Kamis, 29 Januari 2026

Rich Dad Poor Dad Belajar Finansial dari Kisah di Buku ini


    Menemukan buku ini lagi tanpa sengaja. Dulu cuma baca reviewnya. Setelah itu merasa patut dipahami lebih dalam, tentang pola pikir dan apa yang diajarkan oleh orang kaya kepada anak mereka tentang uang, yang tidak diajarkan oleh orang miskin dan kelas menengah. 

By Nur Ida Zed

                                                                Foto: dok Gramedia

      Buku best seller karya Rober T. Kiyosaki ini rasanya tak pernah lekang dimakan zaman. Sejak tahun diterbitkan pertama dulu hingga saat ini sepertinya tetap relevan untuk dibaca dan dimengerti. Buat para orang tua, baik ayah maupun ibu seperti saya rasanya layak agar bisa membuka wawasan tentang cara pandang kepada seorang anak, termasuk Gen Z mengenai uang dan finasial buat dirinya. Karena mengungkap bagaimana seorang anak memahami arah didikan dari panutan mengenai cara pandang tentang uang untuk masa depannya dari sosok ayah (baca: Dad)

     Dari judulnya saya sudah tertarik, karena mengemukakan tentang ayah, seorang laki-laki kepala keluarga yang menjadi nahkoda dari sebuah keluarga, termasuk dalam mendidik dan mengajarkan suri tauladan buat anak-anaknya. Rich Dad Poor Dad, ayah kaya ayah miskin memberikan dua paradigma yang berbeda dan bertentangan satu dengan lainnya. Dua sisi yang bertolak belakang mengenai cara pandang tentang kehidupan dalam memaknai uang serta finansial yang didapat dari seorang anak sejak masa kecilnya. Ceritanya ketika itu anak mulai usia sembilan tahun, saat duduk di sekolah dasar sebagai pencarian dalam pembentukan jati dirinya.


Poor Dad-Ayah Miskin

     Adalah ayahnya sendiri yang selalu dekat dan menjadi  panutan setiap hari adalah "ayah miskin" yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan untuk mencapai kesuksesan dengan cara mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya. Ayah miskin yang pandai dan brillian, yang menomor satukan sekolah dengan angka-angka akademis yang tinggi agar kelak bisa mendapatkan gelar, kemudian diterima bekerja di tempat yang layak karena prestasi dan kepandaian. 

     Ayah ini seorang yang jenius. Di saat sekolah selalu mendapatkan juara, hingga lulus S1 dengan beasiswa, begitupun ketika lanjut S2 dan S3. Predikat summa cumlaude, dan diterima sebagai pengajar teladan di kampus ternama karena dedikasinya. 

     "Kamu harus mengutamakan pendidikan. Sekolah yang benar dan setinggi-tingginya di tempat yang bagus agar jadi manusia yang beruntung dan punya banyak uang, " begitu selalu yang diajarkan.  Hingga dia harus berhemat, dan belajar terus untuk mengejar semua cita-citanya. Ayah ini mengajarkan dedikasi, tanggung jawab dan segala prestasi agar punya masa depan cerah, dapat tempat kerja yang nyaman, serta bisa menjadi kebanggan keluarga. Sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Ayah Kaya, Rich Dad. 


Rich Dad Ayah Kaya

     Sementara ayah kaya adalah ayah teman sekolahnya, sahabat yang sudah dianggap sebagai ayah angkat karena begitu dekat. Ayah ini mengajarkan bahwa uang adalah alat yang bisa bekerja untuk kita. Ayah yang tidak pernah menyelesaikan kelas delapan, tapi berani melakukan hal yang berkenaan dengan finansial sehingga bisa mendapatkan banyak keuntungan dari uang. Sekolah bukan hanya tempat belajar tapi sarana yang memberikan pengalaman menyenangkan untuk bersoasialisasi, negosiasi dan networking sehingga membuat dia banyak memberikan solusi khususnya mengenai uang dan finansial. 

     Pada ayah ini selalu ada pertanyaan bagaimana caranya bisa mendapatkan semua keinginan agar otak dan pikiran selalu berkembang. 


Implementasi dan Pola Pikir

     Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama benar, mengajarkan tentang bagaimana menghargai ilmu dan implementasinya buat masa depan. Dalam menghargai uang, ayah miskin menjadikan sebagai tujuan, sementara ayah kaya memperlakukan sebagai alat untuk berkembang. Ayah kaya membeli mobil Roll Royce, karena baginya akan membuat senang sehingga orang melihatnya mampu membeli barang mewah dengan uangnya. Sedangkan ayah miskin tak perlu validasi lewat materi, tapi ditunjukkan dengan dedikasi. Sehingga tidak harus bermewah-mewah, karena dengan apa adanya takkan jadi banyak masalah. 

   Bersama ayah miskin dia hanya dibebani dengan belajar, sementara ayah kaya dibiarkan untuk selalu berkembang. Seperti ketika menginginkan sesuatu yang mahal, ayah miskin selalu berpesan: tak usah meraih hal yang kamu tak bisa menggapainya, nanti terlalu lelah. Nikmati semua yang ada di hadapanmu dengan rasa senang. Sementara ayah kaya, jika menginginkan sesuatu, maka usahakan sekuat dirimu. Raihlah. Pikirkan dan lakukan terus untuk mencapai tujuanmu sampai ada dalam genggaman sebagai sebuah pencapaian. Tak ada yang tak mungkin jika kita yakin.

     Ya. Buku ini memberikan paparan mengenai apa yang diajarkan orang kaya kepada anak mereka agar lebih kreatif dalam mengahasilkan uang dengan berbagai resiko dan tantangan. Setidaknya dengan menghancurkan mitos bahwa kita perlu memiliki penghasilan tinggi agar bisa kaya. Mengalahkan rasa takut dengan mengambil resiko cerdas, sebab banyak orang tidak pernah kaya karena takut gagal. Padahal kegagalan adalah bagian dari proses belajar keuangan.

     Intinya dalam buku ini tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi kaya, tapi berpikir seperti orang kaya yakni berani belajar, berinvestasi dan membangun aset jangka panjang. Aset dan liabilitas adalah kunci. Karena orang kaya fokus membeli aset untuk menghasilkan uang, bukan liabilitas yang tampak keren tapi menguras cash flow


     Lebih jauh, anak dalam cerita ini mendapatkan dua pandangan tentang uang dan bagaimana cara mengelola finasial dalam hidupnya untuk bekal di masa depannya. Mau jadi apa kelak, tergantung bagaimana memilih yang terbaik untuk dirinya dalam menghargai uang serta cara pandang soal materi. 

    Ayah kaya dan ayah miskin sama-sama mengajarkan bagaimana memperlakukan uang untuk tujuan hidup kita. Dan ini hendaknya diberikan pada anak sejak awal mengenal nilai uang dalam dirinya. Menurut saya, ketika keduanya dipadukan sesuai situasi dan kondisi, maka hidup akan terasa lebih sempurna. Berpendidikan dan kaya raya, siapa yang gak mau ya, haha. Namun apapun cara pandang tentang uang dan kekayaan, tergantung dilihat dari kacamata yang mana. Kalau saya menuntut ilmu itu sangat perlu, dan banyak uang untuk menjadi kaya memang sudah seharusnya. Ilmu dan kaya harus berjalan beriringan. Bagaimana menurut kamu? 


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Selasa, 20 Januari 2026

Membangun Energi di Tempat yang Menginspirasi


     Tempat kadang mampu memunculkan mood kita dalam bekerja dan berkarya. Membangun energi di tempat favorit yang menginspirasi terasa lebih enjoy dan selalu ingin kembali. 

By Nur Ida Zed

                                                         Foto: dokpri @nuidazed


     Adakah tempat favorit yang bisa membuat  nyaman sehingga dapat menambah semangat ketika dikunjungi? Selain di rumah sendiri, kadang saya perlu menyambangi tempat tertentu untuk menambah mood seperti di perpustakaan, cafe resto,  area taman bahkan di selasar masjid. Alasannya sederhana, saya kadang perlu suasana baru agar hidup tidak terasa monoton. Lebih berwarna dan membuat saya membuka wawasan serta pandangan untuk terus berfikir positif. 


Perpustakaan

     Dulu waktu masih kuliah di Yogya, saya juga sering menghabiskan waktu di perpustakaan kampus untuk sekedar membaca buku, mencari berbagai literasi dan mengerjakan tugas. Bahkan ketika sedang bete (baca: boring total), pergi ke perpus untuk sekedar menghabiskan waktu luang. Tak pernah bosan dengan suasananya yang tenang, di antara deretan buku-buku beraneka tema dan genre yang diinginkan. Seperti surga rasanya bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Teman saya sampai hafal, kalau dicari gak ada biasanya nongkrongnya di perpustakaan. 

     Entah, perpustakaan memang membuat saya senang. Apalagi kondisi saat ini yang hampir semua perpustakaan sudah dibuat modern hingga membuat pengunjungnya lebih nyaman. Mencari segala jenis buku apapun ada. Tinggal klik di layar, semua sudah tersedia. Jadi lebih gampang jika ingin menambah literasi untuk memperkaya tulisan dan karya lainnya. 

                                                      Foto: dokpri @dvine_adinda

     Di Jakarta, Perpustakaan Nasional di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat itu bagi saya cukup "mewah" dan memanjakan pengunjungnya. Tak hanya deretan buku yang super lengkap di setiap lantainya, tapi berbagai diorama, tempat diskusi, ruang presentasi dan museum juga ada.  Di beberapa sisi dilengkapi cafe yang menyediakan berbagai kudapan sehingga membuat betah berlama-lama di sana. Ada taman outdoor yang bisa dipakai ngobrol antar teman karena disediakan banyak kursi di antara tanaman dan kembang-kembang. Mungkin bahkan bisa dinamai sebagai destinasi wisata karena yang datang tidak hanya warga Jakarta saja, tapi juga para pelancong dari luar kota dan luar negeri yang ingin berkunjung dan menikmati manfaatnya. 

     Atau Perpustakaan Jakarta dan pusat dokumen sastra HB Yassin di TIM-Taman Ismail Marzuki,  Cikini yang dibuat lebih homey dengan deretan buku di rak-rak kayu serta beberapa kursi yang ditata memiliki view pemandangan kota karena berada di lantai empat sampai tujuh. Perpustakaan ini bahkan dilengkapi immersive studio, game centre dan ruang interaksi sehingga lebih seru buat belajar. Lebih senangnya karena terbuka untuk umum dan gratis. 

     Perpustakaan memang menjadi tempat in charge energi yang baik menurut saya. Sejak jadi mahasiswa, Puan putri saya rupanya juga menyenangi perpustakaan sebagai salah satu comfort place manakala sendiri dan bareng teman. Seperti di saat menunggu pergantian jam kuliah selanjutnya yang kadang butuh waktu panjang. Di Perpus Universitas Indonesia yang dibangun artistik dan modern ini bahkan dilengkapi ruangan yang luas di lantai satu dengan sebutan "Kebun Apel", yang biasa dipergunakan para mahasiswa untuk belajar, mengerjakan tugas, menyelesaikan skripsi, tesis hingga mencari data dan memperkaya literasi karena disediakan deretan komputer bermerk Apple.


Cafe Resto

     Tidak hanya sebagai tempat makan, cafe resto kadang menjadi tempat yang asik buat saya mencari inspirasi dan mengerjakan tugas saat dikejar dead line. Sembari ketak-ketik menyelesaikan naskah atau tulisan, misalnya, makanan kesukaan yang dipesan sudah disediakan. Jadi mood kembali datang tanpa takut perut keroncongan. 

