Minggu, 15 Maret 2026

Berbagi Inspirasi Positif Lewat Blog

     Aktivitas ngeblog mempunyai keseruan tersendiri dari dulu hingga sekarang. Selain untuk healing, berbagi inspirasi lewat blog akan memberi pengaruh positif dan menyenangkan. 

By Nur Ida Zed

                                                              Foto: dokpri @nuridazed

   Setiap kali selesai menuliskan sesuatu dan update di blog pribadi, jujur sampai sekarang ini saya merasakan kelegaan di hati. Seolah ada yang tercurah mengenai banyak hal yang ingin disampaikan lewat tulisan secara panjang lebar dari buah pikiran. Lalu akan memberi manfaat, entah sekecil apapun setelah membacanya. Karena di platform blog memang bisa lebih leluasa bertutur tanpa dibatasi durasi waktu dan tempat seperti platform lainnya. Hingga sepanjang apapun yang ingin disampaikan, dengan ngeblog semua bisa dilakukan. 

    Banyak tema blog yang seringkali ditemukan, seperti tentang gaya hidup, motivasi, edukasi, fiksi, kesehatan, parenting dan relationship. Ada juga Jalan-jalan, Jalan jajan, Makan-makan, Masak-masak dan semua yang berkaitan dengan hobi. Begitu pun mengenai hal sederhana dan sesimple curahan hati yang dibagikan setiap hari semacam diary


     Perkembangan blog yang bermula dari jurnal pribadi online pada saat itu, di tahun 1994 oleh Justin Hall, lalu memantikkan berbagai kreativitas dari banyak orang. Kemudian berkembang dan bertransformasi menjadi platform publikasi konten profesional sebagai salah satu sarana pemasaran digital yang krusial sebagai media yang berpengaruh saat ini. Kegiatan blogging yang dilakukan oleh para blogger untuk berkarya dan berekspresi dirasa menarik baik bagi para pemilik blog, pengunjung dan komunitas yang menaunginya. Sharing inspirasi positif yang disampaikan akan memberi energi positif pula bagi orang lain yang membacanya. 

     Seperti nama Raditya Dika dan Soleh Solihun, penulis yang juga komika terkenal yang memulai kreativitasnya lewat blog pribadi. Pengalaman pribadi, celetukan, kegelisahan serta pendapatnya mengenai banyak hal yang lagi viral membuat branding dan namanya menjulang. Kemudian dari blog dibuatlah buku, antara lain: Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, Marmut Merah Jambu, Koala Kumal dan lainnya yang best seller sehingga beberapa layak dibuat film yang berjaya pada masanya dan membuatnya kaya raya. Ya. Di luar negeri bahkan banyak blog yang kemudian dibuat program acara favorit pemirsa dengan rating tinggi.  


Era Para Blogger

     Saat berbalik di era sepuluh tahun lalu, ketika platform blog pernah berjaya, dan ngeblog menjadi hipe di berbagai kalangan, banyak event yang dibuat ramai dengan kegiatan ini. Begitu banyak komunitas blogger yang terus tumbuh, berkembang dan eksis dengan visi misi serta niche masing-masing. Setiap kali selalu ada momen secara berkala yang memberi wadah para blogger untuk saling silaturahmi, bertegur sapa dan berkembang bersama. Sehingga blog sudah menjadi bagian penting yang dapat memberikan warna bagi hiruk pikuk media sosial dengan banyaknya pengunjung yang saling berinteraksi lewat blogwalking

     Beberapa media mainstream bahkan pernah membuat event spektakuler untuk ajang para blogger yang memiliki laman di salah satu rubrik yang dibuat khusus untuk para blogger. Seperti Kompasiana, Kumparan dan yang lainnya. Tak pelak hal ini dapat berdampak baik pada para sponsor yang ingin meningkatkan performa produknya yang mengarah pada promosi dan industri mereka. Blog dan blogger menjadi salah satu ujung tombak "penyuara". 

     Namun seiring berjalannya waktu, agaknya konsep awal ini tidak lalu berlanjut karena banyak faktor, salah satunya mungkin dari sisi sponsor. Blog dirasa kurang efektif dibanding media sosial lain yang kemudian bertebaran dan muncul. Meski tetap saja, blog mempunyai nilai tambah dari sisi para blogger dan penikmat setianya. 


Blogging for Healing

     Begitupun buat saya, sepanjang ini blog menjadi bagian dari cara berekspresi dalam membuat karya kreatif. Blogging for healing, terpenting karena bisa menjadi sarana healing yang membuat hati dan pikiran lebih sehat, waras serta segar lewat ngeblog. Ditambah komunitas blogger yang memberi support dengan blogwalking dan lainnya. 

     Berbagai bentuk literasi dari buah pikiran yang saya tulis lewat blog agaknya dapat memberikan pengaruh positif. Terlihat ketika pengunjung sempat meninggalkan komentar yang membuat kian semangat dalam berbagi inspirasi ini. Seperti berada dalam sebuah perbincangan maya (baca: online) mengenai artikel yang saya tuliskan, hingga bisa membuat saya terkesan dan merasa begitu dekat dengan mereka, teman-teman ngeblog meski belum pernah bertemu muka. 

     Dan ini yang membuat saya seolah memberi energi untuk selalu berkarya dan berbagi kembali lewat platform blog. Pengaruh positif yang saya sampaikan akan menular dengan energi positif kepada orang lain, begitu seterusnya, sehingga akan memberikan dampak positif juga buat semua. Ya, dan ini merupakan tujuan ibadah yang ingin saya sampaikan dalam kebaikan. 


Semangat Berbagi Lewat Blog

     Tentang performa ngeblog yang kadang naik turun adalah hal biasa. Adanya berbagai tantangan yang datang baik dari dalam diri maupun dari luar harus dihadapi ketika ingin berbagi. Berawal dari ide sederhana yang berada di sekitar kita dan relate dengan kehidupan ini. 

   Kadang dari blog bisa muncul ide baru untuk saling mendukung di platform lain seperti instagram, tiktok serta youtube. Bahkan dari podcast saya: Podcast Morning Daughter di anchor.fm dan spotify yang mempunyai tagline: Bincang Ringan Dua Generasi, GenMom dan Gen Z bisa menjadi inspirasi saya untuk berbagi juga lewat blog pribadi. Saya percaya, ketika saling support dan saling dukung dalam kebaikan akan membuahkan kebaikan pula. 


     Kini ketika blog dianggap lesu dan kurang bergairah karena kehadiran platform lain, saya hanya menganggap pasang surut yang sedang ngetrend. Dan biasanya, trend dan kesenangan jaman akan selalu berulang. Setidaknya terus konsisten dengan ngeblog disaat masih ada waktu senggang. Buat saya, apapun saat bisa berbagi inspirasi positif untuk kebaikan maka akan memberikan energi positif juga bagi kehidupan kita sendiri. 


     Salam sehat dan selalu semangat.***NZ

Jumat, 06 Maret 2026

Jajanan Serba Ketan, Cerita dan Kenangan

     Aneka kue berbahan ketan mengingatkan kenangan kecil ketika di kampung halaman. Enak dan gurih yang selalu bikin nagih. 

By Nur Ida Zed

                                                              Foto dari berbagai sumber

     Marhaban ya Ramadan. Alhamdulillah kita kembali bertemu lagi dengan bulan suci Ramadan. Bulan istimewa penuh ampunan, penuh rahmah dan  berkah yang selalu ditunggu oleh semua umat muslim termasuk saya, untuk menjalankan ibadah wajib yakni puasa Ramadan sebulan penuh serta memperbanyak ibadah sunnahnya. Setiap momen di bulan ini sungguh selalu berarti, dari niat awal untuk berpuasa Ramadan, keseruan berbuka, tarawih di masjid atau mushola, sahur, subuhan, menunggu momen lailatul qodar hingga jelang lebaran Iedul Fitri. Tak pelak saya selalu merindukan suasana itu, karena banyak hal yang memberi hikmah dan kenangan, dari ketika kecil dulu hingga sekarang. 


     Salah satu momen seru adalah war takjil, alias berburu takjil yang menjadi  semacam tradisi hampir di seluruh tempat dengan menyediakan sajian untuk berbuka. Berbagai jenis makanan banyak dijual oleh para pedagang dadakan, bahkan yang tadinya "tersimpan" dan hampir hilang, tetiba muncul sehingga semua orang bisa mengenal dan menikmatinya. Seperti aneka jajanan jadul yang tadinya jarang ditemui dan kemudian ada, atau dalam versi lain yang dimodifikasi serta dijual di antara jajanan lain selain menu makanan untuk berbuka. Aneka kue buat "warming up" sebelum menikmati sajian utama ini salah satunya jajanan serba ketan. Saya masih ingat betul, jajanan kampung ( baca: tradisional) berbahan dasar beras ketan yang tetap enak seperti lupis, lemper, lepet, wajik, ketan tetel, tape ketan, sangkolun, kue ku, dan yang lainnya. 


    Ketan yang teksturnya lengket kenyal barangkali bisa dimaknai dengan melekatkan persaudaraan antar warga dan keluarga di bulan Ramadan ini. Karena sebenarnya tak hanya umat muslim saja yang bersuka, nonis alias non islam juga bergembira karena bisa ikut berjualan jajanan dan war takjil ini. Nah, kan di sini pun ada momen toleransinya. 


Wingko dan Madumongso

     Olahan berbahan dasar ketan memang banyak ditemukan buat jajanan (baca: kue-kue) dan sangat enak rasanya. Salah satu favorit yang biasa saya beli adalah wingko. Berbahan tepung ketan, parutan kelapa muda dan gula yang diolah, diadon lalu dipanggang agar terasa sensasi harum gosongnya. Kadang ditambah dengan irisan nangka agar lebih lezat rasanya, atau tambahan  yang lainnya.

     Wingko ini sebenarnya makanan khas dari Semarang-Jawa Tengah, yang terkenal dengan nama: Wingko Babat. Tapi banyak yang membuat dengan versi masing-masing daerah, termasuk di tempat saya. Semua keluarga pada tahu saya suka jajanan ini. Sampai-sampai di setiap acara ketemuan mereka selalu membawakan untuk saya. Senangnya kedatangan saya ditunggu untuk bisa mencicipi jajanan ini karena sering dibuat sendiri. Wingko yang agak tebal dengan paduan ketan dan kelapa berimbang membuat saya seolah ketagihan. Hmm..saya suka yang rasa original.


     Cerita madumongso lain lagi. Ini juga berbahan dasar ketan, yakni tape ketan hitam, kelapa parut dan gula aren serta santan yang diolah dengan diaduk dan dipanaskan sampai berjam-jam hingga kering mengental dan bisa dicetak lalu dibungkus dengan kertas minyak warna-warni bahkan kadang diberi hiasan. 

     Madumongso ini mungkin semacam wajid kalau di daerah Jawa Barat( baca: Sunda) tapi lebih kalis sehingga teksturnya lembut gurih dan manis legit rasanya. Ini seperti jajanan wajib waktu kecil dulu untuk disimpan di toples dan dipajang bersama kue lebaran lain di meja tamu. 

     Di beberapa tempat madumongso juga menjadi hantaran menjelang lebaran, karena konon sebagai simbol manisnya hubungan kekeluargaan dan keakraban. Saya masih ingat, beberapa kerabat kadang mengirim hantaran madumongso yang sudah matang, diletakkan di mangkuk cantik dialasi daun pisang yang siap dibungkus sesuai selera kita. Mangkuk ini kemudian dikembalikan dan diisi makanan pula, ditambah angpau THR lebaran buat yang disuruh mengantarnya. Biasanya anak- anak yang menyampaikan salam sebelum mereka berangkat takbiran ke masjid dan mushola. Hal ini seperti sudah menjadi budaya saling sapa antar keluarga dan tetangga menjelang lebaran sembari menunggu acara gema takbir yang berkumandang. Serunya momen ini sungguh tak terlupakan, karena di Jakarta agaknya tak bisa saya temukan. 


Serabi Ketan Kesukaan Bapak

     Jajanan serba ketan memberikan banyak kenangan.  Termasuk juga serabi ketan yang selalu saya cicipi saat mudik ke Blora, Jawa Tengah ketika lebaran. Setiap pagi usai sholat subuh ada penjual serabi yang berjualan di beberapa tempat, seperti di dekat Alun-alun, Arumdalu dan Tirtonadi. Selain serabi di lapaknya juga menjual ketan. 

     "Serabi ketan pakai apa ini?" Tanya penjualnya, langganan sejak kami kecil dulu dan entah sudah generasi keberapa sekarang ini. Karena di sini ada beberapa pilihan yang bisa dijadikan toping atau campurannya. Yang original hanya dengan parutan kelapa muda, sementara ada yang ditambah sambel pecel khas Blora, enten-enten ( kelapa parut yang dicanpur sinca, cairan gula jawa), serundeng serta abon. 

     Setiap kali pulang selalu menyempatkan membeli serabi ketan ini untuk sarapan. Karena selain enak, jajanan ini mengingatkan pada Bapak yang juga menyukainya. Saat kecil dulu bahkan beliau sering membelikan beberapa bungkus untuk kami sepulang sholat subuh berjamaah di masjid. Lalu diletakkan di meja makan menemani teh dan kopi yang sudah ibu sediakan. Beliau meniknatinya sembari minum kopi pagi serta ngobrol hangat bareng kita tentang apa saja. Dan kini, saat kembali menikmati serabi ketan rasanya seperti makan bersama Bapak, kehangatan dan kasih sayangnya tetap terasa dan tak akan pernah lupa selamanya. Al- fatihah. 


     Ya. Berbagai jajanan jadul mungkin mempunyai cerita dan kenangan masing- masing bagi setiap orang, seperti saya. Tapi apapun itu, berharap berkahNya harus selalu ada. Sebab setiap cecap makanan kadang bisa menuang kisah begitu panjang buat penikmatnya kini, esok dan tahun-tahun mendatang. 


     Salam sehat dan selalu semangat.***