sebagai pasangannya. Termasuk Socio Culture saat di Majalah Male Emporium yang mengulik budaya para perempuan di berbagai daerah dan suatu negara yang konon menyimpan filosofi dengan kepercayaannya. Serta berbagai artikel seputar tips dan solusi  yang berkaitan dengan gaya hidup dan patut diketahui sebagai informasi positif.

http://nuridazuhayanti.blogspot.com/search?q=empowering+women

         Kemudian seiring berjalannya waktu, blog juga menjadi semacam tempat saya berbincang dan menuang berbagai pengalaman, sharing konten dengan masalah yang lagi hangat, termasuk pandemi yang harus dijalani sepanjang ini. Saya merasa lebih dekat dengan kalian sehingga lebih enak untuk bertutur secara ringan dan intimate supaya lekat tanpa sekat tapi tetap bermanfaat. Beberapa teman bahkan ada yang respect dan meminta untuk membahas tema tertentu serta memberi dukungan dengan mengikuti dan berlangganan. Saya sangat senang jika semua ini lalu menjadi sebuah harapan, motivasi  dan inspirasi.

  

Motivasi Untuk Berfikir Positif

         Dalam mengelola blog, memperbarui konten dengan konsisten menjadi hal yang utama. Memberikan tulisan yang menarik dan bersifat positif sangatlah penting agar tetap melekat pada traffic kunjungan bertambah dan selalu ada. Untuk itu tetap update semua hal baru dengan memperhatikan trend pembaca dan mengikuti komunitas serta saling backlink akan sangat membantu.

         Kerjasama dengan review produk atau endorse juga perlu untuk memperkaya konten yang bermutu.  Suatu kali saat menerima undangan untuk launching product, advertorial atau semacam iklan, berikan nilai lebih dengan profesional dan kejujuran yang dirasakan. Tetap mengemukakan hal positif yang menjadi selling point akan lebih berguna untuk diketahui oleh banyak orang dan pembacamu. Karena itu akan menjadi nilai ibadah bagi amalanmu.

         Blog buat saya adalah rumah maya yang harus dijaga keindahan dan kenyamanannya. Dengan selalu memberi konten yang bermanfaat untuk berbagi, memberikan motivasi dan menginspirasi saya akan selalu memberikan kebaikan juga untuk diri sendiri maupun bangsa ini. Saya ingin siapapun yang berkunjung akan merasa senang dan mendapat manfaat dari apa yang disampaikan, layaknya memasuki bangunan rumah yang dapat membawa kebahagiaan. Di dalamnya ada bermacam karakter, ayah, ibu, anak-anak dalam dinamika kehidupan sebuah keluarga yang akan menciptakan kedamaian. Akhirnya berbagi konten yang bermanfaat akan menjadi jariah dunia akhirat.

         Salam sehat dan selalu semangaatt..**NZ