     Biasanya saya memilih cafe yang familier dengan suasana nyaman yang menyediakan menu favorit dan free wifi tanpa asap rokok. Penting bagi saya karena banyak cafe yang juga menyediakan ruang untuk para perokok yang kadang asapnya bisa menyelinap di ruang lain, dan menurut saya itu bisa merugikan bahkan membahayakan. 

    You Cafe yang menyediakan berbagai menu lezat yang pas buat menemani beraktivitas sering saya kunjungi selain beberapa cafe di mal. Dengan suasana unik yang didesain cantik menjadi tempat yang nyaman untuk mencari inspirasi, sekaligus pas buat ketemu klien, ketika harus presentasi. 



Area Taman 

     Kadang saya mengunjungi taman untuk membangun mood dan mencari inspirasi agar pikiran tetap segar. Taman kota  seperti Cibis Park di TB Simatupang, Jakarta Selatan kini sudah menjadi tempat favorit yang menyenangkan buat para kreator berkarya, berkreasi dan menuangkan imajinasi. 

     Suasanaya yang selalu segar karena banyak pepohonan hijau serta aneka tanaman dan bunga yang ditata asri itu memberikan nuansa tersendiri hingga mampu membuat mood bangkit lagi. Duduk-duduk di sana sembari mencari inspirasi atau sambil olah raga jalan santai bisa menambah energi positif. 


Selasar Masjid

     Selain itu masjid juga bisa membuat saya kembali menambah energi. Sembari menunggu waktu sholat, saya biasanya menggunakan momen itu untuk berdoa, bersyukur atas segala nikmat, menggali ide kecil yang kadang tak terlihat dengan membuat catatan agar mudah diingat. Selasar masjid sudah menjadi tempat yang akrab buat saya, karena dari kecil sering diajak Kakek mengaji di Masjid Besar Baitun Nur, di Blora, kota kelahiran saya. Menunggu waktu sholat sembari bermain atau baca buku cerita Kisah Para Nabi dan Rasul bersama teman-teman kecil saya, lalu sholat berjamaah dilanjut mengaji di sana hingga Isya. Di selasar masjid hati ini menjadi tenang dan pikiran bertambah sejuk. Ya. Keberadaan masjid memang tidak hanya untuk ibadah semata, tapi juga kegiatan yang positif dan bermanfaat. 

     Kini, di selasar Masjid Jami' Uhkuwah Islamiyah, Universitas Indonesia seringkali terlihat banyak mahasiswa dan pengunjung yang asik berselancar sembari menikmati pemandangan seputar Danau Kenanga karena dilengkapi banyak colokan juga. Beberapa orang tua seperti saya, saat libur kadang menunggu anaknya yang sedang berkegiatan di sana karena lebih nyaman dan strategis,  tidak perlu repot mencari tempat ibadah menjelang waktu sholat tiba. 


                                                                dokpri @nuridazed

     Yang paling mengesankan buat saya ketika dapat bersujud dan bermunajad di Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, di Mekkah saat beribadah umroh. Begitu damai dan tentramnya hati ini menginjakkan kaki di Baitullah. Langsung terasa begitu dekatnya kita pada Sang Pencipta, seolah recharge energi yang paling tinggi. Setiap saat terasa demikian dekat, seolah dalam pelukan erat ketika kita sedang bertawaduk pada Illahi Robbi. Saya bersimpuh penuh berserah diri. Apalagi di dua tempat yang suci ini kita bisa minum air zam-zam sesuka hati, sehingga selalu merasa rindu untuk kembali. Beribadah lagi, memperbaiki diri. 

    Ya. Adakah tempat yang bisa membangun energi dan menginspirasi buatmu? Jadikan sebagai penyemangat dalam menambah kemanfaatan buat diri, hati dan pikiran serta ibadahmu. 

     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