Rabu, 23 Juli 2025

Cerita dari Ruang Setara dan Lestari

    Setiap perempuan dibekali multitalenta dan kegigihan yang patut dihargai. Karena itu bersyukurlah dengan apa yang dimiliki sebagai sumber kebahagiaan sejati. 

by Nur Ida Zed

                                                            foto: dokpri @nuridazed


    Ini cerita dari Ruang Setara dan Lestari. Kebetulan beberapa waktu lalu saya menghadiri acara yang diinisiasi oleh komunitas Humanis ini di Taman Ismail Marzuki. Mengangkat peran perempuan untuk lingkungan serta perubahan iklim yang kerap terjadi. Keterlibatan perempuan membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, gagasan inovatif, dan pendekatan berbasis kebutuhan nyata. 

    Di jalin kolaborasi saya bertemu dengan para perempuan yang gigih berkomitmen pada krisis iklim dan memainkan peran krusial dalam mendorong keadilan gender dan keadilan iklim itu sendiri. Di antaranya: Puspa Iklim dari Kohati Solo, Jawa Tengah, Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YKBB) dari Bandung, Jawa Barat, Jaringan Perempuan Muda Sumba-NTT, Ruang Kolaborasi Perempuan dari Kolaka, Sulawesi Tenggara, serta Eco Warrior-Inspiring Generation dari Kabupaten Kuningan.


                                                            foto: dokpri @nuridazed


    Mereka ini sering menjadi penggerak utama dalam perlindungan lingkungan dan memiliki peran penting dalam menjaga alam. Ada yang melalui edukasi dan aksi nyata seperti pembuatan lubang resapan biopori untuk mencegah banjir, juga melalui karya yang mendorong pemberdayaan perempuaan dalam menghadapai krisis iklim dengan pengembangan wirausaha lestari seperti produksi totebag eco-print, tenun ikat, olahan ikan serta pengelolaan sampah yang akhirnya mampu memberi nilai ekonomi dan dapat membantu kelangsungan hidup. 

    Para perempuan ini begitu gigih meningkatkan kemandirian mereka di tengah krisis iklim dan isu gender di daerah masing-masing. Tak pelak, seringkali menghadapi berbagai tantangan, yang meliputi keterbatasan akses, bias gender dalam pola pikir serta beban domestik dalam keluarga. Ya, keluarga. 


Penyintas Kawin Paksa

    Kemudian saya tertarik dengan pembuatan tenun ikat menggunakan kapas dan pewarna alam tradisional melawan krisis iklim bagi penyintas kawin paksa. Saya bertanya pada Tanamakka, perempuan yang juga inisiator Jaringan Perempuan Muda Sumba-NTT yang kala itu menunjukkan karya sebentuk tenun ikat tradisional nan cantik. Konon berbagai cerita tersimpan dalam selembar kain tenun ini dari setiap perempuan yang menyelesaikannya.


    "Ceritanya sangat panjang" begitu tuturnya. Karena banyak perempuan di Sumba ini ternyata masih terikat dengan budaya kawin paksa sehingga mau tak mau harus menerima takdirnya. 

    Namun demikian, para perempuan penyintas kawin paksa ini lalu dilibatkan dalam proses produksi tenun sebagai pemulihan, pemberdayaan ekonomi serta penguatan identitas budaya sehingga mendorong kemandirian dan membangun kembali rasa percaya dirinya. Perempuan dengan multitalenta dan kegigihan merupakan salah satu bekal untuk tetap berdaya.


Bersyukur dengan apa yang kita punya

    Cerita saya, tentang cerita dari ruang setara dan lestari ini setidaknya membuka wawasan dan pikiran untuk terus bersyukur dan menghargai apa yang kita punya. Merasa cukup dengan apa yang kita miliki, menikmati semua proses yang dilalui, bahagia dengan menerima diri kita sendiri.

    Apapun yang didapatkan dalam hidup ini, baik itu berupa materi, hubungan, pengalaman serta pencapaian yang ada hendaknya menjadi sarana untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta. Tak perlu membandingkan dengan orang lain, karena setiap manusia memiliki porsinya sendiri. 

Kepada anak-anak saya juga senantiasa berharap untuk bisa menghargai diri sendiri tanpa melihat kelebihan orang lain. Dengan menghargai dan mensyukuri yang kita miliki, maka akan menciptakan kebahagiaan yang lebih dalam dan berkelanjutan dalam hidup.

 

                                            foto: dokpri @nuridazed

   

        Akhirnya dari ruang setara dan serasi akan muncul generasi penerus bangsa, terutama para perempuan berdaya memunculkan karya-karya berharga yang memberikan kontribusi positif untuk kemajuan negeri ini.


                                                            foto: dokpri @nuridazed    


Selanjutnya tentu akan menumbuhkan generasi peduli lingkungan yang mampu melakukan aksi sederhana dan berdampak pada perubahan iklim sehingga akan menciptakan bumi tanpa polusi. 


        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ


Sabtu, 19 Juli 2025

Detoks Digital Agar Sehat Mental

    Banyak banget informasi yang mengganggu akhir-akhir ini. Bagaimana melindungi mental kita agar tetap sehat dan tidak terpengaruh bahkan menjadikan fobia.

by Nur Ida Zed

                                                                pic by pinterest


       Tak bisa dipungkiri bila setiap hari di era dunia digital telah mempengaruhi kehidupan kita di berbagai sisi. Dari bangun tidur saja sudah membuka gadged untuk mengecek notifikasi. Kemudian berseliweran berbagai informasi di media sosial berbagai platform  lewat fyp - for your page, ditambah berita di televisi, semua seolah tak berhenti membuat penuh memori di dalam pikiran dan otak kita yang berpengaruh terhatap kondisi mental. 

     Lagi-lagi berita mengenai kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan dan hal negatif lain yang memenuhi informsi setiap hari. Baru saja kemarin viral tentang penemuan jasad yang dimutilasi, lalu pelecehan pada anak di bawah umur dari seorang guru ngaji, kini sudah ada lagi segala informasi mengenai perbuatan keji. Manusia kini seakan sudah tidak punya hati, sehingga dengan mudahnya mencelakai dan melenyapkan nyawa orang lain, bahkan orang terdekat sendiri. Belum lagi tentang perampokan, penipuan juga bencana alam yang kian marak saja.

    Ya, dan ketika berita semacam itu mampir di beranda, mau tidak mau kita jadi tergerak juga untuk membacanya, mengetahui kelanjutannya. Paling tidak kalau sudah terlanjur lewat, kemudian di  scroll dan berlalu, setidaknya mata ini sudah melihat juga.

    Di tempat arisan kemarin sempat jadi bahan perbincangan dan sharing pengalaman. Karena bagi para ibu, yang kebetulan mempunyai anak remaja alias Gen Z ini tentu sedikit khawatir bila setiap hari, bahkan setiap saat menemukan informasi dengan tema negatif yang dapat meresahkan.  

    "Astaghfirlah, itu teman dekatnya yang dimutilasi ya, kejam banget," kata salah satu teman saya ketika ada yang menyinggung soal berita yang ada. Lalu ditambahkan yang lainnya sembari menyebut asal berita. 

    Dan yang terakhir ini, tentang diplomat yang ditemukan meninggal di tempat kosnya dengan muka dibalut lakban. Oh, Tuhan, sungguh mengerikan. Kejahatan dan bencana dimana-mana. Berita politik, ekonomi yang tidak lagi baik. Lalu bagaimana cara bijak menghadapi ini, sementara mental health kita harus tetap terjaga.


Membatasi Penggunaan Media Sosial

    Mengatasi paparan informasi dengan membatasi penggunaan media sosial merupakan salah satu cara bijak agar dapat mengurangi disrupsi informasi yang kita terima. Sesekali memang kita ini perlu terbebas dari  gadged dan televisi agar membuat pikiran tidak dipusingkan oleh "huru-hara" yang kerap terjadi. 

    Ibaratnya tubuh dan pikiran kita butuh refresh sejenak agar bisa segar kembali. Kadang saya juga melakukan ini, bahkan tidak membuka media sosial beberapa waktu agar tetap fokus kepada hal yang kita tuju. Bukan tak ingin mendapat informasi, tapi lebih kepada menjaga memori tak dipenuhi oleh hal yang tak berarti.   

    Melakukan detoks digital secara berkala seperti ini penting dilakukan agar membuat kesehatan mental tetap terjaga. Cobalah menambah waktu untuk berinteraksi dengan dunia nyata dan jadwalkan untuk jeda tanpa tehnologi. sesekali dengan beraktivitas positif seperti olah raga atau memasak untuk mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.


Memilih Sumber Informasi yang Terpercaya

    Banyaknya platform media mainsteam dan media sosial yang ada kerap membuat pembaca seperti kita seolah terkena magnet untuk selalu mengikuti informasi yang di up date setiap hari. Cobalah mengerti bahwa ini merupakan salah satu strategi agar kita terikat untuk selalu mengikuti dan mengikuti. 

    Pilih sumber informasi yang terpercaya dan akurat agar tidak terjebak pada berita hoax. Setiap platform mempunyai ciri khas masing-masing, dan cara bagaimana meramu informasi sebagai sajian yang menarik. Kurangi mengkonsumsi informasi dari sumber yang kurang jelas atau berita yang mengedepankan sensasi semata. Pahami bahwa berita sensasional selalu memiliki tujuan sebagai marketing semata. Artinya menguntungkan bagi pengunggah berita dan merugikan kita. 


Melatih Berfikir Positif

    Setiap informasi yang diterima sebaiknya jangan ditelan begitu saja. Melatih berfikir positif dengan kesadaran penuh sehingga tidak asal menyimpulkan apalagi memberikan komentar yang kadang memperkeruh suasana. 

      Bersihkan pikiran dengan menjaga pola hidup sehat, seperti dengan olah raga atau aktifitas lain yang membuat relaks dan menyenangkan hati supaya tetap produktif dan bahagia. Menjalin komunikasi bersama teman-teman yang satu visi dan tujuan untuk kebaikan juga perlu dilakukan agar tetap berpijak pada dunia nyata.  

    Ketika terbelenggu informasi yang mengganggu, saran saya sebaiknya tidak perlu banyak mencari tahu. Stop. Pikirkan kesehatan mental kita lebih penting dari semua berita yang berseliweran di beranda dan di luar sana. 


    Ya. Detoks digital bukan berarti tidak mengikuti perkembangan informasi lewat dunia digital ya, tapi tetap menjaga keseimbangan agar tidak terjebak pada disrupsi informasi yang seringkali mengotori mental kita dengan hal yang kurang berisi. 

    Manakala sudah merasa terdistraksi, maka segera lakukan yang membuat pikiran lebih nyaman. Kalau perlu, jangan menunggu hingga merasa terganggu, tapi mencegah dengan bijak mengelola apa yang sebaiknya diserap oleh hati dan pikiran supaya kesehatan mental tetap terjaga.

    Salam sehat dan selalu semangat.***NZ


Rabu, 16 Juli 2025

Tentang Balas Budi

     Tindakan membalas kebaikan merupakan cerminan rasa syukur yang layak diajarkan pada anak sejak dini. Balas budi akan membantu menjaga hubungan baik dan menciptakan lingkungan yang positif.

by Nur Ida Zed


                                            pict. by Dvine Adinda


    "Jadi dibelikan apa buat ulang tahun Vea?" tanyaku pada Puan saat kami sedang mengitari Miniso untuk mencari kado buat temennya, Vea yang dua hari lagi akan berulang tahun. Putri saya lalu memilihkan barang yang sekiranya disukai oleh temannya itu. Tepatnya salah satu sahabatnya sejak SMA dulu, yang kini sama-sama sudah menjadi mahasiswa meski beda fakultas. Beberapa bulan lalu, ketika dia ulang tahun, temennya ini juga memberi hadiah spesial, sehingga ia ingin membalasnya. Kado kecil, sebagai bentuk perhatian karena temannya itupun telah memberikan perhatian.

    Begitulah, dalam berteman adakalanya perlu membalas kebaikan agar  menjaga silaturahmi tetap aman. Tak hanya sebentuk kado, tapi juga kebaikan lain seperti suport dan dukungan disaat kita sedang membutuhkan. Seperti ketika sedang terpuruk dan butuh pertolongan meski sekadar nasehat yang menenangkan. Atau pelukan dan tempat curhat di saat sedang memerlukan sandaran bahkan teman untuk mendengar.

    Berbalas menjadi kata yang menyejukkan untuk sebuah hubungan, tak hanya pada teman, sahabat, tetangga bahkan saudara dan orang tua. Pada tetangga kadang kita suka membalas saat menerima hantaran pada perayaan hari raya, begitu juga pada saudara. Pada orang tua, kebaikan yang tak kan terbalas karena telah memberikan kasih sayang yang utuh dari kita lahir sampai sekarang.

    

Balas Budi Tak Harus Materi

    Pentingnya membalas budi tidak semata-mata untuk menjaga hubungan baik, silaturahmi yang sudah terjalin sekian lama dan menciptakan lingkungan yang positif. Tapi lebih dari itu, balas budi selalu dilakukan oleh orang yang mengerti akan makna menghargai dan dihargai. Ketika seseorang merasa dihargai atas kebaikannya, mereka cenderung akan lebih termotivasi untuk terus berbuat baik. 

    Membalas budi tidak harus selalu berupa materi ya, tapi bisa dengan cara sederhana seperti mengucapkan terimakasih yang tulus dari dalam hati, atau sekedar memberikan perhatian. Kepada orang tua misalnya, salah satu cara membalas budi bisa dengan menuruti segala nasehat yang baik, menghormati dan menjaga nama baik keluarga, juga mendoakan di setiap kesempatan untuk mereka.

    Dengan belajar yang rajin dan sungguh-sungguh serta menjadi anak yang baik dan berprestasi juga salah satu upaya balas budi. Seorang Christiano Ronaldo, atlet sepak bola terkenal dan kaya raya itu lebih memilih berbakti kepada ibunya untuk balas budi. Karena ibu telah berjuang dan berdoa sejak ia kecil hingga sukses sekarang ini. "Jika dihitung dengan kebaikannya, rasanya tak sebanding balasan yang kuberi," begitu kata Sang Superstar. Sungguh seperti pepatah yang mengatakan: hutang uang bisa dibayar kontan, hutang budi dibawa mati.  


Mengingat Budi Untuk Tahu Diri

    Tentang balas budi, selalu dikaitkan dengan kebaikan dan pertolongan. Kebaikan yang diberikan seseorang membuat kita merasa perlu membalasnya dengan kebaikan pula. Dan hal baik ini akan menebar kebaikan dimana-mana. Begitu juga pertolongan yang diulurkan untuk membantu sesama yang membutuhkan, akan berdampak pada hal positif yang berpengaruh pada lingkungan yang baik juga. Kebaikan membantu menjadikan dunia tempat yang lebih bahagia. 

    Sebuah penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa melakukan tindakan kebaikan dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengurangi stres sehingga dapat meningkatkan kepuasan hidup  (Lyubomirsky & Layous, 2013). Kebaikan sesungguhnya menumbuhkan kesejahteraan emosional bagi penerima maupun pemberi.

   Ketika seseorang menerima kebaikan dan membalasnya dengan kebaikan, maka akan semakin besar kebaikan yang diciptakan. Kebaikan yang ditanamkan pada anak akhirnya dapat menjadi pemicu untuk selalu menumbuhkan budi pekerti yang baik dan karakter positif di kemudian hari.

    Pernah mendengar cerita tentang seekor singa, Si Raja Hutan yang berbuat kebaikan dengan membiarkan seekor tikus bebas tidak jadi dimangsa? Kemudian di lain kesempatan, tikus membalas budi singa dengan membebaskannya dari jaring pemburu dengan menggigiti jaring itu dengan gigi kecilnya. Sungguh, binatang pun seolah mengerti tentang konsep balas budi. Kalau bisa, jangan sampai melupakan kebaikan sehingga menjadi orang yang tidak tahu diri. 

    Bagaimana menurut kalian?

    Salam sehat dan selalu semangat.***NZ



Minggu, 13 Juli 2025

Berteman dengan Hewan Peliharaan

    Ibarat teman, binatang peliharaan bisa menjadi tempat curhat dan self healing yang bermanfaat. Gak percaya? Coba, deh.

by Nur Ida Zed

                                            foto by pinterest


    Ketika memutuskan untuk memelihara Onny, si hamster kecil berbulu putih yang lucu waktu itu, kami punya kesepakatan dengan anak-anak untuk selalu menjaga dan merawat dengan baik. Mereka setuju, lalu bergantian membuat jadwal kapan harus memberi makan, memandikan, menyiapkan minuman, membersihkan kandang, mengganti pasir wangi dan serbuk kayu serta segala mainannya. Maklumlah, hewan peliharaan satu ini memang butuh perhatian dan tempat khusus yang nyaman agar selalu lincah, sehat dan bahagia. 
    "Minggu ini Puan, minggu besok Mas Revin, ya," kata putri saya yang ketika itu masih kelas empat  SD, kompromi dengan kakaknya. Sebagai ibu, saya sih senang saja, karena dengan begitu keduanya jadi terlihat rukun. 

    Selanjutnya, saya sering melihat mereka bercanda dengan "mainan"nya itu. Bergantian  menjemur di halaman setiap hari Minggu sembari menikmati kelucuan binatang pengerat itu. Mencermati anabul yang mulai  berlari-lari di gerigi roda yang ada di kandang dan terowongan yang dibuat melingkar, sungguh asik betul. Sesekali diajak  bicara dan seolah  mengerti apa yang sedang dibicarakan. Setiap kali sepulang  sekolah bahkan Onny yang ditemui lebih  dulu sebelum meletakkan tas dan ganti baju. Pernah beberapa temennya datang dan dikenalkan dengan anabul itu. "Iih,lucuu," begitu komentarnya. Ya, kebetulan anak-anak memang  suka dengan hewan peliharaan. Karenaya ketika Onny akhirnya mati karena sudah usia, terlihat kesedihan mendalam menyelimuti hatinya. Sampai begitu lama masih dijaga juga kuburannya. Ditaburi bunga-bunga, dan didoakan agar bahagia di alam sana. Hmm.

                                            foto by Revin Ananda


    Tak hanya itu, beberapa ikan hias pernah juga dipelihara di akuarium yang diletakkan di ruang tamu, sesuai permintaan mereka. Setiap hari diperhatikan dan dirawat dengan kasih sayang. Diberi beberapa rumput laut, karang dan bebatuan serta selang oksigen dan pencahayaan yang cukup agar ikan hias itu lebih leluasa berenang- renang sehingga indah dipandang mata. "Lihat tuh, dia sembunyi di antara batu," katanya begitu senang, seolah menikmati liukan ikan yang sedang berenang dengann indahnya. Suatu ketika juga terlihat diam memandangi makhluk air itu dengan perasaan tenang. Sampai sekian lama akhirnya ada yang mati juga, karena konon kebanyakan diberi makan. Tak apa, setidaknya mereka punya teman makhluk hidup lain yang bisa diajak bicara dan menemani pertumbuhan pribadinya. Anak-anak ini jadi peka terhadap  lingkungan sekitar,  tidak egois serta arogan. 

    Berteman dengan hewan peliharaan membuatnya lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan para penyuka hewan peliharaan untuk saling sharing dan bertukar pengalaman. Misalnya bagaimana membuat hewan kesayangannya ini tetap merasa nyaman. Sebab menurut banyak pengalaman, dibutuhkan ketrampilan ekstra agar bisa dekat dengan binatang itu. Cocok-cocokan, begitulah. Dan yang jelas memang perlu sabar dalam memahami setiap karakter hewan peliharaan ini karena setiap jenis memiliki karakter yang berbeda-beda. Jadi seperti manusia juga ya, hewan peliharaan bisa menjadi teman dan sahabat ketika pemiliknya perlu curhat. Karena itu tidak heran saya sering menemui anak-anak seperti sedang mengobrol dengan hewan peliharaannya itu.



    Ya, hobi memelihara binatang ini mungkin menurun dari bapak saya, kakeknya anak-anak yang dari dulu suka memelihara binatang, seperti ayam, burung dan kucing. Kalau kebetulan kami mudik  atau pulang  kampung ke Blora, salah satu yang dikangeni dan disukai oleh mereka karena  bisa bermain dengan "klangenan" Bapak ini, binatang-binatang peliharaannya itu. Bisa ngobrol sembari memberi makan ayam, mendengar suara burung dan bermain dengan kucing kesayangan. Dari Jakarta bahkan mereka sudah mennyiapkan oleh-oleh khusus buat hewan peliharaan Eyang Kakungnya, seperti makanan atau vitamin khusus yang dibeli di petshop. Di sana, tak  jarang sampai begitu lama bercengkrama antara kakek dengan cucunya bersama hewan peliharaan. Entah apa seperti ada ikatan batin yang terasa lekat manakala bisa take care dengan sesama makhluk hidup ciptaan Allah ini. Terlihat senang dan bahagia dari sorot mata mereka. 

  
                                            foto by Revin Ananda

    Memiliki hewan peliharaann memang mempunyai banyak manfaat, terutama bagi anak-anak. Antara lain jadi bisa belajar tanggung jawab. Mengurus hewan peliharan seperti memberi makan, membersihkan kandang dan mengajaknnya bermain mengajarkan anak tentang  rasa tanggunng jawab dan kepeduliannnya terhadap makhluk hidup lainnya. Ketika hewan peliharaan sakit atau terluka, bahkan bisa merasakannya, begitu juga sebaliknya.

    Mengembangkan empati dan menumbuhkan rasa setia kawan. Interaksi dengan hewan peliharaan dapat membantu anak-anak mengembangkan rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain yang menjadi bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional mereka. 

       Meningkatkan ketrampilan sosial dengan memahami perasaan dan keberadaan  orang lain. Hewan peliharaan dapat menjadi teman bermain dan belajar yang baik bagi anak-anak. Membantu mereka mengembangkan ketrampilan sosial dan interaksi dengan orang lain. 

    Menambah rasa percaya diri dan meningkatkan suasana hati. Merawat dan melihat binatang peliharaan tumbuh dengan sehat, lincah dan lucu memberikan rasa percaya diri dan meningkatkan harga diri anak bahwa dia merasa mampu melakukan sesuatu yang hebat dan menyenangkan. 

     Merasa memiliki teman dan dukungan emosional. Hewan peliharaan dapat menjadi teman setia yang memberikan dukungan emosional bagi pemiliknya. Seekor kucing yang selalu menunggu kedatangan pemiliknya di dekat gerbang adalah nyata. Seekor anjing yang menemani jalan-jalan pagi, membantu mengambilkan kaos kaki sebagaimana teman yang memberikan dukungan emosional tanpa basa basi. 

     Merawat hewan peliharaan dapat menjadi self healing dan berdampak positif bagi kesehatan fisik maupun mental. Menurut beberapa penelitian bahkan memiliki hewan peliharaan dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol serta menyehatkan jantung. Membuat hati menjadi senang karena selalu menemukan tingkah lucu dan menggemaskan dari binatang peliharaan. Bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang memiliki hewan peliharaan cenderung mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dan lebih kecil kemungkinan untuk terkena alergi dan asma. Bagi orang tua, termasuk lansia memiliki hewan peliharaan dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan memberikan tujuan hidup karena terdorong untuk aktif bergerak hingga bisa mengurangi stres dan kecemasan. 

       Nah, apapun itu, disaat memutuskan memiliki hewan peliharaan hendaknya selalu menjaga kebersihan dan kesehatannya ya, bila perlu memeriksakan secara rutin ke dokter hewan yang terpercaya. Selain itu juga kesehatan diri sendiri setelah berinteraksi dengan binatang peliharaan, agar menjaga hal yang tidak diinginkan. Menyayangi binatang sama seperti menyayangi makhluk ciptaan Tuhan. 

        Salam sehat dan selalu semangat.***NZ