Sabtu, 07 Februari 2026

Plus Minus Circle Pertemanan

       Selain keluarga, teman juga bisa menjadi support system yang bisa mempengaruhi kehidupan kita. Teman yang baik bisa menjadi inspirasi, serta motivasi ke arah positif, begitu juga sebaliknya. Lalu apa plus minus dalam circle pertemanan? 

By Nur Ida Zed

Photo by pinterest

     Ada kalimat bijak yang sering dikemukakan soal pertemanan ini,  yakni: Mencari teman memang mudah apabila itu teman suka. Sebaliknya begitu sulit ketika sedang berduka. Ya, saat berjaya banyak teman yang berada di dekat kita. Menyanjung, memuja bahkan mendukung seolah selalu ada. Namun saat jatuh dan terkena musibah, misalnya, teman mana yang masih mau peduli dan mengerti, apalagi memeluk dengan ketulusan hati? 

     Pada kenyataanya, teman memiliki banyak sekali tujuan di dalam kehidupan ini. Dan circle pertemanan (baca: kelompok sosial) yang merupakan kelompok individu yang memiliki kesamaan dalam pola pikir dan tujuan akan memberikan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. 

     Percaya atau tidak saat kita berada dalam circle pertemanan, maka akan berdampak juga pada diri kita. Dulu ketika masih single, saat  aktif bekerja dan fokus pada karier semata, circle pertemanan saya dari berbagai kalangan, terutama yang menunjang dalam soal pekerjaan. Kesamaan hobi yang butuh tantangan, serta hal yang lebih pada meraih pencapaian, antara ambisi dan passion. Kemudian saat menjadi ibu, bertambah lagi dengan mereka yang memiliki pola pikir yang sama, soal anak dan perkembangannya, begitupun ketika mereka mulai remaja dan disebut para Gen Z. 


    Circle pertemanan ditandai dengan intensif kita berkomunikasi dan berhubungan entah itu lewat pertemuan langsung atau lewat aplikasi dan media sosial yang kini kian marak seperti ig-instagram, tiktok bahkan whatsapp group. Setidaknya keep contact meski hanya dengan tanda: love atau like. Beberapa circle pertemanan saya yang tetap keep contact antara lain karena sama-sama eks-mantan pengurus/komite di sekolah anak.  Di SMPN 41 Jakarta dan SMAN 34 Jakarta. Karena ingin tetap terjalin silaturahmi, maka sepakat membuat arisan tiap bulan, bahkan salah satunya saya jadi bendahara. 

     Tak hanya sebagai wadah arisan semata, kumpulan para ibu ini juga suka membahas soal tema yang lagi hangat dibicarakan saat ini, terutama mengenai hal yang menyangkut anak-anak kita yang beranjak remaja. Juga menjadi ajang diskusi berbagai hal yang menyangkut perempuan, para ibu berdaya dan saling support untuk bisnisnya. Bahkan dari situ bisa memantik ide untuk berkarya, seperti tema dalam podcast saya; Podcast Morning Daughter, yang memang punya tag line: Bincang Ringan Dua Generasi, GenMom dan Gen Z. Meski tak selalu bertemu setiap bulan saat puteran, dan seringkali hanya  via online saja, tapi kedekatan itu tetap terasa. 

    "Besok kita cobain resto di Kebayoran, ya," kata salah satu teman ketika merasa kangen untuk berjumpa. Biasanya disepakati waktunya agar semua bisa datang. Tapi kalau tidak juga buat yang bisa saja, dan harus maklum bila ada yang ijin karena ada keperluan. Circle pertemanan yang tidak mengikat, dibuat santai untuk sarana healing bareng dan silaturahmi saja, sehingga awet hingga tujuh tahun ini, dari anak- anak kita SMP sampai mahasiswa sekarang ini. Tak ada yang merasa "paling" sendiri, semua atas dasar silaturahmi dan saling memahami.



Jangan pilih-pilih teman, benarkah?

     Kalau ada yang bilang jangan pilih-pilih teman, mungkin nasehat ini bisa benar ketika dalam suasana tertentu, seperti di situasi yang baru dengan kondisi tertentu. Misalnya ketika dalam kelompok besar, lalu diharuskan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, maka membaur dengan semua teman itu menjadi keharusan (baca: keniscayaan) Agar kita bisa mengenali situasi sekitar dan tidak menjadi insecure. Selain itu kita juga tak pernah tahu teman yang mana yang dapat mensupport dan membantu.

     Namun dalam konsep pertemanan, memilih teman yang  satu frekwensi, sevisi misi rasanya lebih bijak dilakukan. Karena circle dalam pertemanan ini akan dapat mempengaruhi karakter dan jati diri kita juga. Berteman dengan orang-orang baik, maka bisa membuat kita menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya. 

     Saya sering menasehati anak- anak untuk tetap "memilih" teman dalam kebaikan. Karena di masa usia mereka kadang bisa saja salah memilih teman dan terpengaruh teman akan berakibat kurang baik buat perkembangan dirinya. Misalnya dalam pergaulan dan berkegiatan. Biasanya mereka akan mengenalkan saya dengan circle pertemanannya, setidaknya saya tahu anak-anak berteman dengan siapa. Teman di kampus yang satu fakultas, teman di kegiatan Marching Band, BEM-Badan Eksekutif Mahasiswa di departemen Olahraga, bahkan circle pertemanan saat masih SMA. Kadang saya tanya, bagaimana kabar mereka, yang sekarang jarang ketemu karena kesibukan meski ada yang satu kampus. Tak apa, suatu saat jika dewasa, pertemanan seperti ini akan bermanfaat juga, asal selalu menjaga silaturahmi yang baik.


Mendukung dan Menghargai

     Teman yang baik akan selalu mendukung dan mensupport kita dengan tulus dalam kebaikan. Mendukung impian dan usaha kita, serta menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing. Tak pernah menyerang dan membuat distraksi yang menjadikan kita hoppless apalagi down

     Memahami saat kita mulai bertumbuh, apalagi bisa bersama dalam bertumbuh dengan memberi masukan yang positif meski dalam diam, baik di depan kita atau pun saat di belakang kita. Tak ada kata bermuka dua, baiknya di depan kita, di belakang justru menjekkan bahkan menusuk demi keuntungan dirinya.


Jujur dan Terbuka

     Kejujuran dan keterbukaan menjadi pondasi circle pertemanan yang sehat. Teman yang positif akan memberikan kritik yang positif dan membangun serta berbagi pengalaman dengan tulus. Memberi pengaruh yang baik dan menularkan vibe positif sehingga membentuk energi positif untuk kebaikan dan kemaslahatan.

     Mengingatkan saat teman terpengaruh oleh hal buruk dan mendukung ketika ia berusaha bangkit. Berusaha menjadi teman yang baik di saat suka maupun duka, dengan rasa empati dan kejujuran yang ada. Bisa menjadi pendengar yang baik di kala teman butuh cerita, dan saling mendoakan dengan hati terbuka.


Tinggalkan circle pertemanan yang toxic

     Ketika menemukan circle petemanan yang toxic, sebaiknya tinggalkan dan jauhi agar tidak terpengaruh lebih jauh ke dalamnya. Ya, seringkali kita tidak merasa bahwa teman itu toxic alias memberi pengaruh buruk. Seperti hal yang tidak kita suka, sehingga tidak lagi membuat nyaman saat berada di lingkarannya. Teman yang cenderung egois, selalu bossy dan suka flexing tentu membuat suasana silaturahmi jadi tak enak lagi. Circle semacam ini tidak membuat kita bertumbuh, namun memberikan pressure yang "membunuh". 

     Semakin lama rasanya semakin sempit circle pertemanan kita ya, dan ini hal yang wajar karena kehidupan terus berkembang sesuai kebutuhan masing-masing. Teman yang saling terhubung di dunia modern tidak harus bisa bertemu setiap saat. Yang terpenting adalah saling mendoakan dan mensupport dalam kebaikan. Namun harus tetap waspada ya dengan kalimat: teman makan teman, karena ternyata hal ini banyak juga kejadiannya. 


    Teman dan circle perteman itu termasuk portfolio kita. Dia bisa menjadi rekomendasi yang baik saat membutuhkannya. Dalam pekerjaan, misalnya, ketika klien memerlukan tim untuk mengerjakan project, setidaknya kita bisa menghubungi temen yang sudah dikenal baik kredibilitas dan profesionalitasnya. Satu lagi, teman bisa memberi warna dalam hidup kita. Nah, bagaimana circle pertemanan  kalian?


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar