Rabu, 29 Mei 2024

Refleksi Diri dengan Belajar dari Kesalahan

        Saya sepakat dengan kalimat bijak yang menyebut: Tak ada kata terlambat untuk belajar. Bahwa dalam kehidupan ini merupakan proses belajar saat kita ingin menjadi besar.

by Nur Ida Zed 

                                                            pic by pinterest


        Bahkan pada anak kecil sekalipun kita bisa belajar. Dari seorang bayi yang awalnya hanya bisa menangis, tengkurap, selanjutnya merangkak dan berdiri. Lalu berjalan, kemudian berlari, adalah proses yang harus dilalui tahap demi tahap. Kadang terjatuh dan berdiri lagi, sampai akhirnya terbiasa dengan semua yang terjadi. Begitulah semestinya memahami kehidupan ini.

        Lalu ketika seorang teman bertanya, apa bisa kita belajar dari kesalahan? Saya memaknai bahwa tak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan dan bisa belajar dari kesalahan itu. Mengapa? Karena dari kesalahan dapat membantu kita untuk tumbuh, meningkatkan kualitas dan kemauan untuk terus belajar. Kesalahan, apapun itu akan menjadi cambuk dan motivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

        Teman saya ini cerita jika pernah melakukan kesalahan dalam bisnisnya, terlalu percaya dengan rekan kerja sehingga ia banyak merugi. Dan ini membuatnya tak mau berbisnis lagi. Olala. Padahal menurut John C Maxwell: Jika kamu ingin tumbuh, maka kamu harus mengatasi rasa takut yang kamu miliki untuk membuat kesalahan. Sementara Elbert Hubbert mengatakan bahwa kesalahan terbesar yang dapat kamu buat dalam hidup adalah karena terus menerus takut akan membuatnya.

        Nah, bahkan di dalam hadist menyebut bahwa "Seorang mukmin tidak boleh jatuh ke satu lubang dua kali" (HR. Bukhari Muslim) yang mengandung pesan perlunya seorang muslim untuk belajar dari kesalahan yang pernah diperbuatnya karena dapat dijadikan sebagai pelajaran yang berharga. 

 

Cara Belajar dari Kesalahan.

        Kesalahan memang sering terjadi tanpa kita sadari. Melakukan kesalahan bisa saja tanpa sengaja atau tidak direncanakan sebelumnya. Seringkali datang tiba-tiba dan pasti akan membuat kita kecewa. Lalu ketika mengalami itu, kita bisa merubah mindset dengan belajar dari kesalahan itu sendiri. Caranya antara lain: 

*Terimalah kesalahanmu dengan lapang dada. Langkah pertama ini akan membuatmu tak lagi terbebani dengan semua yang pernah terjadi. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, tinggal bagaimana menyikapi dan mencari solusi. Dengan menerima kesalahan sebagai bagian dari proses kehidupan yang wajar, maka diri kita akan lebih siap untuk melakukan rencana berikutnya.

*Cobalah mengevaluasi dan menganalisa penyebab kesalahan. Tentu ada tahapan saat kesalahan itu sampai terjadi. Evaluasi dengan refleksi diri, dan analisa mengapa sampai terjadi agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Dengan begitu maka sesak di dada karena kesalahan kita akan berkurang hingga tidak terasakan. 

* Mengambil pelajaran dari kesalahan itu dan jangan sampai membuatmu menjadi trauma. Pengalaman dengan kesalahan yang terus membekas memang bisa membuat luka. Tapi jika itu terpendam lama, maka akan menghambat kemajuanmu selanjutnya. Kesalahan justru bisa dijadikan motivasi dan memacu agar dapat membuat kita lebih berhati-hati lagi sehingga tidak akan mengalami kesalahan serupa. Lebih lagi bisa merubah strategi dan ide kreatif lain sehingga akan memperkaya wawasan kita. 

*Nikmati sebagai proses yang nyata dan syukuri sebagai hikmah dari kesuksesan yang tertunda. Kesalahan, meski bukan kegagalan akan bisa menjadi jalan menuju sukses selanjutnya, ketika tidak dihadapi dengan kemarahan dan kekecewaan yang berlebihan. Tapi dinikmati sebagai anugrah yang patut disyukuri karena bisa jadi dari kesalahan ini akan membuka kesempatan lain yang tak terduga.

 

Saatnya Refleksi Diri

        Menerima kesalahan menjadi bagian dari refleksi diri merupakan salah satu cara untuk berserah diri. Refleksi yang memiliki makna bercermin dan bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi patut dilakukan agar tidak menjadi beban di dalam hati. 

    Pentingnya melakukan refleksi akan membantu memahami kapasitas diri sendiri untuk mengembangkan potensi dengan maksimal tanpa membandingkan dengan orang lain. Proses memahami dan mengevaluasi diri ini akan dapat mengurangi rasa cemas, khawatir dan stres yang berlebihan. Saya sering melakukan refleksi ini dalam perenungan dan doa di sepertiga malam. 

         Belajar dari kesalahan dengan refleksi diri tentu akan membuat seseorang mampu mengatasi segala hal yang berkaitan dengan akal sehatnya untuk menjadi besar dan lebih berarti lagi. Ya. Karena: "Orang cerdas belajar dari kesalahannya, orang bijak tidak mengulangi kesalahannya.


        Salam sehat dan srlalu semangat.***NZ


Sabtu, 25 Mei 2024

Healthy Boundaries Dalam Pertemanan

        Menjaga kesehatan mental sangatlah diperlukan di zaman sekarang, apalagi bagi saya yang sudah fortyone plus. Ada batasan yang sebaiknya diperhatikan supaya tetap waras, sehat dan selalu bahagia.

by Nur Ida Zed

                                                        pic by pinterest

        Di setiap pertemuan bareng teman-teman, seringkali eksekusinya diadakan di tempat makan. Entah itu di restoran, coffee shop atau  warung pinggir jalan yang lagi banyak dibicarakan. Namanya juga ibu-ibu, soal makanan bisa jadi nomor satu selain agenda utama untuk meet up buat ngomongin banyak hal.

        "Enaknya ketemu dimana ini kita?" tanya salah satu teman di WA grup ketika sudah saatnya ketemu secara tatap muka dan tidak cukup lewat zoom saja. Yang lain membalas dengan menyebut nama restoran dengan makanan khas Timur Tengah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. "Nasi Mandinya enak tuh, dagingnya empuk banget" timpa yang lain. Lalu sekejap sudah asyik membicarakan tentang resto yang memang cukup terkenal itu, sebelum akhirnya ada yang komentar: 

 " Tenang aja Mbak Nurida, ada menu ayam juga selain daging kambing, kok, " lanjutnya.

          Saya menimpali dengan hanya satu kata: "Siip..." sembari menambahkan emotikon jempol. Artinya teman-teman memang sudah mengerti kalau saya mulai mengurangi mengkonsumsi daging merah, apalagi daging domba (baca: kambing) yang biasanya disertakan pada menu Nasi Mandi. Begitupun saat kami memilih restoran steak Abuba yang ada di Cipete di pertemuan berikutnya. Saya lebih memilih chicken steak well done daripada yang lainnya. Bukannya sok gaya, tapi ini sekadar bentuk kesadaran saya "membatasi" untuk kesehatan diri sendiri. Menjaga agar tidak kolesterol tinggi, hihihi...


Healthy Boundaries

    `    Memang sih, pada beberapa situasi dan kondisi kita perlu mengerti batasan untuk diri sendiri. Apalagi jika itu berkaitan dengan masalah kesehatan. Tak hanya soal konsumsi makanan saja, tapi juga banyak hal lain menyangkut healthy boundaries ini. Ya, healthy boundaries yang merupakan batasan yang dimiliki oleh seseorang untuk memastikan tetap merasa stabil secara mental maupun emosional. 

        Istilah boundaries yang berarti batasan ini merupakan limit yang menandakan hal-hal mana yang dapat diterima atau tidak, serta apa yang bisa ditolerir atau tidak untuk diri kita maupun orang lain. Menurut para ahli, batasan ini bisa secara fisik, emosional bahkan seksual yang ditentukan serta diterapkan oleh diri sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain. Manfaatnya tentu agar tetap menjaga kesehatan mental, spiritual serta fisik kita sendiri. 

        Ketika suatu ketika kita merasa tidak nyaman dengan satu pertemanan karena khawatir akan terbawa pada kebiasaan yang menurut kita kurang berkenan, lalu memberikan batasan untuk diri sendiri, ini juga implementasi dari healthy boundaries.  


Membangun Healthy Boundaries

        Setiap orang tentu memiliki batasan masing-masing untuk dirinya. Tergantung bagaimana menempatkan itu sebagai bentuk dalam pertemanan atau hubungan yang lainnya agar menjadi harmonis karena saling menghargai dan menghormati perasaan satu dengan yang lain. 

        Sebelum membangun self boundaries ada urutan yang perlu difahami, antara lain:

*Mengenali nilai dan prioritas pribadi. Perlunya mengenali diri sendiri serta batasan nilai dan prioritas yang ingin diterapkan menjadi urutan yang pertama. Misalnya karena saya komit dengan kesehatan yang menyangkut makanan non kolesterol, saya mulai membatasi dengan menghindari ini sebab saya sering membaca artikel betapa jahatnya kolesterol tinggi.

Tak hanya soal makanan, batasan yang menyangkut prinsip dalam pertemanan juga perlu diperhatikan. Seperti menghindari teman toxic, agar tidak lalu terjebak di lingkaran yang kurang sehat demi kesehatan mental sendiri. 

*Komunikasikan batasan dengan jelas. Pastinya ada cara yang pas untuk menyampaikan batasan yang kita miliki. Saya sering mengawali soal membatasi ini dengan kebiasaan yang saya perlihatkan pada teman-teman. Seperti saat mulai mengurangi daging merah, saya menunjukkan dengan pilihan menu lain sehingga mereka memahami.

Komunikasi mengenai batasan dengan jelas ini perlu disampaikan agar tidak membuat salah mengerti. Kalau kita memang tidak sedang ingin, maka sampaikan dengan signal yang baik agar bisa dimengerti.

*Berani berkata "tidak" untuk hal yang menyangkut batas toleransi. Ini penting agar kita tidak terjebak pada situasi yang terpaksa sehingga membuat mental jadi tertekan. 

*Terbuka menerima kondisi apapun saat membuat batasan yang disepakati, termasuk dampak secara fisik dan emosi. 

*Berusaha konsisten dan komit terhadap batasan meski kadang tidaklah gampang. Tanamkan dalam diri kita bahwa menetapkan batasan yang sehat merupakan proses berkelanjutan dan sangat bermanfaat untuk kebahagiaan diri kita sendiri. 

        Pada dasarnya, sebagai makhluk sosial kita memang tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain, denganteman, dengan lingkungan sekitar dan alam semesta yang menjadi bagian dari kehidupan ini. Tapi perlu diingat bahwa ada batasan yang dapat diterapkan agar kita dapat menjalani dalam hubungan interpersonal dan aktivitas sehari-hari.

