Sabtu, 14 Februari 2026

Musik dan Film untuk Recharge Energi

       Memberi ruang untuk diri sendiri kadang bisa membuat mental lebih sehat, begitu kata orang bijak. Manakala sedang sendiri, pikiran terkoneksi lewat kejujuran yang ada di dalam hati. Lalu apa yang biasa dilakukan untuk recharge energi seperti ini?

by Nur Ida Zed

Foto dokpri @nuridazed


     Ada kalanya di saat sendiri kita ingin santai menikmati me time sembari memanjakan pikiran setelah sibuk dengan berbagai kegiatan. Tak ada agenda yang membuat pressure tentang deadline dan tugas yang menumpuk untuk segera diselesaikan. Di saat itulah biasanya kita meluangkan waktu untuk melakukan hal yang membuat senang dan bahagia. 

    Berbagai keseruan yang memberikan point untuk tujuan healing sekaligus afirmasi diri agar membuat kita dapat terkoneksi antara pikiran dan hati. Teman saya pernah cerita, dia suka bersih-bersih rumah saat berada di situasi ini. "Kalau lagi sendiri saya senengnya bebenah, "katanya, dengan begitu merasa puas setelah melihat ruangan yang berantakan menjadi bersih lagi. Kadang merubah interior rumah agar merasa berbeda dan baru lagi. Katanya, kadang ia justru pernah menemukan benda atau barang kesayangan yang dulu telah hilang dan dilupakan sehingga bisa kembali memberikan kesenangan. 

     Saat sendiri, ada yang suka jalan tak tentu arah dan tujuan. Pokoknya mencari tempat yang enjoy buat ngelamun sendirian. Entah itu di tengah keramaian, di perpustakaan atau hanya puter-puter saja cari angin sambil menikmati suasana jalan, karena dari situ kadang bisa menemukan ide untuk membuat sesuatu yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. Saya merasa perlu recharge energi, katanya, karena dengan jalan-jalan seperti itu terkadang dapat menemukan hal-hal yang tak sempat disadari, contohnya sebentuk rasa penuh syukur dengan segala berkah tanpa mengeluh akan keberadaannya sekarang. Suasana di jalan banyak menginspirasi dan memberikan pelajaran tentang kehidupan, begitu alasannya. 

     Dan setiap orang tentu memiliki cara masing-masing ketika sedang sendiri. Kalau saya kadang suka membaca dan menulis tentang apa saja yang ingin saya tuang, misalnya di blog, di podcast serta di catatan kecil semacam diary di notes hape. Meski tidak secara rutin, kebiasaan ini setidaknya bisa membuat kesenangan tersendiri. Kadang saya baca-baca lagi, saya lanjutkan dengan buah pikiran dan hati, atau mengingat lagi apa-apa yang perlu di garis bawahi.


Menikmati Musik Di Spotify

     Tak bisa dipungkiri saat sendiri saya senang menikmati musik dan mendengarkan lagu-lagu kesayangan seperti di youtube dan spotify. Bila sedang libur begitu, bisa sambil selonjoran di kamar, atau melakukan aktivitas ringan, termasuk saat santai dan tidak ngapa-ngapain. Musik dan lagu menjadi teman yang dapat menambah mood, menghilangkan penat serta healing berjam-jam. Mendengarkan musik dan lagu sudah menjadi bagian dari hidup ini untuk memberi stimulasi dan menambah energi.

     Kadang di depan televisi, atau lewat tab serta hape berselancar mengumpulkan lagu-lagu sesuai suasana hati. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, sejak masih remaja, juga ketika mahasiwa hingga saat ini. Lagu-lagu klasik yang tetap ngehit semacam bethouven, mozart dan santorini suka saya dengarkan ketika hati sedang sedikit gundah karena bisa menenangkan. Juga lagu-lagu ballade, pop, jazz, bahkan melankolis hingga slow rock bisa saya dengarkan berkali-kali. Entah. Saya selalu menyenangi berbagai genre musik dengan banyak lagu dan kadang bisa jadi baper alias terbawa perasaan bila liriknya menyentuh hati. 

     Ketika ingin terbawa pada suasana religi, dimana banyak syair yang memberi motivasi bernuansa Islami dengan menyebut nama Allah, seperti Bismillah for Today, Insya Allah Good Things Come yang dilantunkan Makin Azfah serta lagu-lagu dari Maher Zain membuat saya begitu dalam memaknainya sehingga "kena" di hati, sehingga tak bosan-bosan saya mendengar dan memutarnya lagi dan lagi. Sungguh, saya merasa ada dalam sajian musik dan syair di lagunya. 

     Selain itu, lagu yang memiliki ketenaran dan populer pada masanya bisa membawa pada banyak kenangan yang membuat kita menjadi semangat lagi.  Musik dan lagu seolah menyatu dan mengalir lewat dentum hati setiap kali mendengarnya. Dan ini menjadi teman juga dikala saya sedang butuh pemantik untuk memotivasi diri. 

     Buat saya mendengarkan musik menjadi salah satu hal yang dapat memberi energi saat menghadapi kondisi dan situasi apapun. Dengerin musik dan lagu dapat memberikan stimulasi positif buat menjaga mood dan inspirasi bagi jiwa yang sedang ingin disentuh dengan alunan nada agar menambah keimanan di hati. Sambil dengerin musik dan lagu kesukaan saya juga bisa menulis atau membaca buku kesukaan. 


Nonton Serial dan Film di Channel TV

     Selain itu, nonton serial dan film di channel TV juga menjadi bagian yang saya sukai saat sedang sendiri. Karena layanan Indihome yang memberikan banyak alternatif tontonan yang menarik ini hingga membuat saya betah berlama-lama di depan televisi. Banyak yang bisa saya lahap seperti drama Korea, Jepang, China ataupun filmnya yang bisa menambah wawasan dan menghibur saya.  

