Kamis, 30 Mei 2013

Posesif, Cinta Atau Petaka ?


Posesif, Cinta atau Petaka ?
By Nur Ida Zuhayanti



Rasa memiliki yang berlebihan membawa pada perilaku posesif. Meski biasanya mengatas namakan cinta, namun hal ini akan membuat diri sendiri dan pasangan menjadi tidak nyaman.

     Bagaimana rasanya dicintai orang yang kita cintai? Hm,tentu sangatlah menyenangkan. Sebab saling mencintai merupakan kunci kebahagiaan hubungan antar pasangan. Tapi bagaimana bila orang yang mencintai itu kemudian menguasai dan mengekang. Begitupun sebaliknya, cinta yang mendalam justru membuat kita takut kehilangan sehingga selalu cemas akan ditinggalkan dan cenderung posesif ?. Wah, pasti kondisi ini akan menjadi petaka atau rasa tidak nyaman. Imelda misalnya, terpaksa harus membuang cita-citanya untuk mengambil S2 di Belanda karena Johan, kekasihnya tidak ingin bila ia jauh darinya. Sementara Sinta seringkali sewot dan uring-uringan disaat Ilham harus mengikuti rapat direksi ke luar kota . Baru setengah jam sampai di ruangan, sudah lebih dari tiga kali ia menelepon dan menanyakan keberadaanya. Di situ bersama siapa, dan hal-hal lain yang tidak perlu, yang lama-lama membuat jengkel juga. 

     Sikap posesif memang dapat dialami oleh siapa pun juga. Menurut Dra. Mayke Tedjasaputra, MSi, kecenderungan perilaku ini lebih banyak dilakukan oleh pria, karena dilihat dari sisi budaya di Indonesia , kaum pria lebih memiliki kesempatan dan peran yang dominan untuk menguasai perempuan. “Tapi perempuan juga dapat menjadi posesif terhadap anak, sahabat dan pasangannya. Walaupun pada akhirnya semua itu akan menyiksa diri sendiri,” terang psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini, ketika saya temui di kantornya.

Mengapa Menjadi Posesif ?
     Istilah posesif  sebenarnya berasal dari kata  possess yang berarti memiliki. Possessive sendiri bermakna suka menguasai barang miliknya.  Jadi perilaku posesif lebih mengarah pada keinginan seseorang untuk selalu menguasai sesuatu yang dirasa telah menjadi miliknya. Entah itu anak, sahabat serta pasangannya.  Karena merasa memiliki, maka ia cenderung memproteksi secara berlebihan, bahkan terhadap apapun yang dilakukan oleh orang yang dicintai tanpa alasan yang masuk akal. Terhadap pasangan, ia menginginkan berlaku seperti apa yang dimauinya. Termasuk membuat larangan dan keharusan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan karena takut untuk berpisah. Bila tidak mau mengikuti dan melanggar larangan, maka ia akan marah dan kecewa besar.

     Banyak hal yang menjadi latar belakang seseorang berperilaku seperti ini. Diantaranya karena diyakini bahwa cinta itu memiliki, maka harus ada yang mau berkorban meski dengan terpaksa sekalipun. Semua ini bisa terjadi karena ada kekosongan dalam dirinya, yang dirasa hanya ditemui pada pasangan sehingga membuat ketergantungan dan tidak mau ditinggalkan. Akhirnya ia menjadi teramat egois tanpa memperhatikan kebutuhan dari pasangan.

     Selanjutnya karena tidak adanya kepercayaan, hingga menyebabkan sikap yang penuh curiga, khawatir dan waspada secara berlebihan. Seperti dengan melarang pasangan untuk meneruskan berkarir dan menjalankan aktivitas sesuai hobinya karena takut akan bertemu banyak orang lalu pindah ke lain hati dan memutuskan hubungan. Serta kemungkinan-kemungkinan  lainnya yang belum tentu akan terjadi.

     Yang lain bisa karena trauma dari pengalaman masa lalu, atau kejadian yang telah lama dialami oleh keluarganya. Misalnya bila di dalam lingkungan keluarga si Ayah berperilaku posesif terhadap ibu, dan sebaliknya, maka tanpa disadari kondisi ini akan membawa sikap dan perilaku yang sama terhadap pasangannya.

Ketika Kecemasan Memuncak
     Seseorang yang berperilaku posesif biasanya tidak menyadari akan sikapnya yang telah mengekang dan membatasi hingga merugikan orang lain. Bila ada yang menegur, maka dia tidak akan peduli. Karena di dalam pikirannya, semua yang dilakukan merupakan manifestasi dari rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi  miliknya.

     Mengenai hal ini, menurut Mayke bila perilaku masih dalam taraf yang wajar, barangkali belum perlu dikhawatirkan. Tapi bila sudah mencapai tahap kecemasan yang berkepanjangan dan disertai reaksi panik dan gamang hingga mengganggu bahkan menjadi beban pikiran, maka sebaiknya dilakukan psikoterapi oleh seorang psikolog. Antara lain dengan cognitive behavior therapy untuk dapat merubah kepercayaan serta pola pikirnya.

     “Masalah seperti ini sebenarnya terletak pada kepercayaan dan pola pikir seseorang,” jelas psikolog yang hobi traveling dan jalan-jalan pagi ini. Selain itu, bila prilaku posesif disebabkan oleh trauma, dapat dilakukan hypnotheraphy agar tidak menjadi satu gangguan kepribadian. 

     Ya. Posesif tentu akan berdampak tidak baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang terlibat. Rasa curiga dan cemas yang berlebihan pasti akan membuat pikiran menjadi capek hingga dapat menimbulkan ekses lain yang merugikan kesehatan. Bagi pasangan, pengekangan  kebebasan itu akan membuatnya tidak berkembang dan merasa tertekan hingga perlu mengkaji ulang untuk meneruskan hubungan.

Persepsi Cinta Yang Salah
     Tak dapat dipungkiri bahwa timbulnya kecenderungan perilaku ini seringkali mengatas namakan cinta. Karena terlalu mencintai, maka ia dapat melakukan apapun sesuai keinginannya dengan tujuan untuk menunjukkan kasih sayang. Padahal tidak. Pola pikir yang seperti ini harus dirubah. Ungkapan : Saya melakukannya karena cinta sama dia, sebenarnya hanyalah ilusi dari perasaan saja. Mayke menambahkan, kalau semua itu merupakan persepsi cinta yang salah.

     Bahwa cinta adalah rasa kasih sayang yang mendalam, maka ia tidak akan membelenggu dan mengekang. Saling mengisi dan memberi, serta memahami bila setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda. Dia juga punya sifat, pemikiran, perasaan dan keinginan serta harapan yang mungkin tidak sama dengan kebutuhan dan keinginan kita. Sebab pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pengembangan diri dan relationship dengan orang lain. Dengan demikian, kita akan dapat merasakan cinta sebagai satu anugrah yang membahagiakan.***NZ



Tips Menghindari Prilaku Posesif.
-        Mencoba berbesar hati dengan membuka pikiran bahwa tidakan posesif akan menghalangi orang lain   atau pasangan
-        Bersikap untuk tidak egois dengan alasan apapun.
-        Membuka diri bahwa tidakan posesif akan berdampak buruk terhadap orang lain dan diri sendiri seperti peluang ketidak jujuran dan benar-benar ditinggalkan.
-        Mencoba membuka komunikasi dengan pasangan agar tidak muncul kekhawatiran yang berlebihan.
-        Positive thinking terhadap keputusan yang dilakukan oleh pasangan.***



Bila Pasangan Anda Posesif
-        Berterus terang terhadap tindakannya dan memberitahukan hal yang membuat Anda tidak nyaman
-        Sekali-sekali ajaklah pasangan melihat langsung kegiatan Anda agar memberikan rasa percaya dan saling mendukung.
-        Tunjukkan bahwa Anda tidak seperti yang selama ini terlalu dikhawatirkan.
-        Jangan mencoba berbuat kebohongan.  ***
 Foto-foto: Istimewa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar