Minggu, 21 September 2014

Blogging: Make Me Happy, Making Money ?




Catatan Female Daily Blogger Workshop and Conference
By Nur Ida Zuhayanti

Tak sekedar menuangkan buah pikiran ke dalam blog. Lebih dari itu, ngeblog akan membuat happy, bisa menginspirasi dan menghasilkan uang.

    Ya. Hampir semua orang suka narsis dan bisa jadi memiliki kegemaran menulis. Setidaknya ketika ingin curhat lewat diary, atau update status. Sejak membooming sekitar satu dekade lalu, blog tetap menjadi pilihan yang kian marak hingga kini. Apapun yang kita searching di internet, blog mampu memberikan informasi yang diinginkan dari berbagai sudut pandang. Tak heran bila kehadirannya mampu memberi market effect yang demikian hebat. Sehingga banyak figur yang mendulang kesuksesan berawal dari blogging

     Hanifa Ambadar,misalnya. CEO Female Daily Network ini memulai blogging sejak tahun 1999. Hani, begitu fashion&beauty blogger yang cantik ini biasa disapa kini memiliki komunitas perempuan terbesar di Indonesia dengan 170.000 member. Siang itu, saya menemuinya di sela acara Blogger Workshop and Conference di Hotel ArtOtel, Jakarta. 

     Banyak pembicara yang dihadirkan. Antara lain Fifi Alvianto, hijaber blogger yang juga Editor in Chief Laiqa Magazine, Saphira Zulfikar dan Marischka Pruedence, travel blogger serta Affi Assegaf yang story  sharing seputar dunia blog.   

Passion and Action
    
     Berbagai tips dan trik banyak diberikan mengenai bagaimana mengelola blog. Seperti pemilihan content, building relationship and creating partnership, learning blog analitics with google dan yang lainnya.

     Simon Toring, Head of Content Loxola serta Emily Quak, beauty blogger dari Malaysia juga membuka rahasia kesuksesannya. Kehadiran Ricky Tjok, Online Campaign Manager Google Indonesia pun melengkapi conference ini. Mereka berbagi passion melalui blog. “Blogging is a way to channel my passion that leads me to limitless opportunities,” terang Hanifa Ambadar. Selanjutnya, action dengan melakukan update secara continue, agar menambah performanya.

      Acara yang dipandu oleh Miund, Head of Communication Creative Hothouse dan disponsori oleh Lenovo @Lenovo_ID serta CommonwealthBank ini terasa seru dan menginsipasi. Dan pastinya akan memberi banyak manfaat buat para perempuan. So, Lets blogging. Make a happy, making money.***NZ
foto: female daily

Senin, 25 Agustus 2014

Parfum dan Karakter Perempuan



Feature: Antara Parfum dan Karakter Perempuan 
By Nur Ida Zuhayanti

Perempuan tak bisa dipisahkan dari wewangian. Kelembutan dan eksotis yang dimiliki dapat tercermin lewat pilihan aroma parfum yang dipakainya.

    Ya. Wewangian memang mempunyai kekuatan yang dapat membawa imajinasi seseorang. Dan itulah dahsatnya parfum. Wanginya sanggup menyusup membangkitkan imaji dan kenangan. Bahkan menurut Mietha, suatu ketika kekasihnya yang  sedang bertugas ke Surabaya itu tiba-tiba datang karena sedang berpapasan dengan orang yang memakai parfum sama seperti yang dipakainya. “Kangen,” begitu kata auditor sebuah bank pemerintah yang menyukai parfum bernuansa lembut serta feminim macam Kenzo dan Nina Ricci ini. Baginya, parfum merupakan pelengkap kosmetik yang keberadaannya seperti bedak dan lipstik saja.

     Begitu juga Anny. Bedanya, Public Relation ArtComm ini lebih suka nuansa spicy yang sedikit maskulin dengan aroma terapi. “Aku memang tidak terlalu fanatik dengan parfum tertentu. Kadang-kadang bahkan suka bereksperimen,” terang penyuka shopping yang selalu membawa parfum dalam tas kerjanya ini. Ia mengoleksi beberapa merek seperti Estee lauder, Nina Ricci hingga Odise keluaran Issey Miyake. Pada kesempatan tertentu, seperti ketika sedang bertemu klien atau berdua dengan pasangan, ibu muda ini mengaku selalu memakai parfum untuk menambah kenyamanan. Ia merasakan kehadiran parfum sebagai pelengkap yang berarti bagi dirinya. Namun lepas dari semua itu, adakah rahasia di balik parfum seorang  perempuan?

Cerminan Karakter
     Tak bisa dipungkiri bila kebanyakan perempuan memang menyukai parfum. Setidaknya wangi-wangian atau harum-haruman untuk kenyamanan dirinya. Dalam kehidupan sehari-hari saja, misalnya, perempuan membersihkan badan dengan sabun wangi. Juga memakai pakaian yang dicuci dengan deterjen yang beraroma harum, dan terkadang masih ditambah pula dengan pewangi.

     Begitupun untuk perawatan tubuh seperti bedak, lulur, shampoo, pelembab, facial, hand and body lotion dan sebagainya yang mengandung unsur wewangian dengan berbagai macam pilihan aroma.  Bahkan pada dasarnya, tidak hanya perempuan, tapi semua orang tentu memilih bau harum dari pada sebaliknya. Sebab bau harum itu setidaknya dapat memberikan stimulasi pada seseorang, semacam kesegaran, ketenangan, kedamaian, dengan catatan apabila sesuai dengan indera penciuman masing-masing individu.
    
     “Khusus untuk parfum, bagi perempuan merupakan sesuatu yang sangat pribadi keberadaannya. Parfum bisa mencerminkan karakter pemakainya, “ terang Poppy Dharsono, desainer yang pernah meluncurkan produk parfum berlogo namanya itu ketika saya temui di rumahnya, siang itu. Misalnya: tipikal perempuan yang mempunyai pribadi yang classy dan elegant, biasanya cenderung memilih parfum dengan aroma spicy. Sedangkan yang sportif, akan cenderung memilih aroma lemon atau orange. Sementara yang maskulin, akan lebih berat pada aroma woody, atau sedikit tobacco. Dan bagi perempuan dengan tipe lembut, akan lebih nyaman dengan aroma mawar yang kental. Untuk aroma melati, biasanya banyak dipilih oleh perempuan yang romantis.

     Pada beberapa perempuan, memilih parfum bisa tergantung suasana dan kesempatan tertentu. Untuk pagi hari, misalnya, lebih cenderng ke aroma bunga-bungaan agar membawa kesan segar alami. Sedang untuk siang hari, biasanya dipilih yang tidak terlampau keras mengingat pengaruh udara yang panas. Sementara untuk suasana malam, biasanya lebih berani memilih yang eksperimental.

     Namun bagi beberapa perempuan lain, pertimbangan suasana dan kesempatan bisa saja tidak berlaku. Ia lebih nyaman dengan satu aroma, bahkan satu merek tertentu yang dirasa telah cocok dan menyatu dengan dirinya, hingga tidak mempertimbangkan lagi suasana dan acara apapun.

Sesuai  Nudge
     Memakai parfum  yang sama bagi masing-masing orang bisa saja berbeda harumnya. Artinya, meski dengan aroma yang sama, kalau sudah dipakai dapat saja berubah dan berbeda. Hal ini disebabkan karena pH kulit masing-masing orang serta unsur hormonal yang tidak sama. Dan ini dapat dipengaruhi oleh pola hidup serta makanan yang dikonsumsi, maupun mutu dan macam parfum itu sendiri.

     Mengenai mutu parfum, menurut Poppy sangat ditentukan oleh nudge, atau aroma yang ditebarkan. Dan ini dapat dibagi menjadi tiga tahapan terhitung sejak pertama parfum disemprotkan atau dipakai, yakni:

-         Top Nudge- aroma awal yang langsung menebar hingga 15 menit.
-         Body Nudge- aroma yang melekat setelah sekitar 2 sampai 5 jam dan telah menyatu dengan     aroma tubuh.
-         Bottom Nudge- sisa aroma yang tertinggal, yang sangat menentukan kwalitas sebuah parfum.

     Untuk standar parfum berkelas, biasanya melewati tiga tahapan nudge di atas, yakni top-body dan bottom nudge, sehingga sekali pemakaian bisa bertahan sampai seharian atau bahkan lebih. Namun ada beberapa parfum yang sengaja dibuat antara tahapan nudge yang memiliki tebaran aroma yang berlainan.  Nah, pilihlah  parfum  yang  sesuai  dengan  diri  kita.***NZ
foto: istimewa

Senin, 05 Mei 2014

Dewi Hughes, Memerangi Perdagangan Anak



Women Charity: Dewi Hughes International Foundation
By Nur Ida Zuhayanti

Perempuan dan anak-anak seringkali menjadi obyek eksploitasi. Inilah yang membuat  keprihatinan tiada henti. 


       
     Ya. Banyaknya kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini membuat miris suasana hati. Betapa tidak. Hampir setiap hari terjadi korban penganiayaan, pelecehan, pembunuhan, mutilasi, bahkan perdagangan anak, hingga oleh beberapa media sempat menyebut sebagai darurat perlindungan anak.

     Semakin maraknya kasus yang melibatkan anak-anak ini, terutama trafficking membuat rasa kepedulian Desak Made Hughesia Dewi tersentuh. Sosok yang lekat dengan dunia anak-anak dan tak henti memikirkan perkembangan generasi penerus bangsa itu lalu menambah kegiatan kemanusiaannya untuk masalah perdagangan perempuan dan anak-anak setelah ia terpilih menjadi Duta Anti Trafficking  untuk Indonesia oleh Unicef.

     “Dengan begitu banyaknya musibah yang datang bertubi-tubi di negeri ini, maka yang paling menderita adalah para perempuan dan anak-anak,” terang Dewi Hughes seolah menegaskan sore itu, saat saya temui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. “Dalam keadaan yang serba sulit, dengan kondisi yang terjepit, siapapun tentu membutuhkan uluran tangan dari orang lain. Tapi sempatkah kita berfikir, bahwa ada saja para pihak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan ini? Seperti beberapa Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ternyata hanya diperjual belikan atau bahkan dilacurkan oleh PJTKI ‘nakal’. Belum lagi perdagangan anak dengan alasan akan diadopsi,” lanjut pemilik Sekolah Presenter Cilik yang menerapkan metode belajar learning by doing , yang kini juga menjadi Duta PAUD-Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan In Formal dan Non Formal ini.

     Lalu ia menceritakan pada saya, kenyataan yang pernah ditemui di lapangan. “Siapa sangka, ketika ada orang yang bermaksud mengadopsi anak dengan mempertimbangkan golongan darah, ternyata anak itu hanya akan diambil salah satu organ tubuhnya saja. Hm…betapa mirisnya. Tapi ini benar-benar ada,” cerita Hughes lagi.

     Menghadapi kenyataan yang seperti inilah, bersama Dewi Hughes International Foundation, perempuan kelahiran Tabanan, Bali, 2 Maret 1971 itu merasa perlu meminta pemerintah untuk segera membuat Undang-Undang yang melindungi kaum perempuan dan anak-anak dari masalah tersebut. “ Rasanya sudah sangat mendesak. Apalagi bila melihat banyak daerah yang baru saja terkena bencana seperti banjir, tsunami, tanah longsor, gempa dan sebagainya yang dapat menjadi pemicu kaum perempuan dan para ibu semakin rapuh,” terangnya. Oleh karena itulah perlu adanya dorongan semangat bagi mereka ini agar tetap dapat berfikir jernih.

     Menurut Hughes, untuk mencegah terjadinya trafficking ini diperlukan tindakan preventif. Salah satunya dengan melakukan kampanye dan memberikan penyuluhan ke lokasi yang rawan menjadi sasaran mafia trafficking seperti daerah-daerah miskin dan pasca bencana. Ini tugas  kita semua, ya. Mari tumbuhkan rasa empati terhadap korban yang kian hari makin bertambah saja. Let’s  touch our heart. ***NZ
foto: istimewa

Minggu, 30 Maret 2014

Batik, Budaya dan Filosofi



Catatan Batik dalam Budaya dan Filosofi
By Nur Ida Zuhayanti


Selain membawa kenyamanan dan keindahan, dalam selembar kain batik tersimpan makna filosofis, sosial dan cultural. Batik, merupakan dokumen yang sarat makna

      Memakai batik kini tak lagi didominasi oleh kalangan tertentu. Hampir semua masyarakat menyukai corak batik sebagai busana serta pelengkap fashion lainnya. Bahkan para petinggi negara telah mencanangkan hari batik sebagai hari nasional, sehingga ada hari tertentu yang diwajibkan memakai busana bercorak batik, karena batik memang merupakan cerminan budaya bangsa. Dalam perjalanannya, batik memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan kultur sosial masyarakat tertentu di negri ini, termasuk di dalamnya budaya Tionghua.

