Aneka kue berbahan ketan mengingatkan kenangan kecil ketika di kampung halaman. Enak dan gurih yang selalu bikin nagih.
By Nur Ida Zed
Foto dari berbagai sumberMarhaban ya Ramadan. Alhamdulillah kita kembali bertemu lagi dengan bulan suci Ramadan. Bulan istimewa penuh ampunan, penuh rahmah dan berkah yang selalu ditunggu oleh semua umat muslim termasuk saya, untuk menjalankan ibadah wajib yakni puasa Ramadan sebulan penuh serta memperbanyak ibadah sunnahnya. Setiap momen di bulan ini sungguh selalu berarti, dari niat awal untuk berpuasa Ramadan, keseruan berbuka, tarawih di masjid atau mushola, sahur, subuhan, menunggu momen lailatul qodar hingga jelang lebaran Iedul Fitri. Tak pelak saya selalu merindukan suasana itu, karena banyak hal yang memberi hikmah dan kenangan, dari ketika kecil dulu hingga sekarang.
Salah satu momen seru adalah war takjil, alias berburu takjil yang menjadi semacam tradisi hampir di seluruh tempat dengan menyediakan sajian untuk berbuka. Berbagai jenis makanan banyak dijual oleh para pedagang dadakan, bahkan yang tadinya "tersimpan" dan hampir hilang, tetiba muncul sehingga semua orang bisa mengenal dan menikmatinya. Seperti aneka jajanan jadul yang tadinya jarang ditemui dan kemudian ada, atau dalam versi lain yang dimodifikasi serta dijual di antara jajanan lain selain menu makanan untuk berbuka. Aneka kue buat "warming up" sebelum menikmati sajian utama ini salah satunya jajanan serba ketan. Saya masih ingat betul, jajanan kampung ( baca: tradisional) berbahan dasar beras ketan yang tetap enak seperti lupis, lemper, lepet, wajik, ketan tetel, tape ketan, sangkolun, kue ku, dan yang lainnya.
Ketan yang teksturnya lengket kenyal barangkali bisa dimaknai dengan melekatkan persaudaraan antar warga dan keluarga di bulan Ramadan ini. Karena sebenarnya tak hanya umat muslim saja yang bersuka, nonis alias non islam juga bergembira karena bisa ikut berjualan jajanan dan war takjil ini. Nah, kan di sini pun ada momen toleransinya.
Wingko dan Madumongso
Olahan berbahan dasar ketan memang banyak ditemukan buat jajanan (baca: kue-kue) dan sangat enak rasanya. Salah satu favorit yang biasa saya beli adalah wingko. Berbahan tepung ketan, parutan kelapa muda dan gula yang diolah, diadon lalu dipanggang agar terasa sensasi harum gosongnya. Kadang ditambah dengan irisan nangka agar lebih lezat rasanya, atau tambahan yang lainnya.
Wingko ini sebenarnya makanan khas dari Semarang-Jawa Tengah, yang terkenal dengan nama: Wingko Babat. Tapi banyak yang membuat dengan versi masing-masing daerah, termasuk di tempat saya. Semua keluarga pada tahu saya suka jajanan ini. Sampai-sampai di setiap acara ketemuan mereka selalu membawakan untuk saya. Senangnya kedatangan saya ditunggu untuk bisa mencicipi jajanan ini karena sering dibuat sendiri. Wingko yang agak tebal dengan paduan ketan dan kelapa berimbang membuat saya seolah ketagihan. Hmm..saya suka yang rasa original.
Cerita madumongso lain lagi. Ini juga berbahan dasar ketan, yakni tape ketan hitam, kelapa parut dan gula aren serta santan yang diolah dengan diaduk dan dipanaskan sampai berjam-jam hingga kering mengental dan bisa dicetak lalu dibungkus dengan kertas minyak warna-warni bahkan kadang diberi hiasan.
Madumongso ini mungkin semacam wajid kalau di daerah Jawa Barat( baca: Sunda) tapi lebih kalis sehingga teksturnya lembut gurih dan manis legit rasanya. Ini seperti jajanan wajib waktu kecil dulu untuk disimpan di toples dan dipajang bersama kue lebaran lain di meja tamu.
Di beberapa tempat madumongso juga menjadi hantaran menjelang lebaran, karena konon sebagai simbol manisnya hubungan kekeluargaan dan keakraban. Saya masih ingat, beberapa kerabat kadang mengirim hantaran madumongso yang sudah matang, diletakkan di mangkuk cantik dialasi daun pisang yang siap dibungkus sesuai selera kita. Mangkuk ini kemudian dikembalikan dan diisi makanan pula, ditambah angpau THR lebaran buat yang disuruh mengantarnya. Biasanya anak- anak yang menyampaikan salam sebelum mereka berangkat takbiran ke masjid dan mushola. Hal ini seperti sudah menjadi budaya saling sapa antar keluarga dan tetangga menjelang lebaran sembari menunggu acara gema takbir yang berkumandang. Serunya momen ini sungguh tak terlupakan, karena di Jakarta agaknya tak bisa saya temukan.
Serabi Ketan Kesukaan Bapak
Jajanan serba ketan memberikan banyak kenangan. Termasuk juga serabi ketan yang selalu saya cicipi saat mudik ke Blora, Jawa Tengah ketika lebaran. Setiap pagi usai sholat subuh ada penjual serabi yang berjualan di beberapa tempat, seperti di dekat Alun-alun, Arumdalu dan Tirtonadi. Selain serabi di lapaknya juga menjual ketan.
"Serabi ketan pakai apa ini?" Tanya penjualnya, langganan sejak kami kecil dulu dan entah sudah generasi keberapa sekarang ini. Karena di sini ada beberapa pilihan yang bisa dijadikan toping atau campurannya. Yang original hanya dengan parutan kelapa muda, sementara ada yang ditambah sambel pecel khas Blora, enten-enten ( kelapa parut yang dicanpur sinca, cairan gula jawa), serundeng serta abon.
Setiap kali pulang selalu menyempatkan membeli serabi ketan ini untuk sarapan. Karena selain enak, jajanan ini mengingatkan pada Bapak yang juga menyukainya. Saat kecil dulu bahkan beliau sering membelikan beberapa bungkus untuk kami sepulang sholat subuh berjamaah di masjid. Lalu diletakkan di meja makan menemani teh dan kopi yang sudah ibu sediakan. Beliau meniknatinya sembari minum kopi pagi serta ngobrol hangat bareng kita tentang apa saja. Dan kini, saat kembali menikmati serabi ketan rasanya seperti makan bersama Bapak, kehangatan dan kasih sayangnya tetap terasa dan tak akan pernah lupa selamanya. Al- fatihah.
Ya. Berbagai jajanan jadul mungkin mempunyai cerita dan kenangan masing- masing bagi setiap orang, seperti saya. Tapi apapun itu, berharap berkahNya harus selalu ada. Sebab setiap cecap makanan kadang bisa menuang kisah begitu panjang buat penikmatnya kini, esok dan tahun-tahun mendatang.
Salam sehat dan selalu semangat.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar