Sabtu, 14 Februari 2026

Musik dan Film untuk Recharge Energi

       Memberi ruang untuk diri sendiri kadang bisa membuat mental lebih sehat, begitu kata orang bijak. Manakala sedang sendiri, pikiran terkoneksi lewat kejujuran yang ada di dalam hati. Lalu apa yang biasa dilakukan untuk recharge energi seperti ini?

by Nur Ida Zed

Foto dokpri @nuridazed


     Ada kalanya di saat sendiri kita ingin santai menikmati me time sembari memanjakan pikiran setelah sibuk dengan berbagai kegiatan. Tak ada agenda yang membuat pressure tentang deadline dan tugas yang menumpuk untuk segera diselesaikan. Di saat itulah biasanya kita meluangkan waktu untuk melakukan hal yang membuat senang dan bahagia. 

    Berbagai keseruan yang memberikan point untuk tujuan healing sekaligus afirmasi diri agar membuat kita dapat terkoneksi antara pikiran dan hati. Teman saya pernah cerita, dia suka bersih-bersih rumah saat berada di situasi ini. "Kalau lagi sendiri saya senengnya bebenah, "katanya, dengan begitu merasa puas setelah melihat ruangan yang berantakan menjadi bersih lagi. Kadang merubah interior rumah agar merasa berbeda dan baru lagi. Katanya, kadang ia justru pernah menemukan benda atau barang kesayangan yang dulu telah hilang dan dilupakan sehingga bisa kembali memberikan kesenangan. 

     Saat sendiri, ada yang suka jalan tak tentu arah dan tujuan. Pokoknya mencari tempat yang enjoy buat ngelamun sendirian. Entah itu di tengah keramaian, di perpustakaan atau hanya puter-puter saja cari angin sambil menikmati suasana jalan, karena dari situ kadang bisa menemukan ide untuk membuat sesuatu yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan. Saya merasa perlu recharge energi, katanya, karena dengan jalan-jalan seperti itu terkadang dapat menemukan hal-hal yang tak sempat disadari, contohnya sebentuk rasa penuh syukur dengan segala berkah tanpa mengeluh akan keberadaannya sekarang. Suasana di jalan banyak menginspirasi dan memberikan pelajaran tentang kehidupan, begitu alasannya. 

     Dan setiap orang tentu memiliki cara masing-masing ketika sedang sendiri. Kalau saya kadang suka membaca dan menulis tentang apa saja yang ingin saya tuang, misalnya di blog, di podcast serta di catatan kecil semacam diary di notes hape. Meski tidak secara rutin, kebiasaan ini setidaknya bisa membuat kesenangan tersendiri. Kadang saya baca-baca lagi, saya lanjutkan dengan buah pikiran dan hati, atau mengingat lagi apa-apa yang perlu di garis bawahi.


Menikmati Musik Di Spotify

     Tak bisa dipungkiri saat sendiri saya senang menikmati musik dan mendengarkan lagu-lagu kesayangan seperti di youtube dan spotify. Bila sedang libur begitu, bisa sambil selonjoran di kamar, atau melakukan aktivitas ringan, termasuk saat santai dan tidak ngapa-ngapain. Musik dan lagu menjadi teman yang dapat menambah mood, menghilangkan penat serta healing berjam-jam. Mendengarkan musik dan lagu sudah menjadi bagian dari hidup ini untuk memberi stimulasi dan menambah energi.

     Kadang di depan televisi, atau lewat tab serta hape berselancar mengumpulkan lagu-lagu sesuai suasana hati. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, sejak masih remaja, juga ketika mahasiwa hingga saat ini. Lagu-lagu klasik yang tetap ngehit semacam bethouven, mozart dan santorini suka saya dengarkan ketika hati sedang sedikit gundah karena bisa menenangkan. Juga lagu-lagu ballade, pop, jazz, bahkan melankolis hingga slow rock bisa saya dengarkan berkali-kali. Entah. Saya selalu menyenangi berbagai genre musik dengan banyak lagu dan kadang bisa jadi baper alias terbawa perasaan bila liriknya menyentuh hati. 

     Ketika ingin terbawa pada suasana religi, dimana banyak syair yang memberi motivasi bernuansa Islami dengan menyebut nama Allah, seperti Bismillah for Today, Insya Allah Good Things Come yang dilantunkan Makin Azfah serta lagu-lagu dari Maher Zain membuat saya begitu dalam memaknainya sehingga "kena" di hati, sehingga tak bosan-bosan saya mendengar dan memutarnya lagi dan lagi. Sungguh, saya merasa ada dalam sajian musik dan syair di lagunya. 

     Selain itu, lagu yang memiliki ketenaran dan populer pada masanya bisa membawa pada banyak kenangan yang membuat kita menjadi semangat lagi.  Musik dan lagu seolah menyatu dan mengalir lewat dentum hati setiap kali mendengarnya. Dan ini menjadi teman juga dikala saya sedang butuh pemantik untuk memotivasi diri. 

     Buat saya mendengarkan musik menjadi salah satu hal yang dapat memberi energi saat menghadapi kondisi dan situasi apapun. Dengerin musik dan lagu dapat memberikan stimulasi positif buat menjaga mood dan inspirasi bagi jiwa yang sedang ingin disentuh dengan alunan nada agar menambah keimanan di hati. Sambil dengerin musik dan lagu kesukaan saya juga bisa menulis atau membaca buku kesukaan. 


Nonton Serial dan Film di Channel TV

     Selain itu, nonton serial dan film di channel TV juga menjadi bagian yang saya sukai saat sedang sendiri. Karena layanan Indihome yang memberikan banyak alternatif tontonan yang menarik ini hingga membuat saya betah berlama-lama di depan televisi. Banyak yang bisa saya lahap seperti drama Korea, Jepang, China ataupun filmnya yang bisa menambah wawasan dan menghibur saya.  

    Kalau dulu mungkin saya pernah heran kenapa ada orang yang gemar nonton drakor atau cerita serial lain betah mengikuti hingga berpuluh episode, ternyata ketika saya menemukan cerita yang pas, asyik juga menikmatinya. alur cerita yang dibalut dalam intrik dan strategi yang menarik membuat saya enggan melepaskan begitu saja haha. 

     Tak hanya cerita dan penokohan yang bagus, di serial Korea, Jepang dan China ini juga banyak mengajarkan makna kehidupan, latar belakang keluarga, kekompakan dan nilai kebaikan lain yang dapat diambil serta kental dengan budayanya. Semua ini bisa menyiratkan pelajaran hidup yang membuat kita menjadi lebih bijak ketika menghadapi dunia nyata. Agaknya film dan serial mereka dibuat melalui riset mendalam, sehingga setiap adegan dan ceritanya begitu mengalir dan menarik buat penontonnya, meski itu bergenre komedi juga. 

     Ya. Saat sendiri, saya kerap menghabiskan waktu untuk recharge energi dengan kegiatan ringan dan menyenangkan. Sendirian bukan berarti kita ingin jauh dari keramaian bahkan antisosial, tapi ketika sedang sendiri kita menjadi lebih bisa memahami diri sendiri, untuk kemudian introspeksi lalu banyak bersyukur atas semua berkah yang telah diberikan olehNya hingga saat ini. Bahkan penelitian juga menyebut bahwa orang yang nyaman dengan kesendirian cenderung lebih mengenal dirinya, lebih stabil secara emosional dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

     Sesekali asyik dengan diri sendiri untuk recharge energi seperti ini memang perlu agar mental menjadi lebih sehat lagi. Selalu berusaha hidup seimbang supaya tetap merasakan  kebahagiaan untuk diri sendiri. 

     Salam sehat dan selalu semangat.*** NZ


Sabtu, 07 Februari 2026

Plus Minus Circle Pertemanan

       Selain keluarga, teman juga bisa menjadi support system yang bisa mempengaruhi kehidupan kita. Teman yang baik bisa menjadi inspirasi, serta motivasi ke arah positif, begitu juga sebaliknya. Lalu apa plus minus dalam circle pertemanan? 

By Nur Ida Zed

Photo by pinterest

     Ada kalimat bijak yang sering dikemukakan soal pertemanan ini,  yakni: Mencari teman memang mudah apabila itu teman suka. Sebaliknya begitu sulit ketika sedang berduka. Ya, saat berjaya banyak teman yang berada di dekat kita. Menyanjung, memuja bahkan mendukung seolah selalu ada. Namun saat jatuh dan terkena musibah, misalnya, teman mana yang masih mau peduli dan mengerti, apalagi memeluk dengan ketulusan hati? 

     Pada kenyataanya, teman memiliki banyak sekali tujuan di dalam kehidupan ini. Dan circle pertemanan (baca: kelompok sosial) yang merupakan kelompok individu yang memiliki kesamaan dalam pola pikir dan tujuan akan memberikan pengaruh terhadap kepribadian seseorang. 

     Percaya atau tidak saat kita berada dalam circle pertemanan, maka akan berdampak juga pada diri kita. Dulu ketika masih single, saat  aktif bekerja dan fokus pada karier semata, circle pertemanan saya dari berbagai kalangan, terutama yang menunjang dalam soal pekerjaan. Kesamaan hobi yang butuh tantangan, serta hal yang lebih pada meraih pencapaian, antara ambisi dan passion. Kemudian saat menjadi ibu, bertambah lagi dengan mereka yang memiliki pola pikir yang sama, soal anak dan perkembangannya, begitupun ketika mereka mulai remaja dan disebut para Gen Z. 


    Circle pertemanan ditandai dengan intensif kita berkomunikasi dan berhubungan entah itu lewat pertemuan langsung atau lewat aplikasi dan media sosial yang kini kian marak seperti ig-instagram, tiktok bahkan whatsapp group. Setidaknya keep contact meski hanya dengan tanda: love atau like. Beberapa circle pertemanan saya yang tetap keep contact antara lain karena sama-sama eks-mantan pengurus/komite di sekolah anak.  Di SMPN 41 Jakarta dan SMAN 34 Jakarta. Karena ingin tetap terjalin silaturahmi, maka sepakat membuat arisan tiap bulan, bahkan salah satunya saya jadi bendahara. 

     Tak hanya sebagai wadah arisan semata, kumpulan para ibu ini juga suka membahas soal tema yang lagi hangat dibicarakan saat ini, terutama mengenai hal yang menyangkut anak-anak kita yang beranjak remaja. Juga menjadi ajang diskusi berbagai hal yang menyangkut perempuan, para ibu berdaya dan saling support untuk bisnisnya. Bahkan dari situ bisa memantik ide untuk berkarya, seperti tema dalam podcast saya; Podcast Morning Daughter, yang memang punya tag line: Bincang Ringan Dua Generasi, GenMom dan Gen Z. Meski tak selalu bertemu setiap bulan saat puteran, dan seringkali hanya  via online saja, tapi kedekatan itu tetap terasa. 

    "Besok kita cobain resto di Kebayoran, ya," kata salah satu teman ketika merasa kangen untuk berjumpa. Biasanya disepakati waktunya agar semua bisa datang. Tapi kalau tidak juga buat yang bisa saja, dan harus maklum bila ada yang ijin karena ada keperluan. Circle pertemanan yang tidak mengikat, dibuat santai untuk sarana healing bareng dan silaturahmi saja, sehingga awet hingga tujuh tahun ini, dari anak- anak kita SMP sampai mahasiswa sekarang ini. Tak ada yang merasa "paling" sendiri, semua atas dasar silaturahmi dan saling memahami.



Jangan pilih-pilih teman, benarkah?

     Kalau ada yang bilang jangan pilih-pilih teman, mungkin nasehat ini bisa benar ketika dalam suasana tertentu, seperti di situasi yang baru dengan kondisi tertentu. Misalnya ketika dalam kelompok besar, lalu diharuskan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, maka membaur dengan semua teman itu menjadi keharusan (baca: keniscayaan) Agar kita bisa mengenali situasi sekitar dan tidak menjadi insecure. Selain itu kita juga tak pernah tahu teman yang mana yang dapat mensupport dan membantu.

     Namun dalam konsep pertemanan, memilih teman yang  satu frekwensi, sevisi misi rasanya lebih bijak dilakukan. Karena circle dalam pertemanan ini akan dapat mempengaruhi karakter dan jati diri kita juga. Berteman dengan orang-orang baik, maka bisa membuat kita menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya. 

     Saya sering menasehati anak- anak untuk tetap "memilih" teman dalam kebaikan. Karena di masa usia mereka kadang bisa saja salah memilih teman dan terpengaruh teman akan berakibat kurang baik buat perkembangan dirinya. Misalnya dalam pergaulan dan berkegiatan. Biasanya mereka akan mengenalkan saya dengan circle pertemanannya, setidaknya saya tahu anak-anak berteman dengan siapa. Teman di kampus yang satu fakultas, teman di kegiatan Marching Band, BEM-Badan Eksekutif Mahasiswa di departemen Olahraga, bahkan circle pertemanan saat masih SMA. Kadang saya tanya, bagaimana kabar mereka, yang sekarang jarang ketemu karena kesibukan meski ada yang satu kampus. Tak apa, suatu saat jika dewasa, pertemanan seperti ini akan bermanfaat juga, asal selalu menjaga silaturahmi yang baik.


Mendukung dan Menghargai

     Teman yang baik akan selalu mendukung dan mensupport kita dengan tulus dalam kebaikan. Mendukung impian dan usaha kita, serta menghargai perbedaan dan keunikan masing-masing. Tak pernah menyerang dan membuat distraksi yang menjadikan kita hoppless apalagi down

     Memahami saat kita mulai bertumbuh, apalagi bisa bersama dalam bertumbuh dengan memberi masukan yang positif meski dalam diam, baik di depan kita atau pun saat di belakang kita. Tak ada kata bermuka dua, baiknya di depan kita, di belakang justru menjekkan bahkan menusuk demi keuntungan dirinya.


Jujur dan Terbuka

     Kejujuran dan keterbukaan menjadi pondasi circle pertemanan yang sehat. Teman yang positif akan memberikan kritik yang positif dan membangun serta berbagi pengalaman dengan tulus. Memberi pengaruh yang baik dan menularkan vibe positif sehingga membentuk energi positif untuk kebaikan dan kemaslahatan.

     Mengingatkan saat teman terpengaruh oleh hal buruk dan mendukung ketika ia berusaha bangkit. Berusaha menjadi teman yang baik di saat suka maupun duka, dengan rasa empati dan kejujuran yang ada. Bisa menjadi pendengar yang baik di kala teman butuh cerita, dan saling mendoakan dengan hati terbuka.


Tinggalkan circle pertemanan yang toxic

     Ketika menemukan circle petemanan yang toxic, sebaiknya tinggalkan dan jauhi agar tidak terpengaruh lebih jauh ke dalamnya. Ya, seringkali kita tidak merasa bahwa teman itu toxic alias memberi pengaruh buruk. Seperti hal yang tidak kita suka, sehingga tidak lagi membuat nyaman saat berada di lingkarannya. Teman yang cenderung egois, selalu bossy dan suka flexing tentu membuat suasana silaturahmi jadi tak enak lagi. Circle semacam ini tidak membuat kita bertumbuh, namun memberikan pressure yang "membunuh". 

     Semakin lama rasanya semakin sempit circle pertemanan kita ya, dan ini hal yang wajar karena kehidupan terus berkembang sesuai kebutuhan masing-masing. Teman yang saling terhubung di dunia modern tidak harus bisa bertemu setiap saat. Yang terpenting adalah saling mendoakan dan mensupport dalam kebaikan. Namun harus tetap waspada ya dengan kalimat: teman makan teman, karena ternyata hal ini banyak juga kejadiannya. 


    Teman dan circle perteman itu termasuk portfolio kita. Dia bisa menjadi rekomendasi yang baik saat membutuhkannya. Dalam pekerjaan, misalnya, ketika klien memerlukan tim untuk mengerjakan project, setidaknya kita bisa menghubungi temen yang sudah dikenal baik kredibilitas dan profesionalitasnya. Satu lagi, teman bisa memberi warna dalam hidup kita. Nah, bagaimana circle pertemanan  kalian?


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