       Ya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh kebudayaan Tionghua telah begitu melekat di kawasan Nusantara. Dari peradaban, gaya arsitektur, menu makanan, hingga fashion dan model pakaian, banyak diabsorbsi dari negeri tirai bambu ini. Hadist Nabi yang mengatakan: “Belajarlah sampai ke negeri China”, seolah memberi recoment pada negeri yang penuh dengan seni budaya dan filosofi ini. Sebab di Tionghua, semua dokumen serba tercatat, dan bisa ditelusuri asal muasalnya. Berikut catatan saya mengenai Batik dalam Budaya dan Filosofi dari Seminar Tekstil Tradisional, yang diadakan oleh Direktorat Jendral Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Museum Nasional, Jakarta.

Filosofi Batik

Dalam kehidupan sehari-hari, bangsa Indonesia memiliki tradisi yang bersifat “Dualisme Witungga”. Yaitu suatu tradisi yang menyebutkan adanya kehidupan yang selalu berpasangan,  dimana ada “Dunia Atas” seperti dewa, angkasa, lelaki, baik, kanan dan seterusnya, pasti ada “Dunia Bawah” seperti manusia, laut, wanita, jahat, kiri dan seterusnya. Oleh sebab itu, ketika orang Tionghua memperkenalkan budayanya, bangsa Indonesia tidak langsung menolak karena warisan tradisi nenek moyangnya. Sehingga kecenderungan kain tradisional nusantara pada masa prasejarah mencerminkan pada ragam hiasnya tentang keseimbangan, keselarasan, keserasian dan kelestarian seperti  filsafat yang terkandung dalam  hong shui, yakni Ying danYang.
  
Budaya dan tradisi ini sangat berpengaruh dalam kebudayaan Indonesia, terlebih karena latar belakang kepercayaan nenek moyang  bangsa Indonesia tidak  jauh berbeda, sehingga pengaruh itu nampak dan terekam pada kain-kain tradisional Indonesia. Kain batik bila diamati secara kasat mata adalah sebuah kain yang mempunyai gambar, warna dan motif tertentu. Namun bila dikaji lebih dalam , ternyata kain batik mengandung  makna yang sarat akan filosofi.

Filosofi batik tidak hanya dilihat dari kain yang sudah bermotif, namun jauh sebelum itu, bahkan dalam proses pembuatannya. Seperti selembar kain putih ibarat orang yang baru dilahirkan dalam keadaan putih, bersih dan suci. Benda yang masih polos tergantung pada orang yang menorehkan gambar, dengan penuh kasih sayang, cinta kasih atau dengan emosi.

Menggambar pola batik dengan menggunakan canting tidak semudah kita menorehkan coretan pada kanvas dengan kuas. Dalam membatik diperlukan landasan ketulusan pikiran dan kehalusan perasaan, agar rasa itu terekam dalam kain batik nantinya. Filosofi dalam proses membuat pola batik ini menyiratkan bahwa dalam  bekerja setiap manusia itu harus dilandasi ketulusan perasaan dan pikiran untuk dapat menghasilkan karya yang dapat dirasakan dan dibanggakan oleh orang yang memakainya.

Begitu juga dalam proses pewarnaan, dimana dibutuhkan kesabaran dan pengulangan untuk mendapatkan hasil maksimal seperti yang diinginkan. Selain warna yang dihasilkan tidak gampang pudar atau luntur, bahkan dalam kurun waktu yang cukup lama, juga dapat menambah kekuatan umur kain yang dihasilkan. Sehingga kain batik yang berkualitas tinggi merupakan aset yang berharga. Dalam hal ini makna filosofi yang dapat kita petik adalah, sebuah proses sangat menentukan terhadap hasil. Pewarnaan yang membutuhkan waktu ibarat orang bekerja hendaklah menghindarkan sesuatu yang berbau instan, yang mana hasilnya akan cepat pudar dan mudah dibuang dari memori orang lain.

Motif dan Budaya

  Tidak jauh berbeda bilamana kita berbicara masalah motif tradisional yang sudah menjadi pakem, seperti Kawung, Sidomukti, Parang dan sebagainya. Ternyata motif-motif batik sangat terbuka terhadap unsur-unsur baru dari luar yang dapat memperkaya dan memperindah keberagamannya. Seperti motif-motif batik pesisiran yang muncul di sepanjang Pantura, dari Cirebon hingga Banyuwangi.

Sebagai contoh, di wilayah Tuban terdapat kain batik bermotif Tionghua yang paling disukai dengan ragam hias burung phoenix dan kembang peony. Kembang peony ini berasal dari agama Buddha, sedangkan burung phoenix atau burung hong merupakan simbol yang melambangkan keabadian.

Menurut kepercayaan Tionghua, bila burung phoenix telah lelah dan mendekati ajalnya, maka akan kembali ke sarangnya semula, lalu membakar diri di sarang tersebut. Tetapi dari abu pembakaran itu akan lahir kembali seekor burung yang baru. Demikianlah mata rantai ini tidak ada habis-habisnya. Dari keberagaman motif dan terbuka terhadap unsur baru yang menyiratkan bahwa manusia hendaklah mempunyai sifat terbuka atas masukan-masukan positif yang dapat memperkaya dan mempunyai nilai tambah dalam kehidupan bersama.***NZ   
Foto-foto: Revin Ananda,Istimewa.


Senin, 17 Februari 2014

Buah Nan Cantik



Berekspresi Lewat Rangkaian Buah 
By Nur Ida Zuhayanti


Selain bunga, ternyata buah juga dapat dipergunkan sebagai efek segar sebuah ruangan. Rangkaian buah tidak saja berpenampilan indah, tapi juga lezat disantap dan menggoyang lidah.

   Untuk mempercantik sebuah ruangan, seringkali kita memberi sentuhan dengan rangkaian bunga. Namun, kini buah juga dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap dekorasi yang akan memberikan nuansa pada ruang Anda. Perpaduan antara bunga dan buah segar dapat berkolaborasi dalam satu media pajang sehingga memunculkan kreatifitas seni yang cantik dan elok dipandang, tapi juga bermanfaat,serta langsung bisa dimakan.

     “Rangkaian ini biasanya dibuat untuk menambah kesan artistik pada sebuah event,” terang Ina Ilmiaviatta, Marketing & Communications Manager Hotel JW Marriot, Jakarta, tempat saya mencoba aktifitas ini, siang itu. “Selain memberikan nuansa lebih indah, juga tetap tidak meninggalkan fungsi sebagai penyegar mulut yang bermanfaat,” lanjutnya seraya menunjukkan kepada saya beberapa rangkaian yang sudah jadi, yang semuanya cantik.

     Aneka buah segar yang ditata apik bersama tanaman hias seperti bunga dan asesoris lain ini biasa disebut dengan fruit arrangement. Dibutuhkan ketrampilan dan kreatifitas dalam membuatnya, untuk memadukan buah dan bunga dalam satu komposisi yang manis sehingga menjadi sebuah rangkaian yang serasi sesuai dengan keinginan.

     Setiap buah memiliki keunikan tersendiri untuk dirangkai. Hal utama yang menjadi pertimbangan adalah memadankan warna dan bentuk. Warna-warna seperti hijau apel, merah strawberry dan kuning jeruk dikreasikan lewat bentuk dan penyajian dengan tetap menonjolkan kesegarannya. Selain memadankan warna dan bentuk, hal yang perlu diperhatikan adalah rasa buah yang akan dirangkai dan temanya. “Buah yang segar dan manis seperti strawberry biasanya akan selaras bila dirangkai dengan bunga rose untuk kesan romantis dan hangat,” terang Cyntia, pemilik Cyntia Florist yang terletak di 1st Floor, Suite 103 , JW Marriot Hotel saat mengajari saya membuat rangkaian buah ini. Sedangkan buah seperti jeruk mandarin akan semakin indah bila dipadankan dengan tangkai bambu futai untuk hiasan ruangan pada Chinese New Year yang bermakna membawa keberkahan dan panjang umur.

    Pada dasarnya, setiap buah dapat dirangkai menjadi fruit arrangement bersama tanaman hias lain. Namun akan lebih baik bila menggunakan buah segar yang utuh dengan ukuran kecil hingga sedang yang simpel seperti apel Fuji yang memiliki warna khas, jeruk sunkist, jeruk mandarin, apel hijau, apel merah, anggur hijau, ungu dan merah, plum, strawberry, pear shandong, pear xianglie dan lain-lain. Untuk buah yang harus dikupas seperti semangka atau melon biasanya kurang cocok untuk dirangkai semacam ini sebab membutuhkan media khusus tersendiri.

     Bentuk rangkaian yang modern dan minimalis lebih banyak digemari, karena lebih fleksibel dalam penempatan dan tidak membutuhkan banyak ruang. Hal ini bisa dikembangkan sesuai dengan ide, keinginan serta tema. Untuk membuatnya, ada beberapa perlengkapan yang musti dipersiapkan, antara lain:


Bahan Yang Diperlukan
-         Buah-buah segar sesuai dengan keinginan. Pilih buah yang benar-benar fresh dan tidak rusak sedikitpun.
-         Tanaman penghias seperti bunga segar sebagai penunjang dan dedaunan untuk pelengkap rangkaian. Seperti daun asparagus bintang, pakis, daun mingfen untuk penghalus, daun ruskus untuk penutup oasis, daun pillow untuk kesan elegan serta bamboo futai.
-         Ranting untuk pemanis dan aksen bila diperlukan
-         Kawat hijau untuk memperkuat tangkai
-         Oasis untuk medium dalam merangkai
-         Vas dan air secukupnya, atau basket sesuai tema. Bentuk vas sebagai media ini bisa bermacam-macam, seperti bulat, oval  atau persegi, dari bahan gelas, kaca, keramik, kuningan, metal dan sebagainya. 
-         Tusuk gigi bila dibutuhkan
-         Leaf shine untuk mengkilapkan daun (awas, jangan sampai terkena buah)

Alat Yang Dibutuhkan
-         Cutter untuk memotong
-         Gunting bunga
-         Gunting biasa

Cara Merangkai
-         Siapkan bahan yang diperlukan.
-         Rendam terlebih dahulu oasis ke dalam air selama dua menit agar terserap untuk menjaga kesegarannya.
-         Semprotkan  leaf shine pada daun yang dibutuhkan agar tetap mengkilap.
-         Awali dengan merangkai dedaunan yang sesuai untuk menutup oasis dan memberikan kesan sebagai tempat buah.
-         Tambahi dengan merangkai bunga dan asesori yang dibutuhkan untuk pemanis.
-         Terakhir, aturlah buah dengan rangkaian yang diinginkan. Dalam desain bergaya apapun, usahakan agar buah tetap dengan mudah dapat diambil sesuai dengan fungsinya untuk dimakan.

Sesuaikan Desain
    Pada dasarnmya, rangkaian buah segar ini dapat diletakkan di ruangan manapun, seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan bahkan ruang tidur. Di ruang tamu kita bisa membuat desain simple dan modern untuk kelengkapan mejanya, begitu juga di ruang keluarga. Bentuk small arrangement yang kecil dan simple juga cocok untuk coffee table. Di ruang makan, bisa diekspresikan lebih bergaya kontemporer agar mampu menggugah selera makan selain menambah keindahan ruangan. Di ruang tidur, dapat diberi sentuhan ekspresif dan eksotis untuk menambah kehangatan dengan paduan bunga dan buah yang mendukung seperti anggur merah dan plum.

     Biasanya, rangkaian buah ini bisa bertahan selama seminggu, tergantung pada jenis buah dan bunganya. Untuk menjaga kesegaran, sebaiknya diletakkan pada ruangan yang dilengkapi dengan AC atau pada temperatur dingin hingga sedang. Tren merangkai buah semacam ini memang mulai digemari. Dan fruit arrangement ini juga banyak ditawarkan di berbagai florist shop dengan kisaran harga mulai dari Rp.300.000,- atau tergantung dari buah dan bunga yang diinginkan. Bagaimana, tertarik untuk mencoba ? Kini, ungkapan rasa dan pembentuk suasana tidak hanya bisa dikatakan dengan bunga, namun buah juga sanggup berperan mengekspresikannya. *** NZ
foto-foto:istimewa