    Batasan yang sehat ini membantu untuk tetap menjaga keseimbangan, menghindari stres yang berlebihan dalam memelihara hubungan baik dengan orang lain. 

        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ  



Rabu, 22 Mei 2024

Small Collaborations to A Big Positive Vibes

        Seseorang tak bisa hidup sendiri, selalu butuh orang lain untuk saling mengisi. Semacam kolaborasi agar lebih kreatif dan berkembang lagi untuk hidup yang semakin berarti.

by Nur Ida Zed

                                                            pic by pinterest

        Cerita mengenai kolaborasi yang kini semakin marak di berbagai generasi membuat saya tergelitik untuk sedikit menguliknya. Berbagai sebutan generasi yang menyangkut masanya tidak hanya soal usia, tapi juga menandai sebuah era dengan budayanya. Seperti Genenrasi Milenial yang ada di era milenial, Gen Alfa, Gen- X, GenMom, Gen-Y hingga GenZ yang masing-masing memiliki ciri khas yang menandai jati dirinya. Tak bisa dipungkiri karena jaman semakin maju maka tehnologi juga kian berkembang sehingga setiap saat dituntut untuk selalu update supaya tidak terlalu tertinggal dan bisa terus mengikuti jaman.

        Saya sendiri mengakui kurang begitu faham dengan tehnologi masa kini yang terus diperbaharui sehingga perlu berkolaborasi dengan orang lain yang lebih mengerti tentang itu. Kemudian di dalam Podcast Morning Daughter, saya berkolaborasi dengan putri saya Puan. Begitupun di Youtube Channel saya. 

        Tak ada kendala berarti ketika harus terbuka menerima ide dan masukan serta saran dari orang lain meski beda generasi sepanjang itu untuk kebaikan dan kemajuan sebuah karya. Gen Mom seperti saya tak lagi ibu yang harus dipatuhi dan diikuti segala aturannya ketika Gen Z seperti putri saya memberikan gagasan yang lebih baik dan bisa diterima. Ya. karena akhirnya kita akan menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang, tak hanya di dua generasi ini.

       Di dunia media sosial, seperti TikTok dan yang lainnya bahkan membutuhkan kolaborasi untuk menjadi kian besar dan berkembang. Di banyak karya besar yang kita kenal saat ini juga kerap lahir dari kolabarasi yang apik dari para ahli di bidangnya. Paduan dari berbagai ide gagasan yang membuat banyak orang terkesima. Ya. Kolaborasi memang menjadi tren di dunia kreatif saat ini.  


Apa itu Kolaborasi?

        Kata kolabari secara umum adalah bentuk hubungan yang dilakukan antar individu maupun kelompok atau organisasi yang berkeinginan untuk saling berbagi, saling berpartisipasi secara penuh dan saling bersepakat melakukan tindakan bersama. Jadi semacam kerjasama saling berinteraksi baik secara langsung maupun tidak untuk mendapatkan manfaatnya bersama. 

        Bagi para kreator, penulis maupun blogger, istilah "Collab" ini biasanya akan menelurkan ide kreatif dan menyelesaikan masalah rumit menuju visi bersama. Bentuk kolaborasi ini merupakan proses yang lebih formal dimana antar individu yang memiliki keahlian berbeda bisa berkumpul untuk memecahkan suatu masalah atau menciptakan sesuatu karya spektakuler yang baru.

        Pernah dengar para kreator seperti youtuber. podcaster atau blogger berkolaborasi dan berkumpul untuk membuat karya? Mereka membawa misi masing-masing untuk mewujudkan visi bersama. Kolaborasi dari berbagai tokoh yang akan membentuk sinergi dengan menyatukan gagasan sesuai dengan dirinya. 

        Ajakan untuk kolaborasi ini sebaiknya jangan sampai dilewatkan, karena akan mengasah kita dan membawa pada peluang kebaikan yang tak disangka. Seperti di youtube saya sering terima email untuk kolaborasi.  Ini menambah wawasan untuk mengembangkan diri.  Nurida Zuhayanti


Manfaat Kolaborasi

        Istilah yang sering kita dengar bahwa pemikiran banyak kepala akan lebih baik daripada ketika dipikir sendiri sangatlah relate dengan manfaat kolaborasi ini. Maksudnya karena dilakukan bersama-sama,  maka segala ide dan gagasan akan lebih mudah dilaksanakan dan efisien untuk tujuan akhirnya. Kolaborasi akan menjadi katalis untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam perusahaan, karena setiap individu akan berkontribusi dengan memaksimalkan potensi mereka. Semacam simbiosis mutualisme yang masing-masing individu akan mendapatkan manfaat sesuai dengan keinginannya.

        Untuk mendapatkan manfaat dan meningkatkan kolaborasi, ada beberapa hal yang perlu dicermati, antara lain:

* Bersikap terbuka terhadap segala bentuk ide dan gagasan dari semua anggota, atau pihak yang diajak berkolaborasi. Sebab setiap gagasan yang diberikan tentu sudah merupakan pemikiran yang matang menyangkut konsep yang ada pada mereka.

*Aktif mendengar apa saja yang disampaikan oleh rekan kolaborasi karena ini akan meningkatkan kemampuan kita dalam menahami konsep kolaborasi baik itu berupa ide, saran atau pendapat yang kadang berbeda dengan pemikiran kita.

*Menjaga komunikasi saat berkolaborasi akan memberi dampak positif bagi semua pihak. Tak perlu merasa ego dan mau menang sendiri saat harus menerima orang lain memunculkan pemikirannya. 

*Kerjakan proyek-proyek baru dengan menyenangkan tanpa didasari paksaan. Karena itu diskusikan dengan baik apa semua konsep dan tujuan yang akan dicapai dari proyek kolaborasi ini. Pastikan semua pihak saling menguntungkan dan memberi nilai lebih hingga tidak ada yang merasa dirugikan sama sekali. 


Bisa Cuan dan Tambah Relasi

        Dengan berkolaborasi tentu akan memudahkan kita menambah relasi dan hubungan baik dengan orang lain atau komunitas lain. Saling berbagi, mendukung dan mengisi satu sama lain akan memberi kontribusi yang baik bagi yang lain. Bila demikian, maka kolaborasi juga akan bisa menambah cuan.

        Banyak relasi, banyak silaturahmi, banyak rezeki yang bakal datang. Terbuka berkolaborasi juga akan membuka wawasan baru,  bertambah ide kreatif,  pengalaman serta jam terbang. 

       So, jangan segan untuk berkolaborasi ya. Dari hal yang kecil tak mengapa, karena siapa tahu akan menjadi besar dan memberikan dampak buat banyak orang. Tanamkan di pikiran bahwa kita layak untuk berkolaborasi dengan apa yang dimiliki. Teruslah mengasah diri, dengan menghasilkan karya-karya yang pantas untuk sebuah kualitas dan jati diri. Meski demikian, saat menentukan rekan kolaborasi sebaiknya pilih yang memiliki persamaan visi misi agar dapat terus memberikan manfaat dan impact positif sebagai energi untuk saling mengisi.        

        Selamat berkolaborasi yaa. Tunjukkan karyamu sekarang juga.

        Salam sehat dan selalu semangat.**NZ 


   

Minggu, 19 Mei 2024

Mengatasi Prokrastinasi Agar Lebih Produktif Lagi

         Kebiasaan menunda pekerjaan kerap disebut dengan prokrastinasi. Keenakan main hape sampai lupa menyelesaikan tugas utama. Bagaimana mengatasi hal ini agar semua bisa diselesaikan sesuai rencana dengan schedule yang  sudah ditentukan?

by Nur Ida Zed  


                                                pic by pinterest

        

        "Ah, nanti dulu, deh. Sedikit lagi." Begitu seringkali saat keasyikan melakukan sesuatu yang menyenangkan meski menyadari ada pekerjaan utama yang sedang menunggu untuk diselesaikan. Deadline, misalnya, atau tugas lain yang semestinya menjadi prioritas. Sering menunda-nunda untuk mengerjakan atau menyelesaikan tugas ini bisa disebut dengan prokrastinasi

        Istilah prokrastinasi ini merupakan serapan bahasa latin, dari "pro" yang artinya maju dan "crastinus" yang berarti besok. Jadi maksudnya semacam "tarsok" alias sebentar dan besok, atau lebih suka melakukan tugasnya besok saja. Selalu menunda dengan berbagai alasan dengan mendahulukan kesenangan meski menyadari ada hal yang seharusnya diutamakan.

 

Prilaku Prokrastinasi

        Berbagai alasan mengapa perilaku prokrastinasi ini begitu mendominasi saat dihadapkan pada setiap tugas yang ada, seringkali dialami ketika dekat-dekat deadline ya. Mulai ada rasa tidak mood untuk mengerjakan, bingung tidak tahu mana yang harus dikerjakan lebih dahulu, bournout atau bahkan meremehkan pekerjaan itu dan mungkin merasa stres serta putus asa ketika sedang menyelesaikan pekerjaan karena dibatasi waktu.

        Ya, perilaku ini bisa terjadi pada siapapun termasuk saya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini ternyata memiliki dampak buruk karena menunda hanya akan membuat pekerjaan menjadi sulit. Percaya atau tidak, sebuah studi menunjukkan bahwa menunda ini juga dapat meningkatkan resiko tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular. Terang saja, karena menunda pekerjaan penting akhirnya dapat menimbulkan kecemasan berlebihan hingga stres.

 

        Ada beberapa ciri yang menyebut soal prokrastinasi ini, antara lain:

* Rasa khawatir yang berlebihan mengenai tugas atau pekerjaan yang akan dihasilkan. Ekspektasi yang terlalu tinggi membuat keraguan untuk bisa segera menyelesaikan tugas sehingga butuh jeda waktu agar memberikan ketenangan.

* Cenderung memilih untuk mengerjakan kegiatan yang menyenangkan daripada menyelesaikan pekerjaan utama ketika masih memiliki tenggat waktu yang ditentukan. Misalnya deadline masih seminggu lagi nih, lalu boleh santai saja memilih menyelesaikan episode drakor yang masih panjang,

* Akhirnya merasa stres dan frustasi ketika harus segera menyelesaikan pekerjaan karena tiba-tiba sudah mendekati tenggat waktu yang ditentukan. Nah lho.


Cara Mengatasi Prokrastinasi

Agar tidak mengalami efek negatif dari prokrastinasi ini sebaiknya kita dapat mengatasi bahkan menghilangkan kebiasaan kurang baik yakni menunda pekerjaan ini dengan beberapa cara, antara lain: 

* Tuliskan rencana dengan skala prioritas dan selalu berusaha untuk menepatinya. List satu persatu secara teratur dan terperinci mengenai apa saja yang akan dikerjakan serta kapan diselesaikan dengan ditandai agar tidak ada yang terlewatkan lagi.

*Pilih mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan mana pekerjaan yang dapat diselesaikan selanjutnya. Meski masih ada kesempatan hingga tenggang waktu, pastikan semua sudah disiapkan sehingga tidak keteteran pada saat dibutuhkan. 

* Buatlah komitmen pada diri sendiri agar tidak tergoda dengan kesenangan yang kadang membuat kendala waktu menjadi tertunda. Misalnya main hape atau nonton serial drama korea yang kadang membius untuk terus mengikuti ceritanya hingga lupa waktu.

* Tetap fokus pada tujuan awal, kalau perlu minta bantuan orang lain seperti teman ketika mengalami kesulitan. Ada baiknya dekat dengan teman yang punya vibe positif dan memiliki tujuan yang sama sehingga bisa saling membantu dan mengingatkan, bukan sebaliknya.

*Jangan membiasakan diri untuk menunda pekerjaan, dan menyelesaikan di saat-saat terakhir dengan alasan menunggu mood atau lainnya. Langsung kerjakan apa yang dapat dikerjakan, tanpa berpikir untuk menunda sekejap karena akhirnya hanya akan menyulitkan diri kita.  Lebih dari itu, pekerjaan yang dilakukan dengan terburu-buru tentu hasilnya kurang sempurna.  Tidak mengapa jika pekerjaan telah selesai lebih dulu dan masih punya waktu, sehingga bisa mengulang dari awal agar lebih perfect lagi.

*Ada baiknya tentukan target pekerjaan setiap harinya. Tak apa sedikit memaksa diri untuk segera menyelesaikan tugas dan menjauhkan diri dari berbagai gangguan seperti ponsel dan televisi.

*Sesekali berikan apresiasi terhadap diri sendiri ketika tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai rencana tanpa sedikitpun menunda. Saat merasa bahagia dengan kebiasaan ini, maka motivasi untuk tepat waktu akan terus muncul dan menjadi habit yang baik dan menyenangkan. 

Ketika satu pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu, maka akan segera disusul dengan pekerjaan yang lain, sehingga akan menguntungkan diri kita sendiri juga.

        Nah sebaiknya jangan menunda pekerjaan ya, agar rezeki tidak dipatok ayam.

        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

 

    




Selasa, 23 Januari 2024

No Time for Overthinking

        Wajar gak sih, kalau kadang kita suka baperan, alias dibawa perasaan. Hmm, boleh saja asal tidak terlalu berlebihan.

by Nur Ida Zed


                                                    foto pinterest created by puan

        

        Bicara perasaan itu tidak ada ukuran yang baku, karena pada setiap orang tidak selalu sama. Bila menyangkut masalah perasaan, tentu akan terkait dengan rasa enak gak enak, serta nyaman dan tidak nyaman, karena berkaitan dengan emosi dan sensitifitas seseorang. 

        Di kalangan ibu-ibu, baper ini juga sering terjadi. Bahkan rentan disaat rapat atau mengadakan pertemuan karena sarat dengan banyak topik pembicaraan. Para ibu tidak hanya bicara soal pengembangan diri, bisnis dan usaha, sharing inspirasi, tukar pengalaman dan cara pandang saja, tapi kadang juga menyinggung soal issue terkini yang lagi marak, dari masalah politik sampai masakan favorit dan tempat makan juga. Itulah serunya. Sambil bercanda-canda, berbincang ringan secara random melepas kangen yang mungkin bisa lose control. Ini yang kadang membuat ada saja yang merasa tersinggung hingga baper. Bahkan sampai selesai meet up masih dilanjut japri agar tidak menjadi beban pikiran. 

        "Itu tadi maksudnya bukan menyinggung saya, kan?" chat japri masuk di WA saya. "Ah, enggaklah. Itu tadi cuma ngobrol untuk memecah suasana saja. Dia pasti gak bermaksud menyinggung siapa-siapa." jawab saya lewat chat juga. "Take it easy" sambung saya sembari menyematkan emotikon hati. Bahkan saya sendiri sudah lupa dengan apa yang dibicarakan tadi. Tapi semua harus baik-baik saja.

        Dan rasa tersinggung yang menjadi baper ini sering diungkapkan lewat status media sosial juga ya, beberapa orang merasa menyindir dirinya. Wah pasti rasa tidak enak hati ini membuat segalanya menjadi tidak nyaman. Padahal ini harus segera diatasi.

  

    Baper atau dibawa perasaan yang erat kaitannya dengan overthinking ini biasanya menyinggung masalah yang sensitif. Pada situasi tertentu,  orang bisa merasa baper dan menganggap menyinggung, bahkan menyindir dirinya. Untuk hal kecil saja dimasukkan ke hati sehingga membuat rasa tidak nyaman yang membelenggu pikiran. 

        Banyak sih penyebab orang menjadi baper dan mudah tersinggung. Seperti pengalaman masa lalu, latar belakang pendidikan, lingkungan sekitar dan kebiasaan serta cara pandang terhadap sesuatu. Orang yang mudah baper karena merasa orang lain menyinggung harga dirinya. Karena terlalu menanggapi sesuatu hal atau tindakan seseorang secara pribadi. Orang yang baper membuat membuat emosinya menjadi tidak stabil dan lebih sensitif sehingga berdampak pada kesehatan.


     Nah, untuk mengatasi masalah ini, menurut saya ada beberapa hal penting yang perlu diperhatian. Antara lain: 


*Hilangkan rasa tidak enak hati. Pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan rasa tidak enak hati. Kadang rasa ini begitu saja datang tanpa bisa dikontrol ketika ada sesuatu yang meski tanpa sengaja menyinggung. Menurut saya hal ini tidak perlu dimasukkan hati, dan anggap angin lalu saja. 

        Pikirkan selalu kesehatan diri karena rasa tidak enak hati ini bisa mempengaruhi mental dan jiwa kita. Belum tentu orang lain menanggapi hal yang sama, sehingga rasa tidak enak hati ini sebaiknya diabaikan saja. Tak perlu ditanggapi karena hanya buang-buang waktu.


* Fokus pada kegiatan sendiri, tak peduli pikiran orang lain. Di saat merasa baper terhadap sesuatu, sebaiknya alihkan pikiran ini pada kesibukan tertentu yang dapat melupakan kebaperan itu. Pikir segala sesuatu yang positif. Lepaskan lewat aktivitas menyenangkan hingga tidak memberikan ruang pada memori otak kita untuk perasaan yang tidak berguna.

        Tak perlu peduli dengan pikiran orang lain, karena belum tentu apa yang dimaksud seperti apa yang kita rasakan. Bila membiarkan ini, maka akan merusak diri sendiri, dan orang lain tentu tidak akan peduli.  


* Perlu bersikap masa bodoh. Untuk sesuatu yang tidak penting, sikap masa bodoh ini memang diperlukan. Jangan bebani pikiran dengan memikirkan hal yang belum tentu kebenarannya, terutama yang menyangkut pada diri kita. Kalimat "Bodo amat" akan membuat kita terbebas dari tekanan pikiran dan lebih mudah move on dari segala persoalan.

        Saya percaya saat sikap bodo amat ini diterapkan pada porsinya, maka akan berimpact pada kesehatan mental kita. Begitu banyak hal yang lebih penting untuk dibahas dan dipikirkan, maka tak perlu terpaku pada sesuatu yang menyesakkan. Take it easy, kata saya. Santai saja. Dan ini bukan berarti membuat kita tidak peduli, tapi lebih pada bijak menyikapi. 


* Selalu menumbuhkan empati. Rasa baper yang berlebihan dan overthinking ini selalu berkaitan dengan pendapat dan pikiran serta asumsi orang lain. Sebaiknya alihkan sebagai rasa empati terhadap masalah ini. Ketika merasa orang membicarakan kita, entah itu menyinggung, menyindir atau apapun itu, tumbuhkan rasa empati saja. Maklumi mungkin  memang mereka tidak sengaja dan memaafkan.

        Rasa empati ini akan membuat hati lebih bahagia. Dan kita tidak perlu mengikuti alur perasaan yang nanti akan membuat hidup tidak nyaman. Hadirkan selalu energi positif dalam pikiran agar lebih bermanfaat dan memberikan ketenangan. 


*Berserah dan bersyukur. Tak perlu lagi berprasangka yang berlebihan karena sayang bila waktu kita terbuang begitu saja. Baiknya berserah dan bersyukur mengenai apapun yang dapat mengganggu pikiran. Akan lebih baik jika memperbanyak istighfar di saat baper dan kembali sadar bahwa di dalam kehidupan tak ada yang sempurna. 

        Berserah diri bahwa fenomena hidup harus disikapi dengan rasa syukur, tanpa mengeluh dan luapan emosi yang berlebihan. Sikap tawaduk yang rendah hati dan tidak sombong menjadi salah satu solusi terbaiknya. Peka terhadap sesuatu yang baik sih tidak mengapa, tapi kalau sudah berlebihan tentu tidak ada gunanya.

      Kepada Gen Z, rasa baper ini juga pasti sering dialami. Apalagi yang menyangkut hubungan antar mereka. Sikap tawaduk yang rendah hati dan tidak sombong menjadi salah satu solusi terbaiknya. Pahami bahwa ini kurang baik dan akan mengganggu bahkan menghalangi kemajuan dalam berfikir dan bersikap. No time for overthinking. Lakukan segala hal yang produktif. Keep your time to positive thinking. 

        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ


Sabtu, 20 Januari 2024

Rayakan Pesta Lima Tahunan

         Setiap menjelang pemilu seperti saat ini, banyak hal yang bisa dipelajari. Pesta lima tahunan ini harus dilewati dengan damai dan suka hati.

by Nur Ida Zed


                                                foto: pinterest, edit by puan


        Tahun 2024 ini Indonesia kembali bersuka cita karena adanya pesta lima tahunan alias pemilu. Dimana kita sebagai warga negara berkesempatan memilih calon wakilnya di legeslatif, juga calon presiden dan wakil presiden secara langsung untuk memimpin negeri ini. Dengan slogan luber, atau langsung, umum, bebas dan rahasia, semua masyarakat pemilih memiliki hak pilih yang sama untuk menyuarakan lewat pencoblosan.

        Dari awal gaungnya sudah bisa dirasakan, manakala masyarakat begitu antusias menyambut pesta ini. Bahkan dari mulut ke mulut, lewat semua medsos dan berita di semua channel televisi ikut serta membahas soal ini. Memang seru untuk diperbincangkan, dan memberikan insight baru, terutama buat Gen Z seperti Puan, putri saya yang kali ini baru pertama kali akan ikut pemilu.

        Sejak ditetapkannya para kandidat, saya mulai ingin tahu lebih banyak mengenai sosok capres dan cawapres yang ada. Tak percaya begitu saja, saya juga searching di Mbah Google, media sosial serta update berita untuk mengetahui rekam jejaknya agar pilihan nanti semakin mantab. Terlebih karena beberapa kandidat juga merupakan pejabat pemerintah yang masih menjabat maupun mantan pejabat sehingga kita mengenal dan bisa merasakan masa kepemimpinannya. 

    Misalnya sebagai warga Jakarta, saya tahu bagaimana ketika dulu segala aspirasi segera ditangani, kemudian hanya ditampung saja. Ketika pulang dan mampir Solo merasa lebih nyaman karena banyak barang yang murah dan suasana yang ramah tertata. Pas lewat Semarang seringkali krodit karena banyak ruas jalan yang tak pernah selesai diperbaiki. Sesimpel itu sebagai warga non partisan seperti saya melihat bagaimana pemimpinnya peduli. Gak perlu banyak kata-kata, tapi yang penting bukti.


Perlunya Melek Politik

    Sekali lagi saya salah satu warga non partisan, tapi merasa penting melek politik agar tahu dan mengerti bagaimana berjalannya tata kelola negeri ini. Politik tak hanya soal bagaimana memilih pemimpin yang benar, tapi juga soal kebijakan yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Jadi tidak asal protes dan mengkritisi, namun juga cara menyampaikan solusi. 

       Di kalangan kaum ibu-ibu dan juga Gen Z seringkali menolak bila bersinggungan dan menyebut kata politik.  Karena menganggap bicara soal politik itu terlalu berat. Padahal tidak demikian,  karena politik tidak seseram yang dibayangkan ketika dimaknai dengan bijaksana. Politik yang berasal dari bahasa Yunani, dari kata Polis yang berarti negara, memiliki arti sebagai suatu aktivitas yang dibuat, dipelihara dan digunakan untuk masyarakat guna menegakkan peraturan yang ada di masyarakat itu sendiri. Jadi sebagai warga, ada baiknya melek politik karena itu menyangkut kepentingan kita juga. 


        Perlunya melek politik ini bukan berarti fanatik apalagi ekstrim, tapi lebih pada pendekatan yang logis dan terbuka dalam cara pandang serta bijaksana dalam bersikap. Politik yang sehat, politik yang menyenangkan akan berdampak pada kebaikan dan kerukunan bangsa, sehingga membawa pada kemaslahatan bersama. Antara lain:

*Menumbuhkan rasa toleransi. Banyaknya partai politik yang tergabung dalam koalisi untuk mendukung calon tertentu seringkali membuat kita berbeda pilihan, juga beda pendapat dan kepentingannya. Dengan melek politik maka akan tumbuh toleransi bahwa perbedaan itu hal yang biasa saja, karenanya harus disikapi dengan bijak tanpa permusuhan dan saling menjatuhkan, apalagi menghalalkan segala cara demi kekuasaan semata. 

*Cara berdiplomasi. Ada tata cara yang elegan saat ingin mengemukakan sebuah kritikan, misalnya, tidak cukup asal cuap agar tujuan bisa mengena. Butuh diplomasi dan keberimbangan dengan menawarkan solusi tanpa terkesan membuli. 

 *Memahami kebijakan. Setiap kebijakan yang dihadirkan pastinya memiliki proses yang panjang dan terikat dengan peraturan. Mengerti politik berarti memahami kebijakan yang diputuskan, menerima sebagai legacy dari kepemimpinan untuk generasi mendatang. 

*Menyuarakan pendapat. Berpolitik berarti mampu menyuarakan pendapat ketika melihat kegelisahan yang harus diluruskan. Tak hanya diam, tapi bersuara dengan sopan sehingga mampu memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembangunan negeri ini.

*Melawan hoaks. Tak bisa dipungkiri di tahun politik seperti ini banyak sekali berita yang tidak benar sengaja diciptakan untuk tujuan menjatuhkan. Dengan melek politik jadi lebih tahu dan waspada untuk selalu melawan hoaks. Tak begitu saja percaya dengan issue yang tak berdasar, tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.

*Politik damai dan saling menghargai. Penting dipahami dalam berpolitik perlu adanya saling menghargai terhadap ide dan gagasan yang disampaikan. Tak ada menang kalah karena semua demi kepentingan bangsa dan negara agar tetap menjaga suasana damai dan menyenangkan.


        Di sisi lain, kontestasi politik yang ada sekarang ini diharapkan mampu melanjutkan pembangunan sebelumnya dan menyempurnakan yang sudah ada. Pemilu menjadi ajang yang ditunggu bagi masyarakat  sehingga semua kalangan ikut berpartisipasi dan memberikan suara dengan rasa gembira. 


Senang Banyak Diskonan

        Sudah beberapa kali melewati pemilu, saya selalu menunggu karena saat itu banyak tenant atau brand ternama yang memberikan pesta diskon kepada para pemilih dengan menunjukkan jari bertinta. Di hari itu diharapkan semua warga semarakkan acara lima tahunan ini dengan suka cita, damai dan bahagia.

    Meski non partisan saya tentu memiliki pilihan calon yang nanti akan dititipi amanah untuk merealisasikan janji-janjinya lima tahun ke depan. Bagi saya, siapapun presidennya, yang terpenting harus tetap giat bekerja dan berkarya agar selalu berdaya. Ya. Karena tujuan utama berpolitik hendaknya  sama yakni untuk kemajuan Indonesia.  

         Salam sehat dan selalu semangat.***NZ 

Rabu, 17 Januari 2024

Legacy Tak Semata Soal Materi

      Sebenarnya tidak hanya materi yang dapat dijadikan legacy, tapi juga nilai luhur yang patut dijunjuung agar kelak bisa diterima dimanapun.

by Nur Ida Zed 


                                                    foto dokpri @nuridazed


        Belum lama ini saya mendapat telepon dari seorang kerabat. Meski lupa-lupa ingat, karena sudah begitu lama tidak ketemu lagi, ternyata saudara dari ibu yang mengabarkan keberadaan tanah di Kudus. Waktu itu, memang sudah lama sekali saya pernah diajak ibu untuk menemui para kerabatnya di kota kretek ini, sekalian menengok peninggalan keluarga berupa tanah yang cukup luas. 

        Saya dikenalkan dengan keluarga ibu dari bapaknya. Jadi eyang kakung saya yang sudah lama tiada. Bahkan menurut cerita, eyang ini meninggal disaat ibu saya masih kecil. Tentu saja bermaksud untuk silaturahmi, agar tidak "mati obore" kata orang Jawa, supaya saling mengenal antar kerabat, sekaligus menceritakan silsilah dan bagian dari legacy keluarga besar untuk anak cucu cicit buyut. Sebagai anak pertama dari ibu, rasanya saya punya tugas untuk tetap menjaga salah satu legacy keluarga ini.

    Tentu saya senang, juga bersyukur bahwa keluarga eyang meninggalkan aset sebagai legacy, meski sebenarnya juga meninggalkan pesan tersirat seperti: dalam hidup harus selalu rukun dan terus menjaga nama baik keluarga dimanapun kita berada. 


Tentang Legacy

        Seringkali kita mendengar kata legacy, yang dalam kamus bahasa berarti warisan, peninggalan dan harta pusaka. Sementara menurut kamus Mirriam-Webster mengartikan legacy dalam dua perspektif, yakni berupa harta fisik yang diwariskan kepada seseorang seperti uang, tanah, properti dan materi lain. Serta perspektif kedua yang bersifat lebih luas, yaitu legacy sebagai sesuatu yang dialihkan oleh generasi pendahulu kepada generasi berikutnya.

        Legacy ini hendaknya memiliki nilai yang diharapkan mampu memberikan manfaat dan berdampak positif. Setiap manusia tentu ingin memberikan yang terbaik sebagai legacy agar bisa dikenang dan dihargai. Sebagai makhluk Tuhan yang kelak pasti akan kembali. Ibaratnya, di saat kita masih ada, dan diberi kesempatan, persiapkan diri untuk memberikan warisan terbaik buat anak cucu, meski tak semata soal materi.


        Menurut saya hal-hal kecil yang dapat memberikan kebaikan bisa menjadi legacy bagi generasi mendatang, antara lain:

* Memberi contoh yang baik. Generasi sekarang butuh role model yang baik untuk sesuatu yang menyangkut pengembangan diri, kepribadian dan cara pandang yang positif terhadap berbagai hal. Dimulai dari diri sendiri, dengan menghargai budaya dan kebiasaan yang diturunkan oleh para leluhur. Teladan yang baik dibutuhkan agar membawa pada generasi emas yang diharapkan.

* Berkarya dengan cinta. Melakukan semua pekerjaan dengan cinta. Secara profesional, tanggung jawab dan sepenuh hati. Karya dengan cinta akan tumbuh dari hati, yang juga akan menyentuh hati sehingga akan memberikan energi positif dan efek yang baik bagi penikmatnya. 

* Menghargai waktu. Hal kecil yang akan menjadi penting salah satunya dengan menghargai waktu dan komitmen terhadap janji. Tak perlu muluk memberikan ekspektasi, dimulai dari menghargai waktu dan disiplin diri sebagai kebiasaan yang terpuji. Dari sini orang akan terlihat bagaimana menghargai orang lain. Dan ini adalah legacy yang harus dipertahankan.

* Beribadah lebih baik. Tunjukkan hubungan kepada Tuhan dengan cara beribadah yang lebih baik. Ini bisa menjadi legacy karena akan memberikan dampak pada kualitas pribadi seseorang serta bagaimana makhluk yang mentaati aturan dari Sang Pencipta. 

* Kejujuran yang utama. Agar mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan lahir batin, maka sikap terbuka dan kejujuran menjadi hal utama. Setidaknya jujur pada diri sendiri dan mengikuti kata hati sehingga tak mudah tergoda oleh hal yang tak berguna. 

* Selalu berpikir positif dan hidup sederhana. Tanamkan pada gaya hidup kita untuk selalu berfikir positif terhadap sesuatu hal. Menumbuhkan rasa optimis dan cenderung hidup sederhana.   


Menjaga Nilai Legacy 

        Untuk menjaga legacy maka membutuhkan komitmen dan konsistensi. Di saat menerima legacy, jadikan sebagai amanah yang harus dijaga dan dilanjutkan keberadaannya. 

        Pernah mendengar seorang diva mewariskan kepiawaian kepada anaknya, atau pengusaha yang menurunkan bakat bisnis kepada karyawan, juga bawahannya. Serta kreator yang meninggalkan karya besar sehingga mampu mengangkat namanya. Buat yang akan menerima legacy ini, persiapkan mental agar bisa menyerap hal yang ingin disampaikan kepadanya.

        Sebagai generasi penerima legacy tentu harus terus berusaha untuk menjaga nilai yang disisipkan pada setiap hal, termasuk moral dan spiritual yang ada di dalamnya. Menghargai semua peninggalan dan melestarikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.

        Ya. Apapun itu yang menyangkut legacy, hendaknya memberikan nilai positif dan manfaat buat masa depan bangsa.


        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