Rabu, 25 Maret 2026

Kolaborasi Bareng Gen Z yang Adaptif, Kritis dan Kreatif

     Membangun tim yang solid bareng Gen Z tidaklah sulit saat mengerti karakter dan etos kerja mereka. Saling support antar generasi akan menghasilkan produktivitas maksimal. 

By Nur Ida Zed

                                                             Foto: dokpri @nuridazed

     Di era digital saat ini banyak pekerjaan yang membutuhkan kolaborasi bareng Gen Z, termasuk kerja kreatif yang melibatkan kecanggihan tehnologi. Bukan berarti tak mau belajar, tapi Gen Z rasanya lebih cepat terampil dan lihai memahami perkembangan dunia digital yang kian berkembang sekarang ini. Jadi buat GenMom seperti saya kadang merasa kurang update dengan banyaknya aplikasi terbaru dan cukup puas dengan yang standar serta biasa-biasa saja.

     Seperti saat membuat konten. Untuk masalah perencanaan, naskah hingga storyboard mungkin bisa diatasi. Tapi soal editing dan desain yang kekinian seringnya perlu direvisi, hehe. Inilah biasanya membutuhkan kolaborasi bareng Gen Z, karena banyak ide kreatif yang sering out of the box alias di luar nurul, eh, nalar yang luar biasa. 

     Mungkin karena kebiasaan kerja di media, sebagai senior editor yang punya beberapa tim Gen Z (baca: beda generasi) dari reporter, fotografer hingga desain produksi, jadi saya sudah hafal bagaimana membuat mereka nyaman dan produktif. Meski kadang sedikit kesal bila ada yang kebiasaanya kurang berkenan, seperti indisiplin, tapi tetap harus sabar dan terus memberi motivasi. Untunglah akhirnya saling menyadari kalau setidaknya GenMom lebih banyak makan asam garam di sisi pengalaman dari Gen Z. Namun demikian, serunya kolaborasi ini  menjadi bisa belajar bagaimana menyelaskan ritme kerja agar goalnya tercapai. 

     Kebetulan kerja bareng lintas generasi ini sering saya hadapi. Saat produksi Kuis Citra Rasa waktu itu saya melibatkan anak-anak Gen Z yang beda generasi agar mendapatkan ide lebih fresh dan kekinian. Mereka pasti butuh wadah untuk mencari pengalaman dan pemikiran yang idealis dalam berkarya, sehingga bisa saling support dan melengkapi satu dengan lainnya. Ketika kadang perlu sedikit debat saat mengemukakan ide dan argumen, itu sih biasa. Karena kebanyakan kaum Gen Z lebih spontan saat mengeluarkan pendapat tanpa berpikir panjang dan tidak suka basa-basi. Hal ini karena semua dianggap teman sehingga merasa tidak ada penghalang dalam berdiskusi meski beda generasi, termasuk senior dan orang tua. 


     Ditengah gempuran media sosial yang kian marak sekarang ini tak pelak akan berpengaruh buat para Gen Z. Generasi yang lahir sekitar tahun 1995-2012 dan tumbuh sebagai "digital native" yang sudah melek tehnologi. Gen Z yang sering dikaitkan dengan tehnologi cenderung mencari kepuasan secara instan, kurang sabar terhadap proses dan kesulitan fokus jangka panjang. Bahkan bisa jadi cenderung individualistis dan kurang pengalaman praktis dalam dunia kerja, tidak seperti generasi seniornya. 

       Mereka menghargai kesetaraan, lebih ekspresif dan memiliki kepedulian terhadap isu sosial serta kesehatan mental. Gen Z yang cenderung ambisius, menyukai tantangan namun rentan terhadap kecemasan akibat derasnya informasi.

     Memang sih faktor situasi dan kondisi pada masanya tentu berpengaruh terhadap sebuah generasi di jamannya. Namun saat berkolaborasi dengan gen Z, mau tidak mau harus bisa mengikuti ritme kerja mereka. Dan kini, karena mempunyai anak yang nota bene Gen Z,  sebagai ibu setidaknya saya bertambah pengetahuan lagi soal ini. Termasuk ketika harus mendampingi sehari-hari, sebagai team work dalam sebuah keluarga, bahkan saat tercetus ide membuat Podcast Morning Daughter dengan tagline: Bincang Ringan Dua Generasi, GenMom dan Gen Z. Mereka yang pada saatnya sedang mencari jati diri sendiri, mempuyai potensi dan prestasi, pasti memiliki cara dalam  mengembangkan dirinya. Dan ini perlu ada benang merah serta hubungan baik antar generasi supaya saling memahami untuk sesuatu yang positif.


     Beberapa hal yg perlu dipahami saat berkolaborasi dengan Gen Z, antara lain: 


- Gen Z kadang suka moody. Seringkali para Gen Z suka moody dalam bekerja. Dia butuh distimulasi dan diberi ruang untuk membuat dirinya nyaman. Suasana hati tentu juga bisa mempengaruhi. Tapi percayalah para Gen Z biasanya adaptif dan cepat move on dari sebuah kegagalan dan keterpurukan, sehingga cepat bangkit dan kembali memberikan ide segar. 

- Berikan kepercayaan dalam berkarya. Karakter Gen Z yang kurang suka diberi masukan bisa membuat khawatir saat mendekati deadline. Tapi kebanyakan mereka diam-diam menyelesaikan pekerjaannya tanpa mau dipantau dan diintervensi. Memberinya kepercayaan dalam berkarya akan membuatnya lebih confident dan percaya diri. Dan ini akan membuat mereka bisa lebih berkembang lagi.

- Komunikasi yang terbuka. Gen Z suka transparansi dan komunikasi yang terbuka. Dia lebih bisa mengatakan apa yang dimau tanpa ragu sehingga kadang terkesan to the point dan kritis. Saat perlu dikoreksi, berikan masukan yang membangun, bukan kritikan yang distruktif, apalagi menjatuhkan. Beri tahu mana yang salah dan harus dibenahi, agar bisa mengerti dan memperbaiki diri. Karena Gen Z lebih menyukai komunikasi yang terbuka apa adanya untuk feedback yang konstruktif. 

- Fleksibilitas kerja. Kebanyakan Gen Z sering tidak suka diatur serta dibatasi baik dalam kreativitas dan soal waktu. Kecenderungan ini membuatnya lebih menyukai fkeksibilitas kerja karena mereka memprioritaskan kesejahteraan dan hasil nyata. Berikan tenggat waktu (baca: dead line) agar mengerti target yang dihasilkan. Sementara teknisnya, biarkan dia yang menentukan. 

Kecenderungan Gen Z lebih menyukai kerja freelance dan tidak terikat di beberapa tempat, karena lebih memberikan kenyamanan. Tak mau melulu di satu kantor yang monoton dan lebih suka bekerja dari rumah atau cafe yang menurutnya nyaman. Yang penting target  tercapai, deadline terpenuhi. 

- Cara memberi apresiasi. Kebanyakan Gen Z mencari pekerjaan dan berkokaborasi dengan orang-orang dan lingkungan kerja  yang memiliki dampak positif baginya. Tidak sekedar mementingkan gaji, tapi juga kenyamanan ketika dihargai kontribusi mereka. Menyukai tantangan lalu  mengapresiasi dengan makna. Mereka mandiri dan memilih mencari peluang yang bisa memaksimalkan ketrampilanya. 

- Manfaatkan keahlian digital. Rata-rata Gen Z lebih melek tehnologi daripada generasi seniornya. Dia bisa mengeksplore apapun tanpa takut dan ragu sesuai dengan pola pikirnya. Libatkan mereka dengan kemajuan tehnologi modern, seperti media sosial dan IA. Bekerja sesuai passion akan membuatnya lebih berkembang karena adaptif dan fleksibel.

    Ya. Dalam hal ini penting untuk saling menghargai perbedaan pola kerja antara generasi senior/milenial dengan Gen Z agar membangun tim yang solid. Gen Z yang sering disebut sebagai "generasi strawberry" karena dianggap rapuh namun sebenarnya memiliki daya juang tinggi dengan cara yang berbeda, terutama dalam merangkul tehnologi untuk perubahan positif.

    Akhirnya, ketika bekerjasama dan berkolaborasi dengan Gen Z, selain profesional kerja sebaiknya juga saling mengerti dan memahami tujuan utama yakni untuk produktivitas kerja yang maksimal. 


     Salam sehat dan selalu semangat.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar