Menemukan buku ini lagi tanpa sengaja. Dulu cuma baca reviewnya. Setelah itu merasa patut dipahami lebih dalam, tentang pola pikir dan apa yang diajarkan oleh orang kaya kepada anak mereka tentang uang, yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah.
By Nur Ida Zed
Buku best seller karya Rober T. Kiyosaki ini rasanya tak pernah lekang dimakan zaman. Sejak tahun diterbitkan pertama dulu hingga saat ini sepertinya tetap relevan untuk dibaca dan dimengerti. Buat para orang tua, baik ayah maupun ibu seperti saya rasanya layak agar bisa membuka wawasan tentang cara pandang kepada seorang anak, termasuk Gen Z mengenai uang dan finasial buat dirinya. Karena mengungkap bagaimana seorang anak memahami arah didikan dari panutan mengenai cara pandang tentang uang untuk masa depannya dari sosok ayah (baca: Dad)
Dari judulnya saya sudah tertarik, karena mengemukakan tentang ayah, seorang laki-laki kepala keluarga yang menjadi nahkoda dari sebuah keluarga, termasuk dalam mendidik dan mengajarkan suri tauladan buat anak-anaknya. Rich Dad Poor Dad, ayah kaya ayah miskin memberikan dua paradigma yang berbeda dan bertentangan satu dengan lainnya. Dua sisi yang bertolak belakang mengenai cara pandang tentang kehidupan dalam memaknai uang serta finansial yang didapat dari seorang anak sejak masa kecilnya. Ceritanya ketika itu anak mulai usia sembilan tahun, saat duduk di sekolah dasar sebagai pencarian dalam pembentukan jati dirinya.
Poor Dad-Ayah Miskin
Adalah ayahnya sendiri yang selalu dekat dan menjadi panutan setiap hari adalah "ayah miskin" yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan untuk mencapai kesuksesan dengan cara mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Ayah miskin yang pandai dan brillian, yang menomor satukan sekolah dengan angka-angka akademis yang tinggi agar kelak bisa mendapatkan gelar, kemudian diterima bekerja di tempat yang layak karena prestasi dan kepandaian.
Ayah ini seorang yang jenius. Di saat sekolah selalu mendapatkan juara, hingga lulus S1 dengan beasiswa, begitupun ketika lanjut S2 dan S3. Predikat summa cumlaude, dan diterima sebagai pengajar teladan di kampus ternama karena dedikasinya.
"Kamu harus mengutamakan pendidikan. Sekolah yang benar dan setinggi-tingginya di tempat yang bagus agar jadi manusia yang beruntung dan punya banyak uang, " begitu selalu yang diajarkan. Hingga dia harus berhemat, dan belajar terus untuk mengejar semua cita-citanya. Ayah ini mengajarkan dedikasi, tanggung jawab dan segala prestasi agar punya masa depan cerah, dapat tempat kerja yang nyaman, serta bisa menjadi kebanggan keluarga. Sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Ayah Kaya, Rich Dad.
Rich Dad Ayah Kaya
Sementara ayah kaya adalah ayah teman sekolahnya, sahabat yang sudah dianggap sebagai ayah angkat karena begitu dekat. Ayah ini mengajarkan bahwa uang adalah alat yang bisa bekerja untuk kita. Ayah yang tidak pernah menyelesaikan kelas delapan, tapi berani melakukan hal yang berkenaan dengan finansial sehingga bisa mendapatkan banyak keuntungan dari uang. Sekolah bukan hanya tempat belajar tapi sarana yang memberikan pengalaman menyenangkan untuk bersoasialisasi, negosiasi dan networking sehingga membuat dia banyak memberikan solusi khususnya mengenai uang dan finansial.
Pada ayah ini selalu ada pertanyaan bagaimana caranya bisa mendapatkan semua keinginan agar otak dan pikiran selalu berkembang.
Implementasi dan Pola Pikir
Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama benar, mengajarkan tentang bagaimana menghargai ilmu dan implementasinya buat masa depan. Dalam menghargai uang, ayah miskin menjadikan sebagai tujuan, sementara ayah kaya memperlakukan sebagai alat untuk berkembang. Ayah kaya membeli mobil Roll Royce, karena baginya akan membuat senang sehingga orang melihatnya mampu membeli barang mewah dengan uangnya. Sedangkan ayah miskin tak perlu validasi lewat materi, tapi ditunjukkan dengan dedikasi. Sehingga tidak harus bermewah-mewah, karena dengan apa adanya takkan jadi banyak masalah.
Bersama ayah miskin dia hanya dibebani dengan belajar, sementara ayah kaya dibiarkan untuk selalu berkembang. Seperti ketika menginginkan sesuatu yang mahal, ayah miskin selalu berpesan: tak usah meraih hal yang kamu tak bisa menggapainya, nanti terlalu lelah. Nikmati semua yang ada di hadapanmu dengan rasa senang. Sementara ayah kaya, jika menginginkan sesuatu, maka usahakan sekuat dirimu. Raihlah. Pikirkan dan lakukan terus untuk mencapai tujuanmu sampai ada dalam genggaman sebagai sebuah pencapaian. Tak ada yang tak mungkin jika kita yakin.
Ya. Buku ini memberikan paparan mengenai apa yang diajarkan orang kaya kepada anak mereka agar lebih kreatif dalam mengahasilkan uang dengan berbagai resiko dan tantangan. Setidaknya dengan menghancurkan mitos bahwa kita perlu memiliki penghasilan tinggi agar bisa kaya. Mengalahkan rasa takut dengan mengambil resiko cerdas, sebab banyak orang tidak pernah kaya karena takut gagal. Padahal kegagalan adalah bagian dari proses belajar keuangan.
Intinya dalam buku ini tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi kaya, tapi berpikir seperti orang kaya yakni berani belajar, berinvestasi dan membangun aset jangka panjang. Aset dan liabilitas adalah kunci. Karena orang kaya fokus membeli aset untuk menghasilkan uang, bukan liabilitas yang tampak keren tapi menguras cash flow.
Lebih jauh, anak dalam cerita ini mendapatkan dua pandangan tentang uang dan bagaimana cara mengelola finasial dalam hidupnya untuk bekal di masa depannya. Mau jadi apa kelak, tergantung bagaimana memilih yang terbaik untuk dirinya dalam menghargai uang serta cara pandang soal materi.
Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama mengajarkan bagaimana memperlakukan uang untuk tujuan hidup kita. Dan ini hendaknya diberikan pada anak sejak awal mengenal nilai uang dalam dirinya. Menurut saya, ketika keduanya dipadukan sesuai situasi dan kondisi, maka hidup akan terasa lebih sempurna. Berpendidikan dan kaya raya, siapa yang gak mau ya, haha. Namun apapun cara pandang tentang uang dan kekayaan, tergantung dilihat dari kacamata yang mana. Kalau saya menuntut ilmu itu sangat perlu, dan banyak uang untuk menjadi kaya memang sudah seharusnya. Ilmu dan kaya harus berjalan beriringan. Bagaimana menurut kamu?
Salam sehat dan selalu semangat.***NZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar