Kamis, 29 Januari 2026

Rich Dad Poor Dad Belajar Finansial dari Kisah di Buku ini


    Menemukan buku ini lagi tanpa sengaja. Dulu cuma baca reviewnya. Setelah itu merasa patut dipahami lebih dalam, tentang pola pikir dan apa yang diajarkan oleh orang kaya kepada anak mereka tentang uang, yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah. 

By Nur Ida Zed

                                                                Foto: dok Gramedia

      Buku best seller karya Rober T. Kiyosaki ini rasanya tak pernah lekang dimakan zaman. Sejak tahun diterbitkan pertama dulu hingga saat ini sepertinya tetap relevan untuk dibaca dan dimengerti. Buat para orang tua, baik ayah maupun ibu seperti saya rasanya layak agar bisa membuka wawasan tentang cara pandang kepada seorang anak, termasuk Gen Z mengenai uang dan finasial buat dirinya. Karena mengungkap bagaimana seorang anak memahami arah didikan dari panutan mengenai cara pandang tentang uang untuk masa depannya dari sosok ayah (baca: Dad)

     Dari judulnya saya sudah tertarik, karena mengemukakan tentang ayah, seorang laki-laki kepala keluarga yang menjadi nahkoda dari sebuah keluarga, termasuk dalam mendidik dan mengajarkan suri tauladan buat anak-anaknya. Rich Dad Poor Dad, ayah kaya ayah miskin memberikan dua paradigma yang berbeda dan bertentangan satu dengan lainnya. Dua sisi yang bertolak belakang mengenai cara pandang tentang kehidupan dalam memaknai uang serta finansial yang didapat dari seorang anak sejak masa kecilnya. Ceritanya ketika itu anak mulai usia sembilan tahun, saat duduk di sekolah dasar sebagai pencarian dalam pembentukan jati dirinya.


Poor Dad-Ayah Miskin

     Adalah ayahnya sendiri yang selalu dekat dan menjadi  panutan setiap hari adalah "ayah miskin" yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan untuk mencapai kesuksesan dengan cara mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Ayah miskin yang pandai dan brillian, yang menomor satukan sekolah dengan angka-angka akademis yang tinggi agar kelak bisa mendapatkan gelar, kemudian diterima bekerja di tempat yang layak karena prestasi dan kepandaian. 

     Ayah ini seorang yang jenius. Di saat sekolah selalu mendapatkan juara, hingga lulus S1 dengan beasiswa, begitupun ketika lanjut S2 dan S3. Predikat summa cumlaude, dan diterima sebagai pengajar teladan di kampus ternama karena dedikasinya. 

     "Kamu harus mengutamakan pendidikan. Sekolah yang benar dan setinggi-tingginya di tempat yang bagus agar jadi manusia yang beruntung dan punya banyak uang, " begitu selalu yang diajarkan.  Hingga dia harus berhemat, dan belajar terus untuk mengejar semua cita-citanya. Ayah ini mengajarkan dedikasi, tanggung jawab dan segala prestasi agar punya masa depan cerah, dapat tempat kerja yang nyaman, serta bisa menjadi kebanggan keluarga. Sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Ayah Kaya, Rich Dad. 


Rich Dad Ayah Kaya

     Sementara ayah kaya adalah ayah teman sekolahnya, sahabat yang sudah dianggap sebagai ayah angkat karena begitu dekat. Ayah ini mengajarkan bahwa uang adalah alat yang bisa bekerja untuk kita. Ayah yang tidak pernah menyelesaikan kelas delapan, tapi berani melakukan hal yang berkenaan dengan finansial sehingga bisa mendapatkan banyak keuntungan dari uang. Sekolah bukan hanya tempat belajar tapi sarana yang memberikan pengalaman menyenangkan untuk bersoasialisasi, negosiasi dan networking sehingga membuat dia banyak memberikan solusi khususnya mengenai uang dan finansial. 

     Pada ayah ini selalu ada pertanyaan bagaimana caranya bisa mendapatkan semua keinginan agar otak dan pikiran selalu berkembang. 


Implementasi dan Pola Pikir

     Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama benar, mengajarkan tentang bagaimana menghargai ilmu dan implementasinya buat masa depan. Dalam menghargai uang, ayah miskin menjadikan sebagai tujuan, sementara ayah kaya memperlakukan sebagai alat untuk berkembang. Ayah kaya membeli mobil Roll Royce, karena baginya akan membuat senang sehingga orang melihatnya mampu membeli barang mewah dengan uangnya. Sedangkan ayah miskin tak perlu validasi lewat materi, tapi ditunjukkan dengan dedikasi. Sehingga tidak harus bermewah-mewah, karena dengan apa adanya takkan jadi banyak masalah. 

   Bersama ayah miskin dia hanya dibebani dengan belajar, sementara ayah kaya dibiarkan untuk selalu berkembang. Seperti ketika menginginkan sesuatu yang mahal, ayah miskin selalu berpesan: tak usah meraih hal yang kamu tak bisa menggapainya, nanti terlalu lelah. Nikmati semua yang ada di hadapanmu dengan rasa senang. Sementara ayah kaya, jika menginginkan sesuatu, maka usahakan sekuat dirimu. Raihlah. Pikirkan dan lakukan terus untuk mencapai tujuanmu sampai ada dalam genggaman sebagai sebuah pencapaian. Tak ada yang tak mungkin jika kita yakin.

     Ya. Buku ini memberikan paparan mengenai apa yang diajarkan orang kaya kepada anak mereka agar lebih kreatif dalam mengahasilkan uang dengan berbagai resiko dan tantangan. Setidaknya dengan menghancurkan mitos bahwa kita perlu memiliki penghasilan tinggi agar bisa kaya. Mengalahkan rasa takut dengan mengambil resiko cerdas, sebab banyak orang tidak pernah kaya karena takut gagal. Padahal kegagalan adalah bagian dari proses belajar keuangan.

     Intinya dalam buku ini tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi kaya, tapi berpikir seperti orang kaya yakni berani belajar, berinvestasi dan membangun aset jangka panjang. Aset dan liabilitas adalah kunci. Karena orang kaya fokus membeli aset untuk menghasilkan uang, bukan liabilitas yang tampak keren tapi menguras cash flow


     Lebih jauh, anak dalam cerita ini mendapatkan dua pandangan tentang uang dan bagaimana cara mengelola finasial dalam hidupnya untuk bekal di masa depannya. Mau jadi apa kelak, tergantung bagaimana memilih yang terbaik untuk dirinya dalam menghargai uang serta cara pandang soal materi. 

    Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama mengajarkan bagaimana memperlakukan uang untuk tujuan hidup kita. Dan ini hendaknya diberikan pada anak sejak awal mengenal nilai uang dalam dirinya. Menurut saya, ketika keduanya dipadukan sesuai situasi dan kondisi, maka hidup akan terasa lebih sempurna. Berpendidikan dan kaya raya, siapa yang gak mau ya, haha. Namun apapun cara pandang tentang uang dan kekayaan, tergantung dilihat dari kacamata yang mana. Kalau saya menuntut ilmu itu sangat perlu, dan banyak uang untuk menjadi kaya memang sudah seharusnya. Ilmu dan kaya harus berjalan beriringan. Bagaimana menurut kamu? 


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Selasa, 20 Januari 2026

Membangun Energi di Tempat yang Menginspirasi


     Tempat kadang mampu memunculkan mood kita dalam bekerja dan berkarya. Membangun energi di tempat favorit yang menginspirasi terasa lebih enjoy dan selalu ingin kembali. 

By Nur Ida Zed

                                                         Foto: dokpri @nuidazed


     Adakah tempat favorit yang bisa membuat  nyaman sehingga dapat menambah semangat ketika dikunjungi? Selain di rumah sendiri, kadang saya perlu menyambangi tempat tertentu untuk menambah mood seperti di perpustakaan, cafe resto,  area taman bahkan di selasar masjid. Alasannya sederhana, saya kadang perlu suasana baru agar hidup tidak terasa monoton. Lebih berwarna dan membuat saya membuka wawasan serta pandangan untuk terus berfikir positif. 


Perpustakaan

     Dulu waktu masih kuliah di Yogya, saya juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus untuk sekedar membaca buku, mencari berbagai literasi dan mengerjakan tugas. Bahkan ketika sedang bete (baca: boring total), pergi ke perpus untuk sekedar menghabiskan waktu luang. Tak pernah bosan dengan suasananya yang tenang, di antara deretan buku-buku beraneka tema dan genre yang diinginkan. Seperti surga rasanya bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Teman saya sampai hafal, kalau dicari gak ada biasanya nongkrongnya di perpustakaan. 

     Entah, perpustakaan memang membuat saya senang. Apalagi kondisi saat ini yang hampir semua perpustakaan sudah dibuat modern hingga membuat pengunjungnya lebih nyaman. Mencari segala jenis buku apapun ada. Tinggal klik di layar, semua sudah tersedia. Jadi lebih gampang jika ingin menambah literasi untuk memperkaya tulisan dan karya lainnya. 

                                                      Foto: dokpri @dvine_adinda

     Di Jakarta, Perpustakaan Nasional di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat itu bagi saya cukup "mewah" dan memanjakan pengunjungnya. Tak hanya deretan buku yang super lengkap di setiap lantainya, tapi berbagai diorama, tempat diskusi, ruang presentasi dan museum juga ada.  Di beberapa sisi dilengkapi cafe yang menyediakan berbagai kudapan sehingga membuat betah berlama-lama di sana. Ada taman outdoor yang bisa dipakai ngobrol antar teman karena disediakan banyak kursi di antara tanaman dan kembang-kembang. Mungkin bahkan bisa dinamai sebagai destinasi wisata karena yang datang tidak hanya warga Jakarta saja, tapi juga para pelancong dari luar kota dan luar negeri yang ingin berkunjung dan menikmati manfaatnya. 

     Atau Perpustakaan Jakarta dan pusat dokumen sastra HB Yassin di TIM-Taman Ismail Marzuki,  Cikini yang dibuat lebih homey dengan deretan buku di rak-rak kayu serta beberapa kursi yang ditata memiliki view pemandangan kota karena berada di lantai empat sampai tujuh. Perpustakaan ini bahkan dilengkapi immersive studio, game centre dan ruang interaksi sehingga lebih seru buat belajar. Lebih senangnya karena terbuka untuk umum dan gratis. 

     Perpustakaan memang menjadi tempat in charge energi yang baik menurut saya. Sejak jadi mahasiswa, Puan putri saya rupanya juga menyenangi perpustakaan sebagai salah satu comfort place manakala sendiri dan bareng teman. Seperti di saat menunggu pergantian jam kuliah selanjutnya yang kadang butuh waktu panjang. Di Perpus Universitas Indonesia yang dibangun artistik dan modern ini bahkan dilengkapi ruangan yang luas di lantai satu dengan sebutan "Kebun Apel", yang biasa dipergunakan para mahasiswa untuk belajar, mengerjakan tugas, menyelesaikan skripsi, tesis hingga mencari data dan memperkaya literasi karena disediakan deretan komputer bermerk Apple.


Cafe Resto

     Tidak hanya sebagai tempat makan, cafe resto kadang menjadi tempat yang asik buat saya mencari inspirasi dan mengerjakan tugas saat dikejar dead line. Sembari ketak-ketik menyelesaikan naskah atau tulisan, misalnya, makanan kesukaan yang dipesan sudah disediakan. Jadi mood kembali datang tanpa takut perut keroncongan. 

     Biasanya saya memilih cafe yang familier dengan suasana nyaman yang menyediakan menu favorit dan free wifi tanpa asap rokok. Penting bagi saya karena banyak cafe yang juga menyediakan ruang untuk para perokok yang kadang asapnya bisa menyelinap di ruang lain, dan menurut saya itu bisa merugikan bahkan membahayakan. 

    You Cafe yang menyediakan berbagai menu lezat yang pas buat menemani beraktivitas sering saya kunjungi selain beberapa cafe di mal. Dengan suasana unik yang didesain cantik menjadi tempat yang nyaman untuk mencari inspirasi, sekaligus pas buat ketemu klien, ketika harus presentasi. 



Area Taman 

     Kadang saya mengunjungi taman untuk membangun mood dan mencari inspirasi agar pikiran tetap segar. Taman kota  seperti Cibis Park di TB Simatupang, Jakarta Selatan kini sudah menjadi tempat favorit yang menyenangkan buat para kreator berkarya, berkreasi dan menuangkan imajinasi. 

     Suasanaya yang selalu segar karena banyak pepohonan hijau serta aneka tanaman dan bunga yang ditata asri itu memberikan nuansa tersendiri hingga mampu membuat mood bangkit lagi. Duduk-duduk di sana sembari mencari inspirasi atau sambil olah raga jalan santai bisa menambah energi positif. 


Selasar Masjid

     Selain itu masjid juga bisa membuat saya kembali menambah energi. Sembari menunggu waktu sholat, saya biasanya menggunakan momen itu untuk berdoa, bersyukur atas segala nikmat, menggali ide kecil yang kadang tak terlihat dengan membuat catatan agar mudah diingat. Selasar masjid sudah menjadi tempat yang akrab buat saya, karena dari kecil sering diajak Kakek mengaji di Masjid Besar Baitun Nur, di Blora, kota kelahiran saya. Menunggu waktu sholat sembari bermain atau baca buku cerita Kisah Para Nabi dan Rasul bersama teman-teman kecil saya, lalu sholat berjamaah dilanjut mengaji di sana hingga Isya. Di selasar masjid hati ini menjadi tenang dan pikiran bertambah sejuk. Ya. Keberadaan masjid memang tidak hanya untuk ibadah semata, tapi juga kegiatan yang positif dan bermanfaat. 

     Kini, di selasar Masjid Jami' Uhkuwah Islamiyah, Universitas Indonesia seringkali terlihat banyak mahasiswa dan pengunjung yang asik berselancar sembari menikmati pemandangan seputar Danau Kenanga karena dilengkapi banyak colokan juga. Beberapa orang tua seperti saya, saat libur kadang menunggu anaknya yang sedang berkegiatan di sana karena lebih nyaman dan strategis,  tidak perlu repot mencari tempat ibadah menjelang waktu sholat tiba. 


                                                                dokpri @nuridazed

     Yang paling mengesankan buat saya ketika dapat bersujud dan bermunajad di Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, di Mekkah saat beribadah umroh. Begitu damai dan tentramnya hati ini menginjakkan kaki di Baitullah. Langsung terasa begitu dekatnya kita pada Sang Pencipta, seolah recharge energi yang paling tinggi. Setiap saat terasa demikian dekat, seolah dalam pelukan erat ketika kita sedang bertawaduk pada Illahi Robbi. Saya bersimpuh penuh berserah diri. Apalagi di dua tempat yang suci ini kita bisa minum air zam-zam sesuka hati, sehingga selalu merasa rindu untuk kembali. Beribadah lagi, memperbaiki diri. 

    Ya. Adakah tempat yang bisa membangun energi dan menginspirasi buatmu? Jadikan sebagai penyemangat dalam menambah kemanfaatan buat diri, hati dan pikiran serta ibadahmu. 

     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Jumat, 22 Agustus 2025

Menu Kulineran Bareng Gen Z

    Jalan bareng Gen Z rasanya kurang lengkap tanpa kulineran. Sembari mengerjakan tugas, mencoba menu favorit dan menikmati atmosfer yang ditawarkan.

By Nur Ida Zed


                                                        Foto: dokpri @nuridazed

    Sepanjang punya waktu, saya selalu menyempatkan untuk jalan bareng putri saya buat bonding sembari refreshing. Banyak hal yang bisa dimanfaatkan ketika berdua saja menghabiskan waktu di sela kesibukan. Seperti sore itu, ketika janjian ke mall untuk membeli sepatu dan beberapa keperluan. Memilih salah satu mall di Jakarta Selatan karena tidak terlalu jauh dari rumah dan di sana cukup lengkap dengan banyak store serta tenant yang biasa menyediakan semua kebutuhan. 