    Kalau dulu mungkin saya pernah heran kenapa ada orang yang gemar nonton drakor atau cerita serial lain betah mengikuti hingga berpuluh episode, ternyata ketika saya menemukan cerita yang pas, asyik juga menikmatinya. alur cerita yang dibalut dalam intrik dan strategi yang menarik membuat saya enggan melepaskan begitu saja haha. 

     Tak hanya cerita dan penokohan yang bagus, di serial Korea, Jepang dan China ini juga banyak mengajarkan makna kehidupan, latar belakang keluarga, kekompakan dan nilai kebaikan lain yang dapat diambil serta kental dengan budayanya. Semua ini bisa menyiratkan pelajaran hidup yang membuat kita menjadi lebih bijak ketika menghadapi dunia nyata. Agaknya film dan serial mereka dibuat melalui riset mendalam, sehingga setiap adegan dan ceritanya begitu mengalir dan menarik buat penontonnya, meski itu bergenre komedi juga. 

     Ya. Saat sendiri, saya kerap menghabiskan waktu untuk recharge energi dengan kegiatan ringan dan menyenangkan. Sendirian bukan berarti kita ingin jauh dari keramaian bahkan antisosial, tapi ketika sedang sendiri kita menjadi lebih bisa memahami diri sendiri, untuk kemudian introspeksi lalu banyak bersyukur atas semua berkah yang telah diberikan olehNya hingga saat ini. Bahkan penelitian juga menyebut bahwa orang yang nyaman dengan kesendirian cenderung lebih mengenal dirinya, lebih stabil secara emosional dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

     Sesekali asyik dengan diri sendiri untuk recharge energi seperti ini memang perlu agar mental menjadi lebih sehat lagi. Selalu berusaha hidup seimbang supaya tetap merasakan  kebahagiaan untuk diri sendiri. 

     Salam sehat dan selalu semangat.*** NZ


Sabtu, 07 Februari 2026

Plus Minus Circle Pertemanan

       Selain keluarga, teman juga bisa menjadi support system yang bisa mempengaruhi kehidupan kita. Teman yang baik bisa menjadi inspirasi, serta motivasi ke arah positif, begitu juga sebaliknya. Lalu apa plus minus dalam circle pertemanan? 

By Nur Ida Zed

Photo by pinterest

     Ada kalimat bijak yang sering dikemukakan soal pertemanan ini,  yakni: Mencari teman memang mudah apabila itu teman suka. Sebaliknya begitu sulit ketika sedang berduka. Ya, saat berjaya banyak teman yang berada di dekat kita. Menyanjung, memuja bahkan mendukung seolah selalu ada. Namun saat jatuh dan terkena musibah, misalnya, teman mana yang masih mau peduli dan mengerti, apalagi memeluk dengan ketulusan hati? 

     Pada kenyataanya, teman memiliki banyak sekali tujuan di dalam kehidupan ini. Dan circle pertemanan (baca: kelompok sosial) yang merupakan kelompok individu yang memiliki kesamaan dalam pola pikir dan tujuan akan memberikan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. 

     Percaya atau tidak saat kita berada dalam circle pertemanan, maka akan berdampak juga pada diri kita. Dulu ketika masih single, saat  aktif bekerja dan fokus pada karier semata, circle pertemanan saya dari berbagai kalangan, terutama yang menunjang dalam soal pekerjaan. Kesamaan hobi yang butuh tantangan, serta hal yang lebih pada meraih pencapaian, antara ambisi dan passion. Kemudian saat menjadi ibu, bertambah lagi dengan mereka yang memiliki pola pikir yang sama, soal anak dan perkembangannya, begitupun ketika mereka mulai remaja dan disebut para Gen Z. 


    Circle pertemanan ditandai dengan intensif kita berkomunikasi dan berhubungan entah itu lewat pertemuan langsung atau lewat aplikasi dan media sosial yang kini kian marak seperti ig-instagram, tiktok bahkan whatsapp group. Setidaknya keep contact meski hanya dengan tanda: love atau like. Beberapa circle pertemanan saya yang tetap keep contact antara lain karena sama-sama eks-mantan pengurus/komite di sekolah anak.  Di SMPN 41 Jakarta dan SMAN 34 Jakarta. Karena ingin tetap terjalin silaturahmi, maka sepakat membuat arisan tiap bulan, bahkan salah satunya saya jadi bendahara. 

     Tak hanya sebagai wadah arisan semata, kumpulan para ibu ini juga suka membahas soal tema yang lagi hangat dibicarakan saat ini, terutama mengenai hal yang menyangkut anak-anak kita yang beranjak remaja. Juga menjadi ajang diskusi berbagai hal yang menyangkut perempuan, para ibu berdaya dan saling support untuk bisnisnya. Bahkan dari situ bisa memantik ide untuk berkarya, seperti tema dalam podcast saya; Podcast Morning Daughter, yang memang punya tag line: Bincang Ringan Dua Generasi, GenMom dan Gen Z. Meski tak selalu bertemu setiap bulan saat puteran, dan seringkali hanya  via online saja, tapi kedekatan itu tetap terasa. 

    "Besok kita cobain resto di Kebayoran, ya," kata salah satu teman ketika merasa kangen untuk berjumpa. Biasanya disepakati waktunya agar semua bisa datang. Tapi kalau tidak juga buat yang bisa saja, dan harus maklum bila ada yang ijin karena ada keperluan. Circle pertemanan yang tidak mengikat, dibuat santai untuk sarana healing bareng dan silaturahmi saja, sehingga awet hingga tujuh tahun ini, dari anak- anak kita SMP sampai mahasiswa sekarang ini. Tak ada yang merasa "paling" sendiri, semua atas dasar silaturahmi dan saling memahami.



Jangan pilih-pilih teman, benarkah?

     Kalau ada yang bilang jangan pilih-pilih teman, mungkin nasehat ini bisa benar ketika dalam suasana tertentu, seperti di situasi yang baru dengan kondisi tertentu. Misalnya ketika dalam kelompok besar, lalu diharuskan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, maka membaur dengan semua teman itu menjadi keharusan (baca: keniscayaan) Agar kita bisa mengenali situasi sekitar dan tidak menjadi insecure. Selain itu kita juga tak pernah tahu teman yang mana yang dapat mensupport dan membantu.

     Namun dalam konsep pertemanan, memilih teman yang  satu frekwensi, sevisi misi rasanya lebih bijak dilakukan. Karena circle dalam pertemanan ini akan dapat mempengaruhi karakter dan jati diri kita juga. Berteman dengan orang-orang baik, maka bisa membuat kita menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya. 

     Saya sering menasehati anak- anak untuk tetap "memilih" teman dalam kebaikan. Karena di masa usia mereka kadang bisa saja salah memilih teman dan terpengaruh teman akan berakibat kurang baik buat perkembangan dirinya. Misalnya dalam pergaulan dan berkegiatan. Biasanya mereka akan mengenalkan saya dengan circle pertemanannya, setidaknya saya tahu anak-anak berteman dengan siapa. Teman di kampus yang satu fakultas, teman di kegiatan Marching Band, BEM-Badan Eksekutif Mahasiswa di departemen Olahraga, bahkan circle pertemanan saat masih SMA. Kadang saya tanya, bagaimana kabar mereka, yang sekarang jarang ketemu karena kesibukan meski ada yang satu kampus. Tak apa, suatu saat jika dewasa, pertemanan seperti ini akan bermanfaat juga, asal selalu menjaga silaturahmi yang baik.


Mendukung dan Menghargai

     Teman yang baik akan selalu mendukung dan mensupport kita dengan tulus dalam kebaikan. Mendukung impian dan usaha kita, serta menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing. Tak pernah menyerang dan membuat distraksi yang menjadikan kita hoppless apalagi down

     Memahami saat kita mulai bertumbuh, apalagi bisa bersama dalam bertumbuh dengan memberi masukan yang positif meski dalam diam, baik di depan kita atau pun saat di belakang kita. Tak ada kata bermuka dua, baiknya di depan kita, di belakang justru menjekkan bahkan menusuk demi keuntungan dirinya.


Jujur dan Terbuka

     Kejujuran dan keterbukaan menjadi pondasi circle pertemanan yang sehat. Teman yang positif akan memberikan kritik yang positif dan membangun serta berbagi pengalaman dengan tulus. Memberi pengaruh yang baik dan menularkan vibe positif sehingga membentuk energi positif untuk kebaikan dan kemaslahatan.

     Mengingatkan saat teman terpengaruh oleh hal buruk dan mendukung ketika ia berusaha bangkit. Berusaha menjadi teman yang baik di saat suka maupun duka, dengan rasa empati dan kejujuran yang ada. Bisa menjadi pendengar yang baik di kala teman butuh cerita, dan saling mendoakan dengan hati terbuka.


Tinggalkan circle pertemanan yang toxic

     Ketika menemukan circle petemanan yang toxic, sebaiknya tinggalkan dan jauhi agar tidak terpengaruh lebih jauh ke dalamnya. Ya, seringkali kita tidak merasa bahwa teman itu toxic alias memberi pengaruh buruk. Seperti hal yang tidak kita suka, sehingga tidak lagi membuat nyaman saat berada di lingkarannya. Teman yang cenderung egois, selalu bossy dan suka flexing tentu membuat suasana silaturahmi jadi tak enak lagi. Circle semacam ini tidak membuat kita bertumbuh, namun memberikan pressure yang "membunuh". 

     Semakin lama rasanya semakin sempit circle pertemanan kita ya, dan ini hal yang wajar karena kehidupan terus berkembang sesuai kebutuhan masing-masing. Teman yang saling terhubung di dunia modern tidak harus bisa bertemu setiap saat. Yang terpenting adalah saling mendoakan dan mensupport dalam kebaikan. Namun harus tetap waspada ya dengan kalimat: teman makan teman, karena ternyata hal ini banyak juga kejadiannya. 


    Teman dan circle perteman itu termasuk portfolio kita. Dia bisa menjadi rekomendasi yang baik saat membutuhkannya. Dalam pekerjaan, misalnya, ketika klien memerlukan tim untuk mengerjakan project, setidaknya kita bisa menghubungi temen yang sudah dikenal baik kredibilitas dan profesionalitasnya. Satu lagi, teman bisa memberi warna dalam hidup kita. Nah, bagaimana circle pertemanan  kalian?


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Kamis, 29 Januari 2026

Rich Dad Poor Dad Belajar Finansial dari Kisah di Buku ini


    Menemukan buku ini lagi tanpa sengaja. Dulu cuma baca reviewnya. Setelah itu merasa patut dipahami lebih dalam, tentang pola pikir dan apa yang diajarkan oleh orang kaya kepada anak mereka tentang uang, yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah. 

By Nur Ida Zed

                                                                Foto: dok Gramedia

      Buku best seller karya Rober T. Kiyosaki ini rasanya tak pernah lekang dimakan zaman. Sejak tahun diterbitkan pertama dulu hingga saat ini sepertinya tetap relevan untuk dibaca dan dimengerti. Buat para orang tua, baik ayah maupun ibu seperti saya rasanya layak agar bisa membuka wawasan tentang cara pandang kepada seorang anak, termasuk Gen Z mengenai uang dan finasial buat dirinya. Karena mengungkap bagaimana seorang anak memahami arah didikan dari panutan mengenai cara pandang tentang uang untuk masa depannya dari sosok ayah (baca: Dad)

     Dari judulnya saya sudah tertarik, karena mengemukakan tentang ayah, seorang laki-laki kepala keluarga yang menjadi nahkoda dari sebuah keluarga, termasuk dalam mendidik dan mengajarkan suri tauladan buat anak-anaknya. Rich Dad Poor Dad, ayah kaya ayah miskin memberikan dua paradigma yang berbeda dan bertentangan satu dengan lainnya. Dua sisi yang bertolak belakang mengenai cara pandang tentang kehidupan dalam memaknai uang serta finansial yang didapat dari seorang anak sejak masa kecilnya. Ceritanya ketika itu anak mulai usia sembilan tahun, saat duduk di sekolah dasar sebagai pencarian dalam pembentukan jati dirinya.


Poor Dad-Ayah Miskin

     Adalah ayahnya sendiri yang selalu dekat dan menjadi  panutan setiap hari adalah "ayah miskin" yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan untuk mencapai kesuksesan dengan cara mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Ayah miskin yang pandai dan brillian, yang menomor satukan sekolah dengan angka-angka akademis yang tinggi agar kelak bisa mendapatkan gelar, kemudian diterima bekerja di tempat yang layak karena prestasi dan kepandaian. 

     Ayah ini seorang yang jenius. Di saat sekolah selalu mendapatkan juara, hingga lulus S1 dengan beasiswa, begitupun ketika lanjut S2 dan S3. Predikat summa cumlaude, dan diterima sebagai pengajar teladan di kampus ternama karena dedikasinya. 

     "Kamu harus mengutamakan pendidikan. Sekolah yang benar dan setinggi-tingginya di tempat yang bagus agar jadi manusia yang beruntung dan punya banyak uang, " begitu selalu yang diajarkan.  Hingga dia harus berhemat, dan belajar terus untuk mengejar semua cita-citanya. Ayah ini mengajarkan dedikasi, tanggung jawab dan segala prestasi agar punya masa depan cerah, dapat tempat kerja yang nyaman, serta bisa menjadi kebanggan keluarga. Sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Ayah Kaya, Rich Dad. 


Rich Dad Ayah Kaya

     Sementara ayah kaya adalah ayah teman sekolahnya, sahabat yang sudah dianggap sebagai ayah angkat karena begitu dekat. Ayah ini mengajarkan bahwa uang adalah alat yang bisa bekerja untuk kita. Ayah yang tidak pernah menyelesaikan kelas delapan, tapi berani melakukan hal yang berkenaan dengan finansial sehingga bisa mendapatkan banyak keuntungan dari uang. Sekolah bukan hanya tempat belajar tapi sarana yang memberikan pengalaman menyenangkan untuk bersoasialisasi, negosiasi dan networking sehingga membuat dia banyak memberikan solusi khususnya mengenai uang dan finansial. 

     Pada ayah ini selalu ada pertanyaan bagaimana caranya bisa mendapatkan semua keinginan agar otak dan pikiran selalu berkembang. 


Implementasi dan Pola Pikir

     Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama benar, mengajarkan tentang bagaimana menghargai ilmu dan implementasinya buat masa depan. Dalam menghargai uang, ayah miskin menjadikan sebagai tujuan, sementara ayah kaya memperlakukan sebagai alat untuk berkembang. Ayah kaya membeli mobil Roll Royce, karena baginya akan membuat senang sehingga orang melihatnya mampu membeli barang mewah dengan uangnya. Sedangkan ayah miskin tak perlu validasi lewat materi, tapi ditunjukkan dengan dedikasi. Sehingga tidak harus bermewah-mewah, karena dengan apa adanya takkan jadi banyak masalah. 

   Bersama ayah miskin dia hanya dibebani dengan belajar, sementara ayah kaya dibiarkan untuk selalu berkembang. Seperti ketika menginginkan sesuatu yang mahal, ayah miskin selalu berpesan: tak usah meraih hal yang kamu tak bisa menggapainya, nanti terlalu lelah. Nikmati semua yang ada di hadapanmu dengan rasa senang. Sementara ayah kaya, jika menginginkan sesuatu, maka usahakan sekuat dirimu. Raihlah. Pikirkan dan lakukan terus untuk mencapai tujuanmu sampai ada dalam genggaman sebagai sebuah pencapaian. Tak ada yang tak mungkin jika kita yakin.

     Ya. Buku ini memberikan paparan mengenai apa yang diajarkan orang kaya kepada anak mereka agar lebih kreatif dalam mengahasilkan uang dengan berbagai resiko dan tantangan. Setidaknya dengan menghancurkan mitos bahwa kita perlu memiliki penghasilan tinggi agar bisa kaya. Mengalahkan rasa takut dengan mengambil resiko cerdas, sebab banyak orang tidak pernah kaya karena takut gagal. Padahal kegagalan adalah bagian dari proses belajar keuangan.

     Intinya dalam buku ini tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi kaya, tapi berpikir seperti orang kaya yakni berani belajar, berinvestasi dan membangun aset jangka panjang. Aset dan liabilitas adalah kunci. Karena orang kaya fokus membeli aset untuk menghasilkan uang, bukan liabilitas yang tampak keren tapi menguras cash flow


     Lebih jauh, anak dalam cerita ini mendapatkan dua pandangan tentang uang dan bagaimana cara mengelola finasial dalam hidupnya untuk bekal di masa depannya. Mau jadi apa kelak, tergantung bagaimana memilih yang terbaik untuk dirinya dalam menghargai uang serta cara pandang soal materi. 

    Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama mengajarkan bagaimana memperlakukan uang untuk tujuan hidup kita. Dan ini hendaknya diberikan pada anak sejak awal mengenal nilai uang dalam dirinya. Menurut saya, ketika keduanya dipadukan sesuai situasi dan kondisi, maka hidup akan terasa lebih sempurna. Berpendidikan dan kaya raya, siapa yang gak mau ya, haha. Namun apapun cara pandang tentang uang dan kekayaan, tergantung dilihat dari kacamata yang mana. Kalau saya menuntut ilmu itu sangat perlu, dan banyak uang untuk menjadi kaya memang sudah seharusnya. Ilmu dan kaya harus berjalan beriringan. Bagaimana menurut kamu? 


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Selasa, 20 Januari 2026

Membangun Energi di Tempat yang Menginspirasi


     Tempat kadang mampu memunculkan mood kita dalam bekerja dan berkarya. Membangun energi di tempat favorit yang menginspirasi terasa lebih enjoy dan selalu ingin kembali. 

By Nur Ida Zed

                                                         Foto: dokpri @nuidazed


     Adakah tempat favorit yang bisa membuat  nyaman sehingga dapat menambah semangat ketika dikunjungi? Selain di rumah sendiri, kadang saya perlu menyambangi tempat tertentu untuk menambah mood seperti di perpustakaan, cafe resto,  area taman bahkan di selasar masjid. Alasannya sederhana, saya kadang perlu suasana baru agar hidup tidak terasa monoton. Lebih berwarna dan membuat saya membuka wawasan serta pandangan untuk terus berfikir positif. 


Perpustakaan

     Dulu waktu masih kuliah di Yogya, saya juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus untuk sekedar membaca buku, mencari berbagai literasi dan mengerjakan tugas. Bahkan ketika sedang bete (baca: boring total), pergi ke perpus untuk sekedar menghabiskan waktu luang. Tak pernah bosan dengan suasananya yang tenang, di antara deretan buku-buku beraneka tema dan genre yang diinginkan. Seperti surga rasanya bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Teman saya sampai hafal, kalau dicari gak ada biasanya nongkrongnya di perpustakaan. 

     Entah, perpustakaan memang membuat saya senang. Apalagi kondisi saat ini yang hampir semua perpustakaan sudah dibuat modern hingga membuat pengunjungnya lebih nyaman. Mencari segala jenis buku apapun ada. Tinggal klik di layar, semua sudah tersedia. Jadi lebih gampang jika ingin menambah literasi untuk memperkaya tulisan dan karya lainnya. 

                                                      Foto: dokpri @dvine_adinda

     Di Jakarta, Perpustakaan Nasional di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat itu bagi saya cukup "mewah" dan memanjakan pengunjungnya. Tak hanya deretan buku yang super lengkap di setiap lantainya, tapi berbagai diorama, tempat diskusi, ruang presentasi dan museum juga ada.  Di beberapa sisi dilengkapi cafe yang menyediakan berbagai kudapan sehingga membuat betah berlama-lama di sana. Ada taman outdoor yang bisa dipakai ngobrol antar teman karena disediakan banyak kursi di antara tanaman dan kembang-kembang. Mungkin bahkan bisa dinamai sebagai destinasi wisata karena yang datang tidak hanya warga Jakarta saja, tapi juga para pelancong dari luar kota dan luar negeri yang ingin berkunjung dan menikmati manfaatnya. 

     Atau Perpustakaan Jakarta dan pusat dokumen sastra HB Yassin di TIM-Taman Ismail Marzuki,  Cikini yang dibuat lebih homey dengan deretan buku di rak-rak kayu serta beberapa kursi yang ditata memiliki view pemandangan kota karena berada di lantai empat sampai tujuh. Perpustakaan ini bahkan dilengkapi immersive studio, game centre dan ruang interaksi sehingga lebih seru buat belajar. Lebih senangnya karena terbuka untuk umum dan gratis. 

     Perpustakaan memang menjadi tempat in charge energi yang baik menurut saya. Sejak jadi mahasiswa, Puan putri saya rupanya juga menyenangi perpustakaan sebagai salah satu comfort place manakala sendiri dan bareng teman. Seperti di saat menunggu pergantian jam kuliah selanjutnya yang kadang butuh waktu panjang. Di Perpus Universitas Indonesia yang dibangun artistik dan modern ini bahkan dilengkapi ruangan yang luas di lantai satu dengan sebutan "Kebun Apel", yang biasa dipergunakan para mahasiswa untuk belajar, mengerjakan tugas, menyelesaikan skripsi, tesis hingga mencari data dan memperkaya literasi karena disediakan deretan komputer bermerk Apple.


Cafe Resto

     Tidak hanya sebagai tempat makan, cafe resto kadang menjadi tempat yang asik buat saya mencari inspirasi dan mengerjakan tugas saat dikejar dead line. Sembari ketak-ketik menyelesaikan naskah atau tulisan, misalnya, makanan kesukaan yang dipesan sudah disediakan. Jadi mood kembali datang tanpa takut perut keroncongan. 

     Biasanya saya memilih cafe yang familier dengan suasana nyaman yang menyediakan menu favorit dan free wifi tanpa asap rokok. Penting bagi saya karena banyak cafe yang juga menyediakan ruang untuk para perokok yang kadang asapnya bisa menyelinap di ruang lain, dan menurut saya itu bisa merugikan bahkan membahayakan. 

    You Cafe yang menyediakan berbagai menu lezat yang pas buat menemani beraktivitas sering saya kunjungi selain beberapa cafe di mal. Dengan suasana unik yang didesain cantik menjadi tempat yang nyaman untuk mencari inspirasi, sekaligus pas buat ketemu klien, ketika harus presentasi. 



Area Taman 

     Kadang saya mengunjungi taman untuk membangun mood dan mencari inspirasi agar pikiran tetap segar. Taman kota  seperti Cibis Park di TB Simatupang, Jakarta Selatan kini sudah menjadi tempat favorit yang menyenangkan buat para kreator berkarya, berkreasi dan menuangkan imajinasi. 

     Suasanaya yang selalu segar karena banyak pepohonan hijau serta aneka tanaman dan bunga yang ditata asri itu memberikan nuansa tersendiri hingga mampu membuat mood bangkit lagi. Duduk-duduk di sana sembari mencari inspirasi atau sambil olah raga jalan santai bisa menambah energi positif. 


Selasar Masjid

     Selain itu masjid juga bisa membuat saya kembali menambah energi. Sembari menunggu waktu sholat, saya biasanya menggunakan momen itu untuk berdoa, bersyukur atas segala nikmat, menggali ide kecil yang kadang tak terlihat dengan membuat catatan agar mudah diingat. Selasar masjid sudah menjadi tempat yang akrab buat saya, karena dari kecil sering diajak Kakek mengaji di Masjid Besar Baitun Nur, di Blora, kota kelahiran saya. Menunggu waktu sholat sembari bermain atau baca buku cerita Kisah Para Nabi dan Rasul bersama teman-teman kecil saya, lalu sholat berjamaah dilanjut mengaji di sana hingga Isya. Di selasar masjid hati ini menjadi tenang dan pikiran bertambah sejuk. Ya. Keberadaan masjid memang tidak hanya untuk ibadah semata, tapi juga kegiatan yang positif dan bermanfaat. 

     Kini, di selasar Masjid Jami' Uhkuwah Islamiyah, Universitas Indonesia seringkali terlihat banyak mahasiswa dan pengunjung yang asik berselancar sembari menikmati pemandangan seputar Danau Kenanga karena dilengkapi banyak colokan juga. Beberapa orang tua seperti saya, saat libur kadang menunggu anaknya yang sedang berkegiatan di sana karena lebih nyaman dan strategis,  tidak perlu repot mencari tempat ibadah menjelang waktu sholat tiba. 


                                                                dokpri @nuridazed

     Yang paling mengesankan buat saya ketika dapat bersujud dan bermunajad di Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, di Mekkah saat beribadah umroh. Begitu damai dan tentramnya hati ini menginjakkan kaki di Baitullah. Langsung terasa begitu dekatnya kita pada Sang Pencipta, seolah recharge energi yang paling tinggi. Setiap saat terasa demikian dekat, seolah dalam pelukan erat ketika kita sedang bertawaduk pada Illahi Robbi. Saya bersimpuh penuh berserah diri. Apalagi di dua tempat yang suci ini kita bisa minum air zam-zam sesuka hati, sehingga selalu merasa rindu untuk kembali. Beribadah lagi, memperbaiki diri. 

    Ya. Adakah tempat yang bisa membangun energi dan menginspirasi buatmu? Jadikan sebagai penyemangat dalam menambah kemanfaatan buat diri, hati dan pikiran serta ibadahmu. 

     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Jumat, 22 Agustus 2025

Menu Kulineran Bareng Gen Z

    Jalan bareng Gen Z rasanya kurang lengkap tanpa kulineran. Sembari mengerjakan tugas, mencoba menu favorit dan menikmati atmosfer yang ditawarkan.

By Nur Ida Zed


                                                        Foto: dokpri @nuridazed

    Sepanjang punya waktu, saya selalu menyempatkan untuk jalan bareng putri saya buat bonding sembari refreshing. Banyak hal yang bisa dimanfaatkan ketika berdua saja menghabiskan waktu di sela kesibukan. Seperti sore itu, ketika janjian ke mall untuk membeli sepatu dan beberapa keperluan. Memilih salah satu mall di Jakarta Selatan karena tidak terlalu jauh dari rumah dan di sana cukup lengkap dengan banyak store serta tenant yang biasa menyediakan semua kebutuhan. 

    Konsep mall modern sekarang ini memang membuat pengunjung seolah dimanjakan. One stop shooping yang mengakomodir semua kepentingan dalam satu tempat menjadi lebih nyaman. Ada ruang pamer otomotif, elektronik, fashion, sporthealth and games hingga supermarket dan tempat makan. Sehingga jika datang bersama dengan keluarga, antara kebutuhan ayah, ibu dan anak semua terpenuhi di sana tanpa harus keluar area. Usai putri saya sibuk mencari sepatu yang pas di sport station, lalu bisa menemani saya belanja mingguan di supermarketnya. Kemudian menjelajah beauty store untuk membeli keperluan buat perempun seperti lipstik, pelembab dan body care yang kebetulan sudah habis juga.


    Setelah puas jalan-jalan dan belanja sesuai kebutuhan, saatnya mencari tempat buat makan. Enaknya di sini menyediakan area food court yang nyaman serta deretan cafe resto dengan berbagai macam pilihan. Tak ada tempat khusus yang didatangi saat itu, hanya saya menyerahkan pilihan pada anak. Selera Gen Z yang kadang berbeda dengan gen mom seperti saya, termasuk soal menunya. 

    Menu favorit Gen Z cenderung beragam dan kaya akan rasa global, seperti makanan pedas, fushion atau gabungan beberapa rasa dan bervariasi. Mereka ini menyukai makanan dan minuman yang unik, fotogenik serta inovatif karena seringkali terkait tren di media sosial yang lagi viral.

    "Ke atas aja yuk, Ma," ajak putri saya. Lalu kami menaiki eskalator sembari menikmati suasana mall dengan berbagai pengunjungnya. Mulai menyisir tempat makan favorit dengan menu yang sesuai selera. Akhirnya memilih Gokana Ramen & Teppan yang mempunyai area cukup luas dengan nuansa Jepang yang kental. Dari ornamen juga ambience dan interior hingga pramu saji yang menyambut di pintu depan. 



                                            Foto: dokpri @nuridazed

    Memilih tempat yang nyaman, kami lalu mulai memesan menu yang disediakan. Enaknya di sini, sembari menunggu pesanan datang, resto menyediakan cemilan ringan semacam kerupuk dihidangkan di sebuah toples besar dan customer dipersilakan mengambil secukupnya pada mangkuk kecil untuk dinikmati sepuasnya. Tak menunggu lama ramen yang dipesan datang. Puan memilih Chicken  Collagen Ramen Spicy yang lebih terasa pedasnya, sementara saya yang soft aja. 

    Di Gokana ini tak hanya menyediakan ramen sebagai menu andalan, tapi juga aneka bento yang nikmat dan lengkap dengan rasa yang tidak mengecewakan di lidah kita. Dan yang paling saya suka,  ada chawanmushi yang sangat lezat sebagai menu pembukanya. Sajian putih telur dan kaldu yang dikukus begitu lembut dengan tekstur custard atau puding yang lezat. Dengan topping seafood seperti udang, jamur siratake serta kamaboko- telur ikan jepang dan biji gingko biloba menambah kenikmatan sajian. Konon inijuga bagus untuk kesehatan sehingga membuat lidah saya tak berhenti bergoyang untuk terus mencicipinya. 

    Di lain waktu kami juga suka berburu kuliner di resto Social Affair yang menawarkan sajian bernuansa anak muda. Mencoba Linguine Aglio Olio, semacam spaghetti yang dilengkapi dengan potongan daging ayam yang diasap,  diramu dengan berbagai rempah yang enak juga. Dilengkapi ice caffe latte kesukaan putri saya yang segar dan cocok buat teman nugas.


    Jalan berdua Gen Z  sebenarnya tidak sekedar menikmati menu sajian yang disukai saja, tapi membuat kita semakin dekat karena punya moment untuk saling sharing dan berbagi cerita secara terbuka. Seperti teman saja, sembari makan bisa berdiskusi tentang apapun hingga sering menghasilkan ide untuk sebuah karya. Perut kenyang dan hati bahagia.

    Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

    

Kamis, 21 Agustus 2025

Hal Kecil yang Sangat Penting

     Kehilangan peniti ketika sedang berada di sebuah acara bisa bikin panik juga. Sepertinya tak berharga, tapi sangat penting waktu itu untuk saya. Pernah punya cerita yang sama? 

By Nur Ida Zed


                                       Pic. Dokpri @nuridazed


    Peniti. Biasanya barang kecil dengan bentuk khusus dan unik ini selalu ada di tas saya. Setidaknya karena lebih nyaman memakai hijab ( baca: kerudung) segitiga yang butuh peniti untuk mengaitkan kain di bawah dagu dan mengunci lipatan hijab agar pas di kepala serta rapi. Sehingga saya selalu menyiapkan beberapa sebagai cadangan, selain satu yang dipakai saat itu. Tapi entah kenapa setelah break makan siang dan sholat di mushola siang itu, barang kecil ini hilang entah kemana. Mungkin terjatuh ketika dipakai berwudhu tadi, atau terselip di kamar mandi karena memang saya ke toilet lebih dulu. Jelasnya saat saya mau memakai hijab kembali, barang kecil itu tidak lagi saya temui. 

    Saya cari di ujung jilbab yang biasa saya kaitkan juga tidak ada. Nah sialnya, ketika saya mencari cadangan di tas juga tidak ketemu. Padahal acara sebentar lagi dimulai, dan saya harus memberikan sepatah dua patah kata. 

    Ups, saya mencari-cari lagi tetap tidak ketemu. Mau beli di toko atau warung juga tanggung. Saya kurang tahu situasi dekat gedung yang sebesar ini. Kalau memakai jilbab segitiga tanpa peniti tentu rasanya tidak nyaman sekali. 

    Ditengah kebingungan ini, kemudian saya menengok ke kanan dan ke kiri. Rupanya ada office girl yang sedang berdiri di ujung sembari membersihkan wastafel.

    "Mbak.." saya mulai menyapa perempuan setengah baya, petugas kebersihan itu sembari mendekat. " Punya peniti, nggak? Boleh dong minta satu. Peniti saya hilang ini." Kata saya lagi. 

    Tanpa pikir panjang dia mencopot peniti yang dipakai di jilbabnya. "Ini, ibu, pakai saja gapapa" katanya sembari menyerahkan benda kecil itu kepada saya. 

    "Lha trus mbaknya gimana?" Langsung saya tanya. 

    " Gak apa-apa, ibu. Sepertinya di loker saya, di lantai bawah, ada," jawabnya. 

    "Owh, terima kasih ya,"

    " Sama-sama, Ibu," 

    Akhirnya saya bisa memakai jilbab dengan nyaman. Inilah hal kecil yang selalu saya ingat. Ternyata pertolongan bisa datang dari mana saja, dan dari siapa saja, bahkan orang yang baru kita temui tanpa kita kenal sebelumnya. Ya, mungkin ini salah satu dari sekian banyak cerita kebaikan yang saya terima.


Selalu Berfikir Positif

    Saya selalu yakin dan percaya dengan kalimat bijak yang mengatakan bahwa: ketika kita selalu berusaha berbuat baik, niscaya kebaikan itu akan kembali untuk diri kita. 

    Berbuat baik dan berfikir positif adalah kunci. Dan Mbak petugas kebersihan yang saya ceritakan telah berbuat baik kepada saya, dengan memberikan penitinya tadi menjadi solusi untuk jilbab saya saat itu. Saya yakin dia juga berfikir positif ketika melakukannya. Hal kecil yang dilakukan sangat penting untuk membentuk lingkungan yang positif juga. Karena interaksi dengan orang-orang yang positif, yang selalu optimis dan saling mendukung tanpa memandang status sosial akan menumbuhkan energi positif yang dapat membantu menularkan pada orang lain.

    Hal kecil yang penting dan sebaiknya ditanamkan di dalam diri sendiri adalah mengubah self talk negatif menjadi positif. Melihat sisi baik dari suatu masalah sehingga bisa membuat cara pandang dan perilaku menjadi lebih baik. 


Hal Kecil yang Sangat Penting

    Terkadang hal kecil seringkali terlupakan oleh kita, padahal itu sangat penting untuk membentuk karakter diri kita dan anak-anak menjadi lebih baik. Dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya, ada baiknya memperhatikan hal kecil dan sederhana yang akhirnya menjadi penting untuk berfikir positif.

    Seperti melakukan self talk positif dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, termasuk ketika memberikan komentar. Membiasakan diri untuk selalu mensyukuri hal-hal baik, sekecil apapun itu sebagai bentuk penerimaan terhadap kehidupan, serta mencari sisi baik dari setiap masalah.

    Mengganti respon negatif dengan respon positif, baik terhadap seseorang maupun situasi tertentu agar menjadi lebih baik dan konstruktif, bukan sebaliknya. Bergaul dengan orang-orang yang positif dan lingkungan sosial yang mendukung untuk saling menghargai tanpa merendahkan. Hal kecil yang sangat penting menjadi pengingat adalah ingatlah kebaikan untuk menyebarkan kebaikan selanjutnya.


    Salam sehat dan selalu semangat.*** NZ


Senin, 18 Agustus 2025

Budaya Membaca Buku

    Kegemaran membaca buku membuat saya sering hunting ke toko buku. Rupanya ini menurun juga pada anak, meski di jaman yang sudah serba digital ini.

By Nur Ida Zed

                                           Foto: dokpri @nuridazed

        Membaca buku menjadi salah satu sarana healing bagi saya sejak dulu. Ketika sudah tekun dengan buku bacaan, entah itu buku ilmu pengetahuan, buku biografi dan motivasi, fiksi dan non fiksi hingga banyak lagi, kadang membuat saya lupa waktu. Apalagi ketika harus menyelesaikan artikel atau tulisan dengan tema tertentu, buku bisa menjadi alternatif referensi. 

    Buku sebagai salah satu sumber ilmu dan jendela dunia memang benar adanya ya. Dari buku kita menjadi tahu banyak hal. Karenanya saya juga mengoleksi buku-buku ini. Ditata di rak dan lemari buku agar terlihat rapi dan mudah untuk mencarinya kembali. Buku yang sudah lama pun tetap saya simpan rapi. Sebagian buku-buku ini saya beli sendiri, ada juga hadiah dan pemberian dari sahabat, teman dan relasi. 

    Untuk membeli buku biasanya saya sisihkan budged khusus, meski tidak banyak. Kadang kalau ada teman atau sahabat yang sedang jalan-jalan dan menanyakan mau hadiah apa, saya suka dihadiahi atau diberi oleh-oleh buku. Apalagi ada beberapa teman yang juga penulis buku, seperti Noorca Massardi, Rayni yang suka mengundang saat launching buku barunya agar bisa direview.

    Beberapa penerbit juga kadang mengirim buku untuk direview. Begitu juga nara sumber yang kebetulan menulis buku. Jadi dari buku ini akan lebih bermanfaat karena isinya bisa dibagi di blog dan di media sosial. Dulu saya pernah dikontrak juga oleh penerbit Dinastindo Adiperkasa Internasional untuk Buku Serial Profesi, beberapa waktu lalu juga bersama penulis perempuan menulis buku Mantra Bahagia. Saat di majalah Herworld dan di Global Media pernah menjadi jabrik, penanggung jawab rubrik yang mengulas buku, sehingga kegemaran membaca ini semakin tersalurkan. 

                                                    Foto: dokpri @nuridazed

    Begitulah. Budaya membaca buku agaknya juga menurun pada anak anak, karena dari kecil mereka sudah dekenalkan dengan berbagai macam buku, untuk menambah wawasan dan meningkatkan kemampuan kognitifnya. Tak heran jika sampai saat ini membaca buku masih menjadi prioritas kegiatan yang digemari, karena memang banyak manfaatnya.

    Pernah sewaktu saya ajak di sebuah acara di Semarang waktu itu, dia minta saya menyempatkan juga untuk menemaninya mencari buku novel kesukaan yang lagi hipe di Gramedia. Untung tempatnya tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap, masih di seputaran Simpang Lima Semarang, jadi saya bisa atur di sela jadwal yang cukup padat. Saya memang tidak membatasi genre tertentu untuk dia membaca buku, entah fiksi maupun non fiksi, sepanjang itu positif dan sesuai dengan perkembangan usianya.


   Buku Fisik dan Digital

    Ya. Bagi yang hobi membaca buku saat ini rasanya semakin dimanjakan. Dengan adanya buku digital yang membuat para penikmat buku seperti saya sudah tidak repot lagi musti ke toko buku karena semua bisa didapat lewat gadged yang selalu dalam genggaman. Tinggal mencari apa yang dibutuhkan di google, maka akan banyak banget informasi yang didapatkan. Kadang tidak harus membeli buku secara fisik, tapi dengan e-book, pdf dan berlangganan sudah bisa membaca sepuasnya. Tapi sebenarnya membaca buku secara fisik maupun digital ada plus minusnya. Kalau mau yang praktis tentu lebih enak dengan buku digital, tapi ketika ingin merasakan sensasi dan manfaat lebih, membaca buku secara fisik memang tidak bisa digantikan.

    Seperti menandai  dengan pembatas buku yang kini dibuat lucu dan menarik agar kita tidak lupa membaca kelanjutanya. Juga bisa menandai dengan mencorat coret sesuai dengan cara berfikir kita agar lebih mudah memahaminya. Ternyata ini juga berlaku bagi Gen Z yang suka bucin membaca dan belajar dari buku, tak peduli setebal apa. 


Inspirasi dari Buku

    Budaya membaca buku memang patut disuarakan ya, karena bagi sebagian orang membaca buku ini bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Selain bisa menjadi 'pelarian' yang menyenangkan dari tekanan hidup sehari-hari, juga bisa membantu menenangkan pikiran, meredakan stres dan memberi solusi dari permasalahan.

    Membaca buku bisa memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup dan menjadi hiburan yang mudah dan murah didapatkan, baik itu dalam bentuk digital maupun fisik. Semakin banyak membaca, semakin terasa ingin tahu lebih banyak mengenai hal-hal yang kadang tidak terpikirkan oleh otak kita. 

    Saran saya, pilih buku yang sesuai minat dengan genre yang paling disukai agar termotivasi untuk terus membaca. Jangan memaksakan diri jika tidak suka karena setiap orang memiliki ketertarikan di bidang masing-masing. 

    Cari waktu yang tepat dan nyaman untuk membaca, agar bebas gangguan dan bisa lebih fokus. Tak harus membaca buku yang berkesan "berat" agar terlihat hebat, sesekali pilih buku yang isinya ringan semacam Humor Mati Ketawa Cara Rusia, untuk refreshing agar pikiran tetap segar. Saling bertukar buku dengan anak biasa saya lakukan juga, supaya kita memahami pola pikir mereka. Dengan begitu kadang bisa terlibat diskusi panjang yang mengasyikkan dari sebuah buku. Suasana ini tentu saling memberikan energi positif dalam menambah wawasan, meningkatkan imajinasi dan menjelajahi dunia baru melalui buku.

    Salam sehat dan selalu semangat. ***NZ