Selasa, 07 April 2026

Teman Bikin Nyaman-Tentang Circle Pertemanan

 

     Semakin bertambah dewasa, circle pertemanan kian mengecil, itu biasa. Prioritas hidup berubah. Yang ada, teman bikin nyaman agar lebih bahagia. 

By Nur Ida Zed

                                                                  Foto: dokpri @nuridazed

      

     Untuk menjaga energi positif dan semangat dalam menjalani kehidupan ini, salah satu yang kita butuhkan adalah teman. Berada di antara teman-teman yang baik maka akan memberikan pengaruh yang baik, begitu juga sebaliknya. Kehadiran teman disaat susah maupun senang  akan bisa membawa suasana hati pada situasi yang diinginkan. Teman yang baik akan selalu ada di saat senang maupun susah. Dia bisa menjadi bagian dari support sistem yang berpengaruh terhadap perkembangan hidup seseorang,  bahkan kesehatan mentalnya. 

     Percaya atau tidak, teman juga dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Ini dampak dari orang-orang terdekat atau circle pertemanan yang secara sadar mengelilingi diri kita dengan individu yang saling mendukung, menjunjung, mengakui dan mengangkat kita. Sekecil apapun yang dilakukan sebagai bentuk apresiasi dari pertemanan yang ada. Seperti saat upload medsos, teman kita selalu ngelike  dan komentar, itu menjadi salah satu bentuk perhatiannya. 


     Begitu banyaknya teman dalam perjalanan kehidupan, dari kita kecil hingga saat ini, tentu memiliki cerita dan kesan tersendiri. Teman kecil yang menemani saat bermain, lalu teman sekolah waktu belajar bersama, teman ketika remaja, saat kuliah, nongkrong bikin tugas kemudian lingkungan teman kerja hingga berkeluarga dan sekarang ini, setelah menjadi ibu dari anak-anak yang sudah remaja pula. Tentu kalau dikumpulkan begitu banyak, termasuk circle pertemanan yang menjadi bagian dari hidup dan lingkungan sosial kita. 

     Circle yang merupakan lingkaran pertemanan kini agaknya semakin menyempit. Begitu banyak teman yang datang dan pergi karena sudah mempunyai kesibukan sendiri. Seiring berjalannya waktu, maka teman yang ada tinggal mereka yang saling membutuhkan dan memiliki kepentingan yang sama. Silaturahmi yang terjalin kadang sulit dikompromikan karena kesibukan yang berbeda. Ya. Seiring bertambahnya usia, kita memahami bahwa waktu dan energi kita terbatas. Ada prioritas yang harus didahulukan. Ada batasan dan ada kesadaran bahwa tidak setiap hubungan pertemanan perlu dipertahankan. Bukan berarti egois ya, tapi karena kita belajar menghargai diri sendiri, dan ingin memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri. 

     Alasan kenapa circle pertemanan kian kecil seiring dengan bertambahnya usia, memang karena prioritas yang berubah. Di usia semakin dewasa, ada yang lebih diprioritaskan seperti tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan dan kesehatan pribadi yang menyita waktu sehingga energi dan kesempatan untuk berkumpul menjadi berkurang bahkan terbatas. 

     Begitu juga perubahan lingkungan dan rutinitas yang tidak sama lagi, seperti tempat tinggal dan pekerjaan yang kemudian berbeda membuat interaksi berkurang secara alami. Kalau dulu mungkin sering ketemu karena tinggal di satu kompleks atau kantor yang sama, lalu kemudian pindah dan menjadi jauh. Untuk bisa berkumpul dan bertegur sapa nyaris tak lagi ada. 

     Lebih selektif karena kepentingan yang berbeda, terutama pada hal yang menyangkut kenyamanan dan pemikiran yang dewasa tanpa drama. Kalau dulu mungkin ketemu dan berinteraksi dengan teman karena ada yang akan dicurhatkan, masalah kantor, diskusi soal ketidak berdayaan perempuan, misalnya. Kini ingin memilih di lingkungan yang tanpa konflik serta segala hal yang nyaman dan damai. Teman-teman yang sefrekwensi, satu hobi dan visi misi untuk membahagiakan diri sendiri, demi kesehatan mental dan ketenangan batin kita. 

     Topik pembicaraan yang berbeda karena kini lebih banyak menyangkut soal perkembangan anak yang kian remaja serta bagaimana menjaga kesehatan dirinya. Circle arisan ibu-ibu yang bertemu karena waktu itu sama-sama pengurus komite, wali siswa yang putra-putrinya belajar di sekolah yang sama. Yang lebih banyak saling memahami dan memaklumi ketika tak lagi sempat menyapa. 

     Semua ini seperti tersaring secara alami saja, dari pertemanan yang dulu dangkal dan hanya haha hihi, kini lebih mendalam menyangkut bagaimana tetap memberikan relasi yang memiliki kedalaman emosi serta nilai hidup yang sejalan. Circle teman yang sama-sama berangkat ibadah umroh dulu, sehingga pembicaraannya juga seputar bagaimana agar selalu istiqomah dan kian menambah ibadah kita. 

    Semakin selektif untuk mempercayai orang lain karena pengalaman hidup yang telah membuat pemikiran kian dewasa dan matang dalam menilai dan menyikapi semua keadaan. 


    Circle pertemanan yang kian mengecil secara psikologi bukan berarti anti sosial, namun sebaliknya justru menandakan bahwa kita lebih menghargai kedalaman hubungan daripada keluasan semata. 

     Memilih sedikit teman yang tulus daripada banyak kenalan yang biasa-biasa. Fokus bergeser dari kuantitas menjadi kualitas karena memprioritaskan ketenangan dan kenyamanan untuk kebahagiaan dan kesehatan lahir dan batin di usia yang kian bertambah dan tak lagi muda. Sharing dalam berteman hanya untuk kebaikan dan hal yang positif saja.


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