    Konsep mall modern sekarang ini memang membuat pengunjung seolah dimanjakan. One stop shooping yang mengakomodir semua kepentingan dalam satu tempat menjadi lebih nyaman. Ada ruang pamer otomotif, elektronik, fashion, sporthealth and games hingga supermarket dan tempat makan. Sehingga jika datang bersama dengan keluarga, antara kebutuhan ayah, ibu dan anak semua terpenuhi di sana tanpa harus keluar area. Usai putri saya sibuk mencari sepatu yang pas di sport station, lalu bisa menemani saya belanja mingguan di supermarketnya. Kemudian menjelajah beauty store untuk membeli keperluan buat perempun seperti lipstik, pelembab dan body care yang kebetulan sudah habis juga.


    Setelah puas jalan-jalan dan belanja sesuai kebutuhan, saatnya mencari tempat buat makan. Enaknya di sini menyediakan area food court yang nyaman serta deretan cafe resto dengan berbagai macam pilihan. Tak ada tempat khusus yang didatangi saat itu, hanya saya menyerahkan pilihan pada anak. Selera Gen Z yang kadang berbeda dengan gen mom seperti saya, termasuk soal menunya. 

    Menu favorit Gen Z cenderung beragam dan kaya akan rasa global, seperti makanan pedas, fushion atau gabungan beberapa rasa dan bervariasi. Mereka ini menyukai makanan dan minuman yang unik, fotogenik serta inovatif karena seringkali terkait tren di media sosial yang lagi viral.

    "Ke atas aja yuk, Ma," ajak putri saya. Lalu kami menaiki eskalator sembari menikmati suasana mall dengan berbagai pengunjungnya. Mulai menyisir tempat makan favorit dengan menu yang sesuai selera. Akhirnya memilih Gokana Ramen & Teppan yang mempunyai area cukup luas dengan nuansa Jepang yang kental. Dari ornamen juga ambience dan interior hingga pramu saji yang menyambut di pintu depan. 



                                            Foto: dokpri @nuridazed

    Memilih tempat yang nyaman, kami lalu mulai memesan menu yang disediakan. Enaknya di sini, sembari menunggu pesanan datang, resto menyediakan cemilan ringan semacam kerupuk dihidangkan di sebuah toples besar dan customer dipersilakan mengambil secukupnya pada mangkuk kecil untuk dinikmati sepuasnya. Tak menunggu lama ramen yang dipesan datang. Puan memilih Chicken  Collagen Ramen Spicy yang lebih terasa pedasnya, sementara saya yang soft aja. 

    Di Gokana ini tak hanya menyediakan ramen sebagai menu andalan, tapi juga aneka bento yang nikmat dan lengkap dengan rasa yang tidak mengecewakan di lidah kita. Dan yang paling saya suka,  ada chawanmushi yang sangat lezat sebagai menu pembukanya. Sajian putih telur dan kaldu yang dikukus begitu lembut dengan tekstur custard atau puding yang lezat. Dengan topping seafood seperti udang, jamur siratake serta kamaboko- telur ikan jepang dan biji gingko biloba menambah kenikmatan sajian. Konon inijuga bagus untuk kesehatan sehingga membuat lidah saya tak berhenti bergoyang untuk terus mencicipinya. 

    Di lain waktu kami juga suka berburu kuliner di resto Social Affair yang menawarkan sajian bernuansa anak muda. Mencoba Linguine Aglio Olio, semacam spaghetti yang dilengkapi dengan potongan daging ayam yang diasap,  diramu dengan berbagai rempah yang enak juga. Dilengkapi ice caffe latte kesukaan putri saya yang segar dan cocok buat teman nugas.


    Jalan berdua Gen Z  sebenarnya tidak sekedar menikmati menu sajian yang disukai saja, tapi membuat kita semakin dekat karena punya moment untuk saling sharing dan berbagi cerita secara terbuka. Seperti teman saja, sembari makan bisa berdiskusi tentang apapun hingga sering menghasilkan ide untuk sebuah karya. Perut kenyang dan hati bahagia.

    Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

    

Kamis, 21 Agustus 2025

Hal Kecil yang Sangat Penting

     Kehilangan peniti ketika sedang berada di sebuah acara bisa bikin panik juga. Sepertinya tak berharga, tapi sangat penting waktu itu untuk saya. Pernah punya cerita yang sama? 

By Nur Ida Zed


                                       Pic. Dokpri @nuridazed


    Peniti. Biasanya barang kecil dengan bentuk khusus dan unik ini selalu ada di tas saya. Setidaknya karena lebih nyaman memakai hijab ( baca: kerudung) segitiga yang butuh peniti untuk mengaitkan kain di bawah dagu dan mengunci lipatan hijab agar pas di kepala serta rapi. Sehingga saya selalu menyiapkan beberapa sebagai cadangan, selain satu yang dipakai saat itu. Tapi entah kenapa setelah break makan siang dan sholat di mushola siang itu, barang kecil ini hilang entah kemana. Mungkin terjatuh ketika dipakai berwudhu tadi, atau terselip di kamar mandi karena memang saya ke toilet lebih dulu. Jelasnya saat saya mau memakai hijab kembali, barang kecil itu tidak lagi saya temui. 

    Saya cari di ujung jilbab yang biasa saya kaitkan juga tidak ada. Nah sialnya, ketika saya mencari cadangan di tas juga tidak ketemu. Padahal acara sebentar lagi dimulai, dan saya harus memberikan sepatah dua patah kata. 

    Ups, saya mencari-cari lagi tetap tidak ketemu. Mau beli di toko atau warung juga tanggung. Saya kurang tahu situasi dekat gedung yang sebesar ini. Kalau memakai jilbab segitiga tanpa peniti tentu rasanya tidak nyaman sekali. 

    Ditengah kebingungan ini, kemudian saya menengok ke kanan dan ke kiri. Rupanya ada office girl yang sedang berdiri di ujung sembari membersihkan wastafel.

    "Mbak.." saya mulai menyapa perempuan setengah baya, petugas kebersihan itu sembari mendekat. " Punya peniti, nggak? Boleh dong minta satu. Peniti saya hilang ini." Kata saya lagi. 

    Tanpa pikir panjang dia mencopot peniti yang dipakai di jilbabnya. "Ini, ibu, pakai saja gapapa" katanya sembari menyerahkan benda kecil itu kepada saya. 

    "Lha trus mbaknya gimana?" Langsung saya tanya. 

    " Gak apa-apa, ibu. Sepertinya di loker saya, di lantai bawah, ada," jawabnya. 

    "Owh, terima kasih ya,"

    " Sama-sama, Ibu," 

    Akhirnya saya bisa memakai jilbab dengan nyaman. Inilah hal kecil yang selalu saya ingat. Ternyata pertolongan bisa datang dari mana saja, dan dari siapa saja, bahkan orang yang baru kita temui tanpa kita kenal sebelumnya. Ya, mungkin ini salah satu dari sekian banyak cerita kebaikan yang saya terima.


Selalu Berfikir Positif

    Saya selalu yakin dan percaya dengan kalimat bijak yang mengatakan bahwa: ketika kita selalu berusaha berbuat baik, niscaya kebaikan itu akan kembali untuk diri kita. 

    Berbuat baik dan berfikir positif adalah kunci. Dan Mbak petugas kebersihan yang saya ceritakan telah berbuat baik kepada saya, dengan memberikan penitinya tadi menjadi solusi untuk jilbab saya saat itu. Saya yakin dia juga berfikir positif ketika melakukannya. Hal kecil yang dilakukan sangat penting untuk membentuk lingkungan yang positif juga. Karena interaksi dengan orang-orang yang positif, yang selalu optimis dan saling mendukung tanpa memandang status sosial akan menumbuhkan energi positif yang dapat membantu menularkan pada orang lain.

    Hal kecil yang penting dan sebaiknya ditanamkan di dalam diri sendiri adalah mengubah self talk negatif menjadi positif. Melihat sisi baik dari suatu masalah sehingga bisa membuat cara pandang dan perilaku menjadi lebih baik. 


Hal Kecil yang Sangat Penting

    Terkadang hal kecil seringkali terlupakan oleh kita, padahal itu sangat penting untuk membentuk karakter diri kita dan anak-anak menjadi lebih baik. Dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya, ada baiknya memperhatikan hal kecil dan sederhana yang akhirnya menjadi penting untuk berfikir positif.

    Seperti melakukan self talk positif dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik untuk diri sendiri dan orang lain, termasuk ketika memberikan komentar. Membiasakan diri untuk selalu mensyukuri hal-hal baik, sekecil apapun itu sebagai bentuk penerimaan terhadap kehidupan, serta mencari sisi baik dari setiap masalah.

    Mengganti respon negatif dengan respon positif, baik terhadap seseorang maupun situasi tertentu agar menjadi lebih baik dan konstruktif, bukan sebaliknya. Bergaul dengan orang-orang yang positif dan lingkungan sosial yang mendukung untuk saling menghargai tanpa merendahkan. Hal kecil yang sangat penting menjadi pengingat adalah ingatlah kebaikan untuk menyebarkan kebaikan selanjutnya.


    Salam sehat dan selalu semangat.*** NZ


Senin, 18 Agustus 2025

Budaya Membaca Buku

    Kegemaran membaca buku membuat saya sering hunting ke toko buku. Rupanya ini menurun juga pada anak, meski di jaman yang sudah serba digital ini.

By Nur Ida Zed

                                           Foto: dokpri @nuridazed

        Membaca buku menjadi salah satu sarana healing bagi saya sejak dulu. Ketika sudah tekun dengan buku bacaan, entah itu buku ilmu pengetahuan, buku biografi dan motivasi, fiksi dan non fiksi hingga banyak lagi, kadang membuat saya lupa waktu. Apalagi ketika harus menyelesaikan artikel atau tulisan dengan tema tertentu, buku bisa menjadi alternatif referensi. 

    Buku sebagai salah satu sumber ilmu dan jendela dunia memang benar adanya ya. Dari buku kita menjadi tahu banyak hal. Karenanya saya juga mengoleksi buku-buku ini. Ditata di rak dan lemari buku agar terlihat rapi dan mudah untuk mencarinya kembali. Buku yang sudah lama pun tetap saya simpan rapi. Sebagian buku-buku ini saya beli sendiri, ada juga hadiah dan pemberian dari sahabat, teman dan relasi. 

    Untuk membeli buku biasanya saya sisihkan budged khusus, meski tidak banyak. Kadang kalau ada teman atau sahabat yang sedang jalan-jalan dan menanyakan mau hadiah apa, saya suka dihadiahi atau diberi oleh-oleh buku. Apalagi ada beberapa teman yang juga penulis buku, seperti Noorca Massardi, Rayni yang suka mengundang saat launching buku barunya agar bisa direview.

    Beberapa penerbit juga kadang mengirim buku untuk direview. Begitu juga nara sumber yang kebetulan menulis buku. Jadi dari buku ini akan lebih bermanfaat karena isinya bisa dibagi di blog dan di media sosial. Dulu saya pernah dikontrak juga oleh penerbit Dinastindo Adiperkasa Internasional untuk Buku Serial Profesi, beberapa waktu lalu juga bersama penulis perempuan menulis buku Mantra Bahagia. Saat di majalah Herworld dan di Global Media pernah menjadi jabrik, penanggung jawab rubrik yang mengulas buku, sehingga kegemaran membaca ini semakin tersalurkan. 

                                                    Foto: dokpri @nuridazed

    Begitulah. Budaya membaca buku agaknya juga menurun pada anak anak, karena dari kecil mereka sudah dekenalkan dengan berbagai macam buku, untuk menambah wawasan dan meningkatkan kemampuan kognitifnya. Tak heran jika sampai saat ini membaca buku masih menjadi prioritas kegiatan yang digemari, karena memang banyak manfaatnya.

    Pernah sewaktu saya ajak di sebuah acara di Semarang waktu itu, dia minta saya menyempatkan juga untuk menemaninya mencari buku novel kesukaan yang lagi hipe di Gramedia. Untung tempatnya tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap, masih di seputaran Simpang Lima Semarang, jadi saya bisa atur di sela jadwal yang cukup padat. Saya memang tidak membatasi genre tertentu untuk dia membaca buku, entah fiksi maupun non fiksi, sepanjang itu positif dan sesuai dengan perkembangan usianya.


   Buku Fisik dan Digital

    Ya. Bagi yang hobi membaca buku saat ini rasanya semakin dimanjakan. Dengan adanya buku digital yang membuat para penikmat buku seperti saya sudah tidak repot lagi musti ke toko buku karena semua bisa didapat lewat gadged yang selalu dalam genggaman. Tinggal mencari apa yang dibutuhkan di google, maka akan banyak banget informasi yang didapatkan. Kadang tidak harus membeli buku secara fisik, tapi dengan e-book, pdf dan berlangganan sudah bisa membaca sepuasnya. Tapi sebenarnya membaca buku secara fisik maupun digital ada plus minusnya. Kalau mau yang praktis tentu lebih enak dengan buku digital, tapi ketika ingin merasakan sensasi dan manfaat lebih, membaca buku secara fisik memang tidak bisa digantikan.

    Seperti menandai  dengan pembatas buku yang kini dibuat lucu dan menarik agar kita tidak lupa membaca kelanjutanya. Juga bisa menandai dengan mencorat coret sesuai dengan cara berfikir kita agar lebih mudah memahaminya. Ternyata ini juga berlaku bagi Gen Z yang suka bucin membaca dan belajar dari buku, tak peduli setebal apa. 


Inspirasi dari Buku

    Budaya membaca buku memang patut disuarakan ya, karena bagi sebagian orang membaca buku ini bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Selain bisa menjadi 'pelarian' yang menyenangkan dari tekanan hidup sehari-hari, juga bisa membantu menenangkan pikiran, meredakan stres dan memberi solusi dari permasalahan.

    Membaca buku bisa memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup dan menjadi hiburan yang mudah dan murah didapatkan, baik itu dalam bentuk digital maupun fisik. Semakin banyak membaca, semakin terasa ingin tahu lebih banyak mengenai hal-hal yang kadang tidak terpikirkan oleh otak kita. 

    Saran saya, pilih buku yang sesuai minat dengan genre yang paling disukai agar termotivasi untuk terus membaca. Jangan memaksakan diri jika tidak suka karena setiap orang memiliki ketertarikan di bidang masing-masing. 

    Cari waktu yang tepat dan nyaman untuk membaca, agar bebas gangguan dan bisa lebih fokus. Tak harus membaca buku yang berkesan "berat" agar terlihat hebat, sesekali pilih buku yang isinya ringan semacam Humor Mati Ketawa Cara Rusia, untuk refreshing agar pikiran tetap segar. Saling bertukar buku dengan anak biasa saya lakukan juga, supaya kita memahami pola pikir mereka. Dengan begitu kadang bisa terlibat diskusi panjang yang mengasyikkan dari sebuah buku. Suasana ini tentu saling memberikan energi positif dalam menambah wawasan, meningkatkan imajinasi dan menjelajahi dunia baru melalui buku.

    Salam sehat dan selalu semangat. ***NZ



Jumat, 15 Agustus 2025

Sukses Madah Bahana Universitas Indonesia

    Makna kesuksesan itu sangat subjektif dan berbeda bagi setiap orang. Sukses memiliki proses panjang dengan usaha tak kenal lelah untuk mencapai tujuan. Begitu juga Marching Band UI, yang menjadi kebanggaan alamater dan memiliki banyak prestasi. 

By Nur Ida Zed


                                                  Pic.dok.MBUI


    Ketika tepuk tangan membahana di Gedung Balaiung yang megah itu, saya merasakan juga getaran yang membuncah. Bukan untuk saya, tapi untuk tim Marching Band Univesitas Indonesia yang baru saja perform dengan menampilkan lagu Hymne Univesitas Indonesia, K-Pop, We Are Champhion dan Genderang UI. Perfecto. Dan ribuan penonton yang ada di sana memberi applaus, termasuk saya. Ya. Karena salah satu pasukan dari tim itu adalah putri saya Puan, Dvine Adinda.

    Menjadi pasukan Color Guard (CG) adalah pilihannya ketika mengikuti salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di almamater terbaik ini. Awalnya diajak gabung karena memang sudah memiliki pengalaman ikut Marching Band atau MB ketika masih duduk di SMPN 41 Jakarta waktu itu, sehingga untuk kegiatan yang melibatkan tim dan mengedepankan kekompakan serta profesional dalam  harmonisasi yang apik dan selaras sudah terbiasa.

                                                            Pic.dok pri

    Kali ini entah perform yang ke berapa semenjak dia ikut MBUI setahun lalu, tepatnya sejak diterima sebagai mahasiswa baru angkatan 2024. Sudah mengerti mengenai konsekuensi dan komitmen, terutama untuk latihan rutin, ditambah latihan khusus menjelang perform seperti saat ini. Apalagi ketika mempersiapkan lomba seperti beberapa waktu lalu. Sebab MBUI ini juga seringkali menorehkan prestasi di banyak kejuaraan, selain juga undangan di berbagai event tingkat nasional maupun internasional. Karenanya aktivitas ini akan membentuk karaker generasi muda yang tangguh dan sanggup menghadapi tantangan zaman. 

Di akhir penampilan Genderang UI yang menjadi salah satu lagu semangat untuk para mahasiswa,  kembali tepuk tangan menggemuruh mengiringi tim yang mulai menutup display dengan penuh pesona.


                                           Pic.doc MBUI

Lalu ketika semua pasukan sudah menuruni stage menuju booth untuk parade di samping Balairung, tak henti banyak yang mengucap: "Selamat, ya. Sukses performnya. Sukses MBUI." Dan saya juga merasakan vibe itu. Karena saya tahu, untuk mencapai semua ini, membuat kekompakan yang begitu harmoni dari sisi lagu, aransemen, koreo hingga kostum dari masing-masing section baik itu Brass, Perkusi hingga Color Guard (CG) memang tidaklah mudah. Butuh poses yang panjang dan latihan serta komitmen yang kuat untuk membawa bendera Madah Bahana Univesitas Indonesia tetap berkibar. 

    Marching Band UI yang bernama Madah Bahana UI ini merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tertua yang menjadi kebanggaan almamater terbaik di Indonesia.  Dan bila sampai saat ini tetap membahana, menurut saya merupakan salah satu kesuksesan juga. Kesuksesan untuk tim, juga sukses buat semua pasukan yang terlibat di dalamnya.


Sukses itu Soal Rasa

    Makna kesuksesan sebenarnya sebuah pencapaian yang memberikan rasa kepuasan dan kebahagiaan. Sukses buat setiap orang bisa saja berbeda, tergantung tujuan hidup yang ingin didapatkan untuk dirinya.

    Kesuksesan bagi diri sendiri merupakan makna pencapaian tujuan dan nilai-nilai pribadi yang memberikan rasa kepuasan dan kebahagiaan. Pada banyak orang mungkin bisa berupa  materi berlimpah, pekerjaan, karir dan pengakuan seperti jabatan, label atau titel yang sudah didapatkan dengan susah payah. Tetapi juga tentang pertumbuhan pribadi dari awal, pemenuhan diri dan kontribusi positif pada dunia ini.

    Sukses itu soal rasa, bagaimana mencapai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Melibatkan proses belajar dan berkembang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Berupa peningkatan ketrampilan, perluasan pengetahuan serta perilaku yang positif, terutama bagi para Gen Z seperti putri saya. Tujuan akhir dari kesuksesan adalah mencapai kebahagiaan dan kepuasan batin.


                                          Pic.doc.MBUI

     Bagi Gen mom seperti saya, kesuksesan  juga melibatkan perasaan damai dan nyaman dalam menjalani hidup. Termasuk menerima diri sendiri apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.  


Sukses dari Proses 

    Sesungguhnya bentuk kesuksesan itu berarti pencapaian kemajuan dan pertumbuhan dalam berbagai aspek kehidupan. Baik itu pencapaian profesional secara finansial, hubungan pribadi seperti networking dan relationship, maupun pengembangan diri dalam meraih prestasi.

    Dalam kamus besar Bahasa Indonesia-KBBI kesuksesan merupakan keberhasilan atau keberuntungan. Sukses bukanlah sesuatu tujuan akhir dengan kualitas seadanya dan menghalalkan segala cara dalam mencapainya, tetapi butuh proses dan tahapan dalam meraihnya, seperti sukses Madah Bahana Universitas Indonesia.


    Ya. Penting diingat bahwa kesuksesan itu bukanlah sesuatu yang  dicapai secara instan, tapi merupakan sebuah proses panjang yang bekelanjutan. Yang melibatkan refleksi diri, evaluasi, menetapkan tujuan yang bemakna, terus berdoa dan berusaha untuk versi yang terbaik buat diri sendiri. So, sukses akan selalu memberikan kebahagiaan dari dalam hati.

    Salam sehat dan selalu semangat.***NZ


Rabu, 06 Agustus 2025

Saat Memberi dan Menerima Rezeki

     Bersyukur dengan rezeki yang ada maka akan ditambah lagi dan lagi. Ketika menerima rezeki, sisihkan untuk memberi dan berbagi agar menjadi lebih berkah lagi.

By Nur Ida Zed


                                                            desain by Dvine Adinda

   

    Istilah rezeki tidak akan tertukar sudah tertanam di dalam diri saya. Bahwa apa yang kita dapatkan sekarang ini merupakan "jatah" yang telah ditentukan untuk kita miliki. Karena itu pula saya tidak lagi merasa khawatir mengenai rezeki yang sudah ditakar ini.

    Di saat masa produktif yang sibuk dengan pekerjaan menumpuk dan berbagai acara serta kegiatan yang sangat menyita waktu, di situ Allah sedang memberi rezeki dengan mendapatkan penghasilan berupa materi. Di sisi lain, Allah kemudian memberi rejeki lain berupa kreativitas agar lebih bermanfaat lagi. Dia yang memiliki time line atau waktu yang tepat kapan kita mendapatkan rezeki.


    Dari awal mulai bisa dapat kerja ketika masih kuliah di Yogya dulu, lalu merantau ke Jakarta karena mendapat tawaran dari Majalah Indonesia Indah, majalah budaya dan wisata TMII, kemudian punya acara Kuis Citra Rasa di TPI adalah bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Selanjutnya karena krisis moneter saat itu sehingga harus kembali ke dunia tulis menulis dengan mengasah diri di berbagai majalah gaya hidup hingga saat ini saya jalani dengan senang hati.

    Dari sini saya banyak bertemu dengan banyak orang penting dan berpengaruh baik sebagai nara sumber atau klien yang memberikan pelajaran bahwa rezeki tidak hanya berupa materi. Sebab ketika kita berserah, berusaha dan melakukan yang terbaik sesuai passion, dengan sendirinya materi akan mengikuti.


Menerima dan Memberi

    Ketika menerima rezeki maka sisihkan sebagian juga untuk memberi kepada yang lain, termasuk kepada mereka yang membutuhkan. Filosofi rezeki ibarat air yang mengalir, ketika menerima sesuai porsi, lalu menyisihkan untuk berbagi, maka berkahnya akan terus mengalir dan diganti dengan yang baru, begitu seterusnya. Sehingga apa yang didapat akan semakin mudah dan lancar. 

    Memahami konsep rezeki saat menerima dan memberi membawa saya pada ketenangan hati. Bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki untuk setiap makhlukNya. Manakala rezeki berupa materi datang lebih banyak, seperti ada tambahan bonus dan penghasilan yang lebih besar, rupanya ada juga kebutuhan mendesak dan tak terduga yang harus diselesaikan. Ketika mengecek saldo tabungan yang bertambah, kata teman saya:"Alhamdulillah, UKT anak sudah tertutupi, jadi jatah keperluan bulanan tidak berkurang," Ya. Tidak ada hitung-hitungan pasti soal rezeki ini, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran karena semua pasti sudah dicukupkan.

    Ketika sedang diuji dengan sedikit kesulitan dalam mendapatkan rezeki, maka tak perlu disikapi dengan mengeluh dan putus asa. Tetap berusaha dan berdoa dengan menikmati semua prosesnya. Karena pasti ada hikmah dibalik itu semua, untuk tetap bersabar dalam ketakwaan. Perbanyak sedekah dan memberi untuk jalan menuju kebaikan.


Tingkatan Rezeki

    Segala keberkahan yang didapatkan adalah bentuk rezeki yang bisa dinikmati. Ada beberapa ulama yang membagi rezeki ini dalam beberapa tingkatan, yang agaknya patut juga dimengerti supaya kita menjadi paham.

    Pertama rezeki yang paling rendah berupa harta benda yang bisa didapatkan dengan cara yang halal maupun haram. Sementara rezeki yang paling tinggi adalah harta benda yang didapatkan dengan cara yang halal dan dipergunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan. Dua hal yang seringkali ditemui ketika kita mencari rezeki di tengah gemerlapnya dunia ini.  

    Kemudian rezeki yang paling utama adalah ilmu pengetahuan dan amal saleh, sedangkan rezeki yang paling sempurna adalah ketenangan hati, kebahagiaan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Maka ketika kita diberi kesempatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seperti sekolah, kuliah dan memperoleh ilmu baru berkaitan dengan kemajuan tehnologi dan perkembangan jaman di era digital ini, merupakan rezeki yang paling utama untuk dapat diamalkan bagi kemaslahatan. 

    Sebagai blogger, ilmu yang didapat akan terus mengalir lewat tulisan-tulisan yang memberikan inspirasi dalam blog. Begitu juga sebagai podcaster dan kreator yang selalu membagi insight yang bermanfaat agar memberikan kebaikan untuk menabung amal di akhirat. Hal-hal kecil dan sederhana yang kadang tak  terpikirkan bisa membawa kebahagiaan lahir dan batin. 


Jangan Berhenti Bersyukur

    Meyakini Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita menjadi pegangan yang harus saya yakini. Anak sudah besar dan saya ingin bisa mendampinginya hingga mereka tua nanti, merupakan semangat agar tetap sehat dan terus bisa berkarya lagi.

    Mungkin prioritas rezeki saya sekarang ini bukan sekadar harta benda dan materi, tapi lebih dari itu, kesehatan lahir batin, kebersamaan waktu bersama keluarga, anak-anak yang beranjak dewasa dan berbagi kebaikan untuk sesama.

    Pengalaman hidup dan perjalanan yang sudah saya lalui menjadi bagian dari rezeki yang harus saya syukuri. Beberapa teman bahkan ada yang mengeluh dengan berbagai alasan kenapa begini dan begitu, menyesal dengan segala yang dihadapi saat ini. Kalau saya sudah tidak lagi. Biarkan semua mengalir karena takdir Tuhan tak pernah keliru. 

    Bersyukur dan menikmati apa yang ada adalah hal utama saya sekarang ini. Bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat dan dapat saling berbagi. Tidak lupa untuk terus berdoa, beribadah semampunya, meminta dan berusaha, maka semua akan berjalan dengan baik baik saja. Masalah rezeki, seberapapun sebaiknya dimaknai sebagai anugerah agar nantinya akan ditambah dan ditambah lebih banyak lagi. Seperti janji Allah SWT yang artinya: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmatKu kepadamu.." (QS. Ibrahim ayat 7)


    Salam sehat dan selalu semangat. ***NZ